UMKM yang Tidak Bisa Menjadi Motor Pembangunan


Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, atau biasa disebut UMKM merupakan kelompok yang bisa dikatakan berjumlah besar dan tegar meskipun diterpa goncangan krisis ekonomi sejak kemerdekaan Indonesia. UMKM tumbuh dan berkembang di Indonesia sebagai salah satu pilihan untuk keluar dari keadaan ekonomi masyarakat yang semakin lama semakin menyedihkan juga akibat dari adanya globalisasi. Pada dasarnya dengan UMKM yang semakin banyak dan tersebar sebagian besar di Pulau Jawa, mereka seharusnya dapat menjadi motor pembangunan khususnya di bidang ekonomi negara Indonesia. Hal tersebut dikarenakan banyak masayarakat yang menggeluti bidang ini sebagai mata pencaharian mereka. UMKM dikatakan akan menjadi motor pembangunan di waktu dekat ini namun pada faktanya ternyata UMKM tidak pernah menjadi motor pembangunan Indonesia bahkan tidak menunjukkan integrasi yang spesifik atau bisa disebut jalan ditempat. Pemerintah sudah membuat berbagai kebijakan yang mana bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan UMKM menjadi suatu kelompok yang sejahtera bahkan dapat menjadi salah satu motor pembangunan negara, tetapi hal tersebut kiranya belum berhasil dan hingga sekarang UMKM hanya sekedar profesi masyarakat semata tetapi belum menyentuh pada pendapatan negara. Ada beberapa alasan yang dianggap menjadi hambatan UMKM menjadi salah satu motor  pembangunan negara.
Pertama, kebijakan yang dibuat pemerintah di dalam UMKM bersifat semu. Yang dimaksud semu adalah kebijakan pemerintah berada di dua sisi yang berlainan. Di satu sisi pemerintah ingin terus memajukan UMKM tapi di sisi lain pemerintah juga membuat kebijakan yang mematikan UMKM sendiri. Pada kenyataannya banyak kebijakan pemerintah yang pada dasarnya ingin melindungi usaha masyarakat, tetapi pemerintah memperbolehkan impor barang-barang luar negeri yang filternya tidak menyeluruh. Impor barang sendiri ternyata telah menyedot pemasaran UMKM sendiri sehingga masyarakat lokal kehilangan pasar. Hal ini menjadi dilema karena pemerintah tidak bisa begitu saja menghentikan pengadaan barang-barang dari luar. Tetapi juga menjadi dilema saat pemerintah tidak dapat membela usaha masyarakat yang lama-kelamaan menjadi ancaman terhadap kemajuan UMKM tersebut. Singkat kata, pemerintah memang telah mencanangkan agar UMKM dijadikan motor pembangunan kelak, namun pemerintah sendiri yang memunculkan hambatan internal sehingga UMKM sulit terus berkembang dan naik ke tingkatan yang lebih sempurna. Pada titik yang lain, pemerintah meskipun telah membuat berbagai tindakan dan kebijakan tetapi pemerintah belum memberikan target pasar yang tetap dan sesuai bagi UMKM sehingga kelompok ini juga berada dalam kesulitan mangsa pasar meskipun untuk usaha-usaha kecil seperti angkringan, warung, salon, dsb memang sudah memiliki target tetap, tetapi untuk produksi-produksi lain masih kesulitan.
Kedua, untuk menjadi motor pembangunan, maka UMKM harus berdiri kokoh menghadapi segala hambatan yang ada di masa mendatang. Walaupun UMKM dinyatakan telah berhasil berdiri menghadapi krisis ekonomi yang ada, ternyata UMKM masih rentan dalam menghadapi saingan-saingannya. Ada beberapa hambatan yang sulit sekali dituntaskan secara menyeluruh oleh UMKM kebanyakan sehingga kelompok ini belum bisa berdiri kokoh. Masalah yang pertama adalah masalah permodalan. UMKM yang tumbuh biasanya terhambat pada kepemilikan modal dan bahan baku. Banyaknya UMKM yang muncul sebenarnya bisa dipertanyakan apakah mereka terus bertahan atau berhenti karena bangkrut dan kekurangan modal.  Yang kedua adalah persaingan usaha ketat antara perusahaan-perusahaan asing yang mana  dinilai memiliki banyak kelebihan produk dibandingkan hasil dari usaha sendiri. Yang ketiga adalah kurangnya teknisi, keahlian, pengetahuan, dan manajemen keuangan. Yang satu ini merupakan hambatan kongkrit yang hanya dapat diselesaikan dengan kerjasama internal kelompok dan kesadaran masing-masing individu sebagai stakeholder. Ketidakmampuan ini menjadi alasan mengapa UMKM sulit melangkah lebih maju lagi dan akibatnya akan sulit menjadi motor pembangunan.
Apabila masih dalam keadaan seperti ini UMKM tetap dipaksa dan dituntut menjadi salah satu motor pembangunan, maka akan muncul dampak yang membahayakan bagi pembangunan sendiri. UMKM akan dijadikan salah satu  tempat bergantung masyarakat yang tentu saja menjadi labil karena untuk mempertahankan keberadaan salah satu usaha ini membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Menurut hemat saya, akan lebih baik jika suatu saat nanti UMKM dijadikan motor pembangunan ketika usaha ini sudah stabil dan pemerintah dapat memberi pasar yang tetap terhadap usaha-usaha ini. Disisi lain pemerintah juga harus menyokong sumber daya yang ada di dalamnya dengan berbagai tindakan dan kebijakan sehingga terciptalah sebuah usaha milik rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat.

-Read More
• • •

Dinamika Anak Jalanan

Anak jalanan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, tetapi juga masih ada hubungan dengan keluarganya. Fenomena masalah anak jalanan bukan lagi menjadi sesuatu yang baru di Indonesia. Banyak sekali pengaruh yang menyebabkan munculnya anak jalanan seperti kemiskinan, kurangnya partisipasi sekolah, dan disfungsi keluarga. Anak jalanan sendiri disebut masalah sosial karena mereka seharusnya masih mendapat naungan dari orangtua, tetapi mereka telah hidup mandiri di jalanan.
Menjadi anak jalanan bukan hanya sebuah pilihan, tetapi juga ada yang berupa paksaan dari pihak tertentu. Sama dengan halnya anak-anak lain, anak jalanan ingin mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya dan menjalani  kehidupan yang biasa seperti sekolah dan bermain dengan banyak teman. Keterbatasanlah yang membuat mereka harus mencari sumber kehidupan di jalanan sehingga dibutuhkan layanan-layanan sosial yang mendorong mereka untuk bangkit dari keterpurukan.
Menjadi anak jalanan merupakan pilihan yang daimbil beberapa anak untuk sebuah kesenangan atau pelarian dari masalah yang mereka miliki. Keadaan ini juga dapat membuat disfungsi anak. Cara pandang yang mereka miliki harus segera diubah demi kebaikan mereka sendiri. Selain itu untuk masalah seperti ini selain harus diadakan pembimbingan juga harus ada pemberian ketrampilan dan penjelasan pada keluarganya untuk menjaga anak-anak tersebut serta memperhatikannya.Pemerintah telah membuat banyak kebijakan untuk menangani masalah anak jalanan ini, tetapi belum menemukan jalan keluar yang pas dikarenakan ketidak sesusaian kebijakan tersebut. Seperti yang telah diketahui jika pemerintah berkewajiban dalam melindungi hak-hak anak sehingga anak jalanan sendiri menjadi masalah sosial yang harus segera dituntaskan dengan berbagai upaya baik dari pemerintah sendiri maupun bantuan dari sektor swasta.



Orientasi Anak Jalanan
Anak jalanan hidup di jalanan dengan berbagai macam alasan. Banyak diantaranya yang merupakan orientasi pada ekonomi, dan sisanya adalah kesenangan. Orientasi anak jalanan yang mengacu pada masalah ekonomi yang mereka hadapi menjadi paksaan tersendiri sehingga mau tak mau mereka harus turun ke jalanan untuk mencari uang guna bertahan hidup. Hal ini perlu menjadi sorotan dan kewajiban masyarakat untuk peduli ketika anak-anak yang harusnya menerima pendidikan dan naungan dari orangtuanya malah ada di jalanan untuk menyambung hidupnya secara mandiri. Oleh karena itulah harus ada penyediaan layanan, perlindungan, dan pengembangan baru untuk membantu anak jalanan tersebut agar bisa memperbaiki kondisinya. Pelayanan tersebut juga sebaiknya dilakukan mengikuti daur hidup anak. Untuk masalah ekonomi sendiri dapat juga diberikan penyelesaian dengan memberikan bekal kemampuan dan ketrampilan agar mereka menjadi kreatif serta inovatif dalam membuat karya yang bisa dijadikan sebuah produksi.
Ketika pelayanan-pelayanan sosial yang tepat diberikan kepada anak jalanan, dengan cepat pula mereka akan mengubah orientasinya. Sama halnya dengan masalah mereka yang dapat terselesaikan, alasan mereka untuk turun ke jalanan juga akan berkurang. Dengan kesadaran yang tumbuh diantara anak-anak tersebut dapat meningkatkan minat dan mimpi akan masa depan sehingga mereka akan berusaha keras untuk mencapainya. Kebijakan pemerintah dalam memberikan perlindungan anak-anak juga menjadi satu jembatan yang kokoh disokong dengan sektor swasta yang bergerak dalam mengurusi anak-anak. Bantuan yang datang dapat menjadi semangat sendiri untuk anak jaanan dengan melanjutkan hidup di orientasi yang lebih baik. Ketika anak-anak jalanan telah mampu memenuhi kebutuhannya, maka mereka akan merubah tujuan mereka bukan hanya untuk mencari uang, tetapi juga mendapat pendidikan serta kemampuan lain sebagai anak-anak.


A.    Kesempatan Untuk Anak-anak Jalanan
Dalam garis besar, alternatif model penanganan anak jalanan mengarah kepada 4 jenis model yang dapat menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan pelayanan masalah anak-anak:
1.      Street-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di “jalan” dimana anak-anak jalanan biasa beroperasi. Tujuannya agar dapat menjangkau dan melayani anak di lingkungan terdekatnya, yaitu di jalan.
2.       Family-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang difokuskan pada pemberian bantuan sosial atau pemberdayaan keluarga sehingga dapat mencegah anak-anak agar tidak menjadi anak jalanan atau menarik anak jalanan kembali ke keluarganya.
3.      Institutional-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di lembaga (panti), baik secara sementara (menyiapkan reunifikasi dengan keluarganya) maupun permanen (terutama jika anak sudah tidak memiliki orang tua atau kerabat). Pendekatan ini juga mencakup tempat berlindung sementara (drop in), “Rumah Singgah” atau “open house” yang menyediakan fasilitas “panti dan asrama adaptasi” bagi anak jalanan.
4.      Community-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di sebuah komunitas. Melibatkan program-program community development untuk memberdayakan masyarakat atau penguatan kapasitas lembaga-lembaga sosial di masyarakat dengan menjalin networking melalui berbagai institusi baik lembaga pemerintahan maupun lembaga sosial masyarakat. Pendekatan ini juga mencakup Corporate Social Responsibility (tanggungjawab social perusahaan).
Ketelantaran tersebut yang banyak terjadi sebagian besar berasal dari kemiskinan dan pengangguran. Minimnya kesempatan kerja yang ada juga menjadi halangan terbesar khususnya di Indonesia yang penduduknya banyak. Tetapi bukan hanya kesempatan kerja yang dibutuhkan untuk menanggulangi ketelantaran ini. Untuk menanggulangi masalah anak jalanan sendiri bukan menjadi jawaban ketika pemerintah hanya menyediakan lapangan kerja. Penyelesaian yang utama mengingat kasus yang sedang ditangani adalah anak-anak, maka hal terpenting adalah kesempatan dalam mencapai pendidikan. Minimnya fasilitas bagi anak-anak yang kurang mampu tidak bisa sebaik anak-anak yang lainnya meskipun telah dibuat wajib belajar 9 tahun di Indonesia. Kesempatan inilah yang perlu diadakan sehingga hak-hak yang didapatkan anak-anak tersebut tidak terbatas lagi.
Kemampuan anak-anak jalanan harus ditingkatkan untuk usaha dalam menuntaskan kebutuhan ekonomi mereka. Ketika anak-anak tersebut turun ke jalan dan mencari uang, maka harus diadakan sebuah kesempatan untuk mereka dalam mencari uang. Panyelesaian yang dapat diambil adalah pemberian ketrampilan dan penyediaan tempat untuk mendistribusikannya. Tetapi tetap saja  yang utama adalah penyediaan kesempatan dibidang pendidikan.

B.     Adaptasi anak jalanan terhadap kesempatan-kesempatan baru
Dorongan yang harus dilakukan kepada anak-anak jalanan agar mereka bisa beradaptasi dengan kesempatan-kesempatan yang baru adalah penjelasan individual kepada anak-anak tersebut akan pentingnya pendidikan dan hak-hak mereka sebagai anak. Dorongan terkuat adalah untuk menggapai mimpi-mimpi mereka. Selain dorongan psikis, juga harus diiringi dengan dorongan fisik seperti pemberian fasilitas-fasilitas yang membuat mereka percaya diri dan semakin semangat dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.
Dengan adanya pandangan terhadap massa depan, maka anak-anak jalanan dapat berubah orientasinya untuk melakukan kegiatan seprti halnya anak-anak lain dan merubah pandangan mereka jika hidup di jalanan adalah satu-satunya penyelesaian masalah. Bimbingan pertama kali harus dilakukan agar pendekatan ke setiap anak berjalan optimal. Masih banyak kasus dimana anak-anak jalanan yang diberikan bimbingan tetapi di tengah jalan mereka tidak melanjutkannya karena metode pelayanan yang salah. Mereka kembali ke jalanan karena penyadarannya hanya bersifat sementara. Hal itulah yang harus diperbaiki dalam menyelesaikan masalah sosial ini. Dorongan yang mereka butuhkan sesungguhnya bimbingan mental dan fisik untuk tumbuh menjadi kuat dan bertanggungjawab.
-Read More
• • •

Ciri-ciri Beragama

Dalam beragama, banyak sekali  cara setiap manusia dalam menunaikannya. Hal tersebut tidak dapat terlepas dari kemampuan manusia tersebut dalam menguasai agama. Agama di dunia ini dianggap sebagai pegangan dalam hidup dan di dalamnya terdapat aturan-aturan serta ajaran yang tentu saja harus ditaati oleh pemeluknya. Menurut Carl Gustav Jung, agama juga berperan menghubungkan manusia dengan pengalaman kolektif umat manusia dan dengan demikian agama merupakan perangkat sejati yang dapat dipergunakan manusia untuk mencapai nilai-nilai yang mengatasi dirinya (Robert W Crapps, Gaya Hidup Beragama, 1993). Dari pemikiran Carl Gustav Jung dapat disimpulkan jika agama dibutuhkan juga oleh manusia dalam hablum-minannas dengan penerapannya menurut tiap individu yang juga berbeda.
Di sini akan dibahas tiga perbedaan cara beragama yang dibedakan menjadi cara beragama orang awam, intelektual, serta para wali. Klasifikasi ini didasari oleh pengetahuan dan cara mereka melaksanakan isi dari ibadah sendiri.

 
· Identifikasi ciri-ciri beragama orang awam:
       Orang awam dalam kontekas agama Islam adalah orang yang masih mengerjakan ibadah agama secara pemula, atau belum sepenuhnya mengerti islam. Seperti halnya anak-anak yang belum banyak tahu, orang awam dalam beragama kebanyakan menerima apa saja yang dikatakan oleh pihak pemuka agama dan mematuhi apa yang diajarkan oleh mereka. Padahal belum tentu semua yang diajarkan oleh para pemuka agama tersebut telah sesuai dengan syariat agama Islam.
       Orang awam dikarenakan ketidaktahuan tentang ilmu-ilmu yang ada. Mereka ketika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan tentang agama, mereka tidak tahu dengan Al Quran serta hadist yang esensinya dapat memecahkan pertanyaan tersebut sehingga mereka membutuhkan orang lain yang seperti pemuka agama yang dapat mengerti lebih tentang Al Quran dan hadist dalam usaha membantu mereka dalam beragama. Kesadaran orang awam terhadap diri mereka sendiri yang belum bisa beragama secara baik dan benar secara tidak langsung memunculkan sikap pasrah, taat, dan patuh terhadap aturan-aturan dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam keagamaan. Hal inilah yang apabila salah digunakan dapat menjorokkan orang awam ke jalan yang salah dalam beragama.
  
· Identifikasi ciri-ciri beragama intelektual
Kaum intelektual dalam beragama masih menggunakan pemikiran-pemikiran yang bersifat rasional. Pada dasarnya hal tersebut dapat meningkatkan kepercayaan akan adanya Tuhan dan segala penciptaan yang telah dijelaskan dalam Al Quran. Para intelektual menangapi dinamika-dinamika yang ada dalam kehidupan merupakan kehendak Tuhan dan ada aturan-aturan dalam pembuatannya. Pengetahuan yang mereka miliki digunakan untuk mencari informasi dan ilmu agama sehingga dapat diperoleh keabsahan. Berbeda dengan kaum awam, para intelektual akan memproses dulu apa yang disampaikan para pemuka agama dan menggunakan pemikiran mereka untuk menelaah Al Quran dan hadist sehingga tidak ada kepasrahan seperti halnya orang awam dalam menerima ssbuah ajaran Islam.
Banyak intelektual yang salah dalam menggunakan kepintarannya untuk menerapkan pembelajaran tentang agama jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat. Ketika ilmu pengetahuan membius para intelektual, maka tidak sedikit mereka menganggap jika Tuhan itu tidak ada karena semuanya mempunyai asal-muasal seolah-olah Tuhan tidak turun tangan dalam penciptaan semua yang ada di bumi ini. Oleh karena itulah kaumintelektual harus dilandasi dengan iman juga. Dinamika yang ada dalam kehidupan harusnya menjadi sesuatu yang memang ada diciptakan oleh Tuhan dan ada hubungan-hubungan tertentu yang tidak bisa begitu saja terpecahkan oleh ilmu pengetahuan umum semata tanpa pengetahuan agama.
 
· Identifikasi ciri-ciri beragama para wali
Cara beragama para wali cenderung pasrah total, mengingat tugas para wali adalah menyebarkan agama Islam. Dengan keteguhan hati yang sangat kuat, para wali sangat mementingkan agamanya daripada semuanya yang mereka punya. Mereka merasa mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dan harus diemban dalam kemajuan agama dan menyadarkan orang-orang akan kebenaran. Ciri beragama para wali adalah kuatnya tekad mereka dalam dakwah dan kerinduan yang besar dari mereka terhadap Tuhannya. Dalam ibadahnya, para wali sangat khusyu dan sangat menjaga setiap perbuatan. Cara beragama inilah yang patut dicontoh tetapi kurang sesuai dengan jaman globalisasi sekarang. Di jaman sekarang bukan hanya dibutuhkan agama saja yang kuat, tetapi juga pengetahuan yang menyokong. Hidup para wali selalu digunakan untuk kepentingan agama.

· Identifikassi beragama diri sendiri
Identifikasi cara beragama saya cenderung pada cara beragama intelektual. Bukan hanya menerima jadi dan menurut saja pada pemuka-pemuka agama, tetapi juga mencoba mencari jalan terbaik melalui Al Quran dan hadist sehingga ajaran-ajaran yang diajarkan pemuka agama memang sah dan beraturan. Hal tersebut dilandasi dengan banyaknya pemuka agama yang mengaku-ngaku telah pandai dalam agama tetapi mereka malah menggunakan jabatan mereka seenaknya sendiri, mereka bisa membuat aturan-aturan yang sekiranya tidak ada dalam hukum islam sendiri sehingga kita harus sangat berhati-hati. Karena pengetahuan adalah jembatan massa depan, alangkah baiknya jika manusia juga menggunakan ilmu pengetahuan dalam beragama. Oleh karena itulah saya mengindentifikasi cara beragama saya dengan cara beragama intelektual.

-Read More
• • •

Mahasiswa dan Peradaban


Jaman sudah semakin maju seiring dengan banyaknya jumlah mahasiswa di Indonesia ini. Namun begitu, hanya sebagian kecil dari mahasiswa tersebut yang peduli dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh kemajuan jaman. Entah di sengaja maupun tidak, jumlah yang meningkat tersebut malah menambah beban negara dalam pertumbuhannya. Hal itu dikarenakan mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi tidak bisa memenuhi kewajibannya dalam membangun negara, malah semakin bergantung kepada negara yang lambat laun melemah. Keadaan tersebut sebenarnya menjadi titik dimana perubahan di dalam diri mahasiswa harus cepat dipupuk, dan yang telah ada harus cepat dirombak sehingga kerusakan yang ditimbulkan tidak semakin parah.
            Pengabdian diri mahasiswa Indonesia dihitung dari tahun ke tahun semakin menurun. Dilihat dari keadaan yang ditampilkan di media-media, jumlah mahasiswa yang kritis menjadi kecil sekali dibandingkan dengan mahasiswa yang peduli dengan mode. Dengan semakin canggihnya teknologi dan pesatnya globalisasi, menutupi rasa peduli negara yang pada dasarnya ada di dalam setiap individu. Dampak tersebut yang akan terus menurun kepada anak cucu kita dimasa depan. Lalu bagaimana kita sebagai bibit unggul pemimpin bangsa yang berkewajiban membangun negara? Sedangkan tidak sedikit yang menomor-akhirkan kepentingan kerkewarganegaraan?

            Pada intinya adalah, mahasiswa harus mempunyai jiwa yang kompeten terhadap perubahan jaman, bukan hanya kompeten dalam kemajuan teknologi saja, tetapi bagaimana seorang mahasiswa itu dapat mengabdikan dirinya sebagai warga negara yang baik. Yang dibutuhkan disini bukanlah tuntutan untuk bertindak brutal dan tanpa aturan, tetapi lebih mengacu bagaimana seorang mahasiswa menyusun rencana kedepannya untuk mengabdi sebagi seorang yang berpendidikan dengan cita-cita yang tinggi. Bayangkan saja jika setiap mahasiswa mempunyai jiwa kompeten yang tinggi, maka mereka akan terus berjuang mencapai titik terbaik dimana semua permasalahan yang ada di negara ini dapat terselesaikan. Sehingga jika kita runtut kembali, maka akan ada pemimpin bangsa yang berdiri pada garis terdepan, yang mempunyai kekuatan dalam mengerjakan tugasnya. Itulah bayangan yang harus ditanamkan kepada mahasiswa jaman sekarang. Integritasnya tentu aja akan meningkat, kemudian masalah seperti perpecahan akan berkurang, bahkan habis di negara ini.
            Apakah makna dari seorang mahasiswa? Banyak yang mengatakan bahwa semangat yang dimiliki seorang mahasiswa akan luntur seiring dengan kelulusannya dari perguruan tinggi. Mereka dituntut bagian administrasi yang mendikte mereka sehingga apa yang ada pada diri mereka tidak bisa tersampaikan secara nyata. Hal tersebut juga disebut-sebut sebagai batasan dimana ketika mahasiswa itu memiliki keinginan yang menggebu-gebu, tetapi ketika mereka lulus keinginan itu berubah menjadi abu. Dari sinilah ada sebuah makna yang terselip di dalam kata mahasiswa, makna yang pada jaman sekarang sering dilupakan dan dianggap tidak ada. Tanyakan saja kepada mahasiswa yang ada sekarang, seberapa bergunanya mahasiswa jaman sekarng dalam menentukan negara dan arah pembangunannya. Bahkan akan menjadi nol karena peradabannya telah berbeda. Ketika jaman Soekarno dulu, lihatlah betapa pemuda itu menjadi kekuatan yang sangat kuat mendorong negara dari penjajahan. Kemudian pada jaman Soeharto dimana mahasiswa menjadi pembebas masyarakat dari keterpurukan. Lalu lihatlah pada jaman Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah ada mahasiswa yang bangun kemudian berdiri di garis depan untuk membebaskan Papua dari Freeport? Adakah yang berusaha membela sumberdaya yang diambil Chevron? Semua itu seakan hanya wacana belaka ketika mahasiswa sendiri hanya bisa sampai media sekitar untuk kritis membela negara. Sungguh tragis.
            Pengabdian mahasiswa mengingat kuatnya diri mahasiswa tersebut harus melebihi kuatnya DPR dan MPR yang kian lama kian bobrok. Bangunkan semangat jiwa muda yang tertutupi dengan globalisasi itu. Bayangkan saja ketika dokter-dokter telah terbentuk dari perguruan tinggi kemudian hanya ingin meraup uang dari masayarakat saja tanpa adanya pengabdian diri. Kita sebagai jiwa muda butuh sebuah semangat baru untuk berubah. Bukan hanya kevakuman yang semakin lama semakin tidak bisa diisi. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana seorang mahasiswa itu bisa sadar akan perannya dalam masyarakat. Semakin mereka bangun dan semangat dalam merubah lingkungannya maka mereka benar-benar menyandang nama seorang mahasiswa. Sebagai contoh adalah penyaluran suara masyarakat oleh mahasiswa. itu adalah sebuah cara yang sangat baik dalam pengabdian diri mahasiswa kepada lingkungannya. Masyarakat yang pada hakikatnya kesulitan dalam menyalurkan opini mereka terhadap pembangunan negara, dapat tersalurkan melalui sarana yang baik yaitu mahasiswa. peran mahasiswa disini adalah fasilitas negara, dimana pemerintah sangat membutuhkan mahasiswa untuk dapat menyatukan aspirasi warganya sehingga pemecahan masalah yang akan diambil bukannya membuat masalah baru tetapi menggabungkan unsur negara menjadi suatu kesatuan yang kuat.
            Peradaban Indonesia yang baru berada dalam masa pembangunan adalah lapangan bagi bibit muda untuk melakukan reformasi. Dimulai dengan langkah kecil di dalam sesama mahasiswa untuk saling bantu lambat laun akan menanamkan sifat saling peduli, bukan lagi sifat egois dan tidak mau kalah. Sebagai calon pemimpin bangsa, mahasiswa juga berkewajiban untuk menyadarkan sekelilingnya akan pentingnya filterisasi budaya yang masuk ke Indonesia. Dengan begitu, pembangunan yang dicita-citakan Soekarno pada tahun 1945 bukan lagi menjadi angan semu tetapi akan menjadi kenyataan. Oleh karena itu, bangkitkan para mahasiswa yang sadar akan sekelilingnya. Dimulai dari diri kita masing-masing akan merubah dunia. Peradaban bukan lagi menjadi sahabat kita ketika banyak kerusakan terjadi. Peradaban boleh maju asal kita juga harus mempertahankan jiwa kenegaraan kita sebagai mahasiswa yang cinta tanah air.
            Mahasiswa bisa dikatakan ujung tombak bangsa. Mereka dapat diasah sedemikian rupa sehingga menjadi senjata mematikan, dan dapat juga menjadi tumpul sehingga dapat dimatikan. Pengabdian diri kepada bangsa ini adalah upaya penajaman ujung tombak negara. Dengan demikian, orang lain tidak bisa menjajah kembali bangsa kita. Bayangkan jika memang Indonesia dapat mencapai kejayaannya pada 2013 seperti yang diramalkan oleh berbagai orang, tentu saja hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sebagai kita mahasiswa jika kita turut memperjuangkan kejayaan tersebut. Kembali dapat disimpulkan jika pengabdian yang mahasiswa lakukan terhadap masyarakat disekitarnya bukan menjadi kepentingan orang lain, tetapi juga menjadi kepuasan tersendiri untuk diri. Perubahan yang kita lakukan sedikit demi sedikit meskipun tidak dapat terlihat hasilnya secara langsung, menjadi masukan tertentu yang akan tertanam sebagai pondasi mencapai aktualisasi diri. Dampak yang dihasilkan oleh globalisasi menjadi minim karena dapat tersaring oleh sendirinya dengan pondasi tersebut. Lalu apa lagi alasan untuk tetap menunda sebuah kebangkitan mahasiswa?
            Mahasiswa dan peradaban, tidak akan pernah bisa dilepaskan. Peradaban tidak akan berubah tanpa adanya mahasiswa yang berjuang untuk pembangunan, dan mahasiswa tidak pernah ada tanpa adanya peradaban. Keduanya memiliki ikatan kuat. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa sebagai bagian dari peradaban harus semangat dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. Kita adalah anggota masyarakat itu sendiri. Tentu saja kita adalah peran utama dalam pembangunan masyarakat. Aktualisasikan peran mahasiswa dalam makna yang sesungguhnya, tetap bangkitkan semangat kenegaraan sebagai unsur terkuat bangsa untuk terus maju. Hidup mahasiswa Indonesia!

-Read More
• • •

Dilema Sanitasi Kali Code Yogyakarta


Yogyakarta telah lama dikenal sebagai provinsi yang penduduknya cukup maju dan berpendidikan. Selain itu tidak sedikit aturan yang dibuat pemerintah demi terciptanya slogan ‘Yogyakarta berhati nyaman’. Namun terkadang pemerintah sering melupakan daerah terjepit yang ada di tengah kota sehingga pembangunan seolah hanya berlangsung di dalam kota semata. Salah satu masalah yang hingga kini masih menjadi plobelatika di Yogyakarta adalah pemukiman di Kali Code.

            Kali Code merupakan sungai yang membentang di tengah-tengah kota Yogyakarta dan tepat dipinggirnya terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat. Bertahun-tahun lamanya penduduk sekitar Kali Code hidup dalam keadaan yang kumuh dan tidak layak. Beberapa diantaranya bahkan dijadikan tempat mesum oleh masyarakat. Sedangkan sampah yang ada dii sungai juga tidak terkendali banyaknya. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat terserang penyakit. Beberapa tahun lalu pemerintah baru mulai memperbaiki daerah ini dan mengubahnya dari tempat tinggal kumuh menjadi tempat tinggal layak huni. Namun hal itu sepertinya belum menjadi jawaban atas masalah Kali Code. Masih banyak masyarakat yang hidup tidak layak dan serba kesusahan. Kehidupan Kali Code ternyata bertambah parah seiring banyaknya pendatang baru ke daerah tersebut. Penduduk asli Kali Code pertama kalinya tidak bertempat tinggal di bibir sungai itu, tetapi masih berada di bagian atasnya sehingga ketika banjir tidak serta merta mereka semua ludes diterjang banjir. Namun yang terjadi setelah mulaubanyak pendatang yang tinggal di sana, mereka cenderung turun ke daerah yang lebih dekat dengan bibir sungai. Padahal dengan semakin dekatnya tempat tinggal mereka dengan sungai maka kebersihan mereka pun akan terganggu. Air sungai akan menjadi sumber aktivitas mereka sehari-hari sehingga dapat disimpulkan jika penggunaan air disana sangatlah berbahaya. Masalah ini akan tetap berlangsung selama habitus dan budaya mereka sudah nyaman untuk bertempat tinggal di Kali Code sehingga mereka enggan untuk pindah.

THESIS
Dr.Azrul Azwar, MPH (2000:4) mengatakan sanitasi merupakan cara pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan. Menurut WHC, sanitasi adalah pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang dapat menimbulkan akibat buruk terhadap kehidupan manusia, baik fisik maupun mental.

KONTEKSTUALISASI TEORI
Pemerintah Kota Yogyakarta pada dasarnya sangat peduli dengan kesehatan warga masyarakatnya tidak terkecuali. Namun jika berkaca pada daerah pinggiran Kali Code ini dapat dipastikan usaha pemerintah belum maksimal. Sanitasi yang buruk menjadi salah satu alasan kuat bahwa pemerintah belum berusaha dengan maskimal. Meskipun usaha menguatkan pinggiran sungai dengan bok agar mengurangi kerusakan bagi masyarakat ketika banjir dan memangun WC umum telah dilakukan, kesehatan masyarakat juga masih rentan. Jika dilihat lebih lanjut dapat dibandingkan saat di kabupaten-kabupaten besar seperti Sleman, pemerintah kecamatannya telah mencanangkan anggaran untuk jambanisasi per-rumah, namun sangat disayangkan jika dipinggiran Kali Code ini pemerintah hanya mengadakan WC umum. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwasanya penduduk sekitar Kali Code  masih terbebani oleh masalah sanitasi.
            Dari gambar diatas dapat dilihat bagaimana toilet seorang warga sudah rusak dikarenakan banjir. Gambar ini diambil pada hari Rabu, tanggal 26 Januari 2012 pukul 13.30 siang. Pada saat itu masyarakat yang berada di timur Kali Code dekat jembatan Sardjito sedang membangun sebuah WC umum. WC yang dibangun tersebut digunakan untuk satu RT yang mana dekat sekali dengan bibir sungai. Sedangkan di pemukiman sendiri tidak sedikit rumah warga yang keadaan WC’nya buruk, bahkan karena sering rusak diterjang banjir, mereka kemudian menyerah untuk memperbaikinya.Pada waktu yang sama terlihat beberapa warga sedang mandi di mata air dekat sungai yang keadaannya juga terbuka. Yang menarik adalah, banyak sekali ditemukan ternak unggas milik masyarakat yang tidak terawat dengan baik sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Rumah-rumah warga juga cenderung lembab dan sempit karena dekat dengan pembuangan akhir bangunan-bangunan yang lebih tinggi dari pemukiman warga Kali Code. Bahkan ketika penulis berjalan-jalan di sekitar daerah tersebut, tidak jarang melewati tempat pembuangan air yang baunya sangat menusuk hidung bercampur dengan bau dari unggas-unggas milik warga sekitar. Parahnya lagi, keadaan tersebut juga ditambah dengan infrastruktur yang membahayakan anak-anak disana, seperti pembatan sungai yang sudah banyak lepas, beberapa pinggiran jalan yang bahkan tidak ada batasnya, terlebih dengan kondisi jalan yang becek saat hujan. Permasalahan tersebut sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan masyarakat di sana.
            Beberapa warga yang penulis temui dan diwawancarai oleh teman penulis mengatakan bahwa ketika banjir datang maka penduduk daerah itu akan kesulitan. Mereka akan pindah sementara ke rumah yang berada di ketinggian yang tidak tercapai banjir dan tidak jarang merelakan barang-barang mereka dihanyutkan banjir. Untuk sanitasi di daerah tersebut memang mereka mengakui kekurangan. Pemerintah sepertinya juga kurang memperhatikan keadaan sanitasi di daerah tersebut karena dengan pembangunan WC umum maka pemerintah menganggapnya cukup. Namun kesadaran mereka memang sudah baik dalam mengelola sampah sehingga tidak ada lagi sampah yang dibuang di sungai. Hal lain yang masyarakat ceritakan adalah para pendatang baru yang menggusur tempat tinggal mereka lebih ke bawah lagi. Ketika ditanya mengapa mereka tidak pindah, maka jawabannya adalah mereka berada dalam keterbatasan ekonomi. Tanah-yang mereka tinggali di Kali Code bahkan tidak bersertifikat. Inilah yang membuat penulis berpikir bahwasanya kehidupan disini belum menyentuh pembangunan berkelanjutan, tetapi masih berada dalam tahap merangkak keberlanjutan.
            Di sisi yang lain, pemerintah sepertinya lebih memperhatikan keamanan sungai ini karena dapat dilihat jika pembangunan yang dilakukan lebih bersifat infrastruktur bangunan pinggir sungai. Bok-bok (pembatas sungai) disusun sedemikian rupa sehingga ketika banjir datang maka air tidak menggerus bagian bawah rumah warga. Pengadaan WC umum yang dilakukan pemerintah juga belum menyentuh bagaimana keberadaan Wc tersebut juga membuat masalah kebersihan yang baru. Penduduk yang menggunakan Wc bersama belum tentu dapat menjaga kebersihannya sehingga rasa tanggung jawab untuk keberadaan WC tersebut juga masih dalam pertanyaan. Yang kedua adalah pembangunan yang dilakukan pemerintah malah akan menimbulkan kelas lagi ketika masyarakat asli dihadapkan dengan pendatang baru yang mana tidak menjadi sorotan utama dari pemerintah sendiri. Mereka tidak mempertimbangkan akan keberlangsungan kehidupan masyarakat yang dalam tanda petik mudah mengalah terhadap kehidupan baru yang menggeset tananan lama mereka. Yang disayangkan adalah pendatang-pendatang tersebut juga tidak terlalu peduli dengan kesehatan masyarakat yang tempat tinggalnya berada di bawah mereka dengan membuang limbah rumah tangga mereka melewati rumah-rumah warga yang di bawahnya.
            Secara garis besar masalah ini memang tidak hanya menimbulkan dampak pada fisik masyarakat semata tetapi juga pada mental masyarakat. Masyarakat disana cenderung diam terhadap perlakuan pemerintah dan pendatang baru sehingga komunikasi yang seharusnya terjalin menjadi putus. Akibatnya adalah kebutuhan-kebutuhan yang menjadi hak mereka sebagai wara masyarakat Yogyakarta tidak diketahui kemana arahnya.

KESIMPULAN
Kesimpulan dari kasus Kali Code ini dapat dikategorikan menjadi 3 kesimpulan yaitu:
  • Bantuan pemerintah masih berkutat pada pembangunan infrastruktur semata, tetapi belumberfokus pada fasilitas khususnya sanitasi yang diperlukan oleh masyarakat. 
  • Kesadaran masyarakat sendiri masih kurang untuk memperbaiki kehidupan dan tempat tinggal mereka karena dihadapkan dengan keterbatasan ekonomi.
  • Pendatang baru di Kali Code tidak terlalu peduli dengan masyarakat asli Kali Code sehingga komunikasi antara keduanya tidak berjalan dengan baik.


Jika dihubungkan dengan pembangunan di daerah itu maka terlihat bagaimana sebuah peradaban baru datang menyingkirkan penduduk asli yang ada di suatu daerah. Penduduk asli yang ada ternyata tidak semuanya dapat beradaptasi bahkan bereaksi terhadap kedaan yang baru tersebut. Dapat dilihat bahwasanya   yang terjadi adalah penduduk asli memilih untuk mengalah dan berpindah ke tempat tinggal yang lebih buruk dan membahayakan dari sebelumnya. Padahal jika dihubungkan dengan teori pembangunan, sesungguhnya pembangunan tersebut membawa perubahan kearah yang lebih baik, namun yang terlihat di sini adalah sebaliknya. Pemerintah juga ternyata belum dapat memberikan yang terbaik bagi pembangunan masyarakatnya.
Kedua, reaksi yang terjadi daerah tersebut adalah masyarakat yang tidak peduli dengan kehidupan mereka. Masyarakat cenderung melakukan semua hal seadanya, tanpa upaya menjaga pola kehidupan yang lebih baik. Sepertinya keputusasaan menjadi alasan mereka untuk berhenti berusaha.
Oleh karena itu untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan tanpa meninggalkan aspek budaya yang ada, komunikasi antara pemerintah dan warganya harus tetap terjalin sempurna. Karena tanpa adanya komunikasi yang baik maka akan ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Sebenarnya pemerintah memang sudah baik dalam membangun daerahnya, namun terkadang kehidupan yang terselip di sebuah kota sering terlupakan karena sudah terbuai oleh kemajuan kota yang membanggakan.

REFERENSI
·           Soetomo. 2010. Masalah Sosial. Yogyakarta. Penerbit: Pustaka Pelajar
·           Winardi. 1989. Pengantar tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem. Bandung: Mandar Maju
diakses pada 30 Desember 2012

-Read More
• • •

Perpustakaan, Pilar Kebudayaan yang Terabaikan

Pernahkah anda berpikir tentang pentingnya makna sebuah ruangan yang dipenuhi buku dan arsip-arsip serta dokumentasi sejarah dalam pengembangan sebuah daerah? Tentu saja jawabannya adalah sangat penting. Terlebih jika dihadapkan pada urusan akademik, administrasi dan birokrasi maka ruangan tersebut bisa sangat ditunggu jam bukanya dan dihalang-halangi ketika akan tutup. Itulah perspektif masyarakat tentang perpustakaan yang cenderung diingat hanya saat dibutuhkan. Perpustakaan kini sudah beralih fungsi dari tempat menuntut ilmu menjadi tempat melengkapi tuntutan tugas, menjadi jarang dikunjungi bahkan terabaikan. Terkadang hal tersebut menyalahkan keadaan dimana perpustakaan ditampilkan tidak menarik dan membosankan, namun disisi lain justru ditoleransi karena adanya perkembangan teknologi yang memudahkan akses informasi tanpa harus ke perpustakaan.

Jika berbicara tentang perubahan jaman dan pergeseran pola perilaku masyarakat di dalamnya, kita akan berbicara tentang perubahan sosial. Kemajuan jaman menjadi faktor utama perubahan sosial, dimana struktur masyarakat hingga kebudayaannya menjadi terpengaruh dan semakin lama meninggalkan sejarahnya. Pergeseran ini secara langsung membuat fungsi masyarakat juga berubah begitu pula dengan dampaknya yang secara tidak langsung menggantungkan eksistensi perpustakaan di kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari pendidikan yang diterapkan pada anak-anak jaman sekarang yang mana sudah terdidik untuk malas membaca buku. Dibandingkan dengan jaman dulu dimana orangtua mereka mendorong anak-anaknya untuk ke perpustakaan dan membaca buku, sekarang fungsi orangtua bukan lagi sebagai pendorong mereka namun sebagai penyedia fasilitas semata. Tidak ada lagi semangat untuk membaca buku, yang ada adalah semangat untuk mencari cara tercepat dalam mencari informasi yaitu dengan akses internet. Dampaknya, perpustakaan menjadi tempat yang terakhir kali didatangi saat orang kepepet mencari informasi yang detail. Sehingga dapat dikatakan efek kemajuan teknologi ini terasa langsung pada fungsi dan keberadaan perpustakaan yang lama-kelamaan akan menjadi sebuah museum tempat keberadaan buku-buku dalam rak yang berdebu dan hanya dipandang dari jauh. Dan di masa mendatang orang-orang akan mengatakan itulah perpustakaan, yang pernah berjaya sebelum internet menguasai segalanya.

Budaya atau kebudayaan merupakan suatu unsur masyarakat di setiap daerah yang meliputi tata cara mereka dalam menjalani hidup, kesenian yang mereka miliki, hingga masuk pada aspek anake kuliner di daerah tersebut. Melihat secara global, Indonesia memiliki kebudayaan yang luar biasa dibandingkan negara-negara lainnya. Hal ini yang menyebabkan Indonesia sering dikunjungi untuk perihal studi budayanya. Salah satu pulau yang kaya dengan budaya adalah Pulau Jawa. Pulau ini melintang dengan pantai panjangnya, menyajikan kekayaan yang dipuji oleh kalangan internasional. Kekayaan Pulau Jawa ini dianggap berpusat di sebuah provindi yang terletak di selatan pulau, yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan menyandang gelar ‘istimewa’ maka memang benar daerahnya memiliki potensi yang memikat dibidang kebudayaan. Selain itu didukung oleh masyarakatnya yang juga berhati nyaman, Yogyakarta menjadi tempat kunjungan yang tak bisa dilewatkan ketika singgah ke Pulau Jawa. Keadaan yang seperti ini memang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik dalam mengembangkan kapasitas mereka. Namun yang terjadi belakangan ini justru perubahan kebudayaan yang salah, meninggalkan ciri khas dan moral yaing baik. Tak bisa dipungkiri lagi perubahan tersebut terjadi karena asimilasi kebudayaan asing yang datang ditambah dengan rasa tidak percaya diri terhadap kebudayaan sendiri yang tumbuh di diri kaum muda sehingga yang ditakutkan lama kelamaan kebudayaan Jawa akan menghilang dan masyarakat tak mampu mengidentifikasi identitas mereka.

Keberadaan dua hal yang berbeda namun saling berkaitan adalah perpustakaan dan kebudayaan. Keduanya merupakan bagian sejarah yang turut serta dalam perubahan masyarakat. Keduanya juga kini berada dalam ombang-ambing kemajuan jaman dan perubahan masyarakat yang tidak tau akan dibawa kemana. Sehingga dengan adanya keterikatan tersebut keduanya harus mampu saling mendukung demi eksistensinya. Serta ada sebuah makna dimana tanggung jawab sosial yang tergantung diantara kebudayaan dan perpustakaan adalah membawa masa depan masyarakat ke arah yang lebih baik tanpa menghilangkan apa yang disebut dengan kearifan lokal mereka.

Perpustakaan Sebagai Pilar Kebudayaan

Jika dituntut tentang apa itu perpustakaan dan hubungannya dengan kebudayaan maka jawabannya adalah perpustakaan sebagai pilar kebudayaan. Dikatakan sebagai pilar karena memang kebudayaan dapat terus bertahan salah satunya dengan adanya perpustakaan. Sama dengan Indonesia yang memiliki pilar-pilar untuk menyangganya agar tetap utuh dan tegak berdiri, maka kebudayaan membutuhkan perpustakaan sebagai sarana informasi dan penyedia kronologis sejarah kebudayaan. Sebagai sebuah pilar tentu saja perpustakaan juga harus dijaga keberadaannya dan dibuat sedemikian rupa agar terus dapat menyokong kebudayaan itu sendiri. Namun yang menjadi masalah adalah keberadaan perpustakaan yang kini hampir dilupakan masyarakat. Perpustakaan menjadi tempat membosankan dengan buku-buku bertumpuk yang kadang tidak tertata secara sistematis membuat pengunjung sulit mencari buku yang dibutuhkannya. Sehingga keadaan yang seperti ini harus dibenahi. Munculnya berbagai halangan yang menyebabkan tersingkirnya keberadaan perpustakaan memang harus dianggap sebagai tantangan sehingga nantinya akan dapat diselesaikan secara profesional.

Sebagai pilar yang berdiri tegak dibawah naungan kebudayaan, perpustakaan memiliki nilai tak terhingga dalam menyediakan pedoman pengembangan masyarakat. Dari sanalah akan muncul pendangan-pandangan baru akan keberadaan budaya yang semakin lama menghilang sehingga harus tetap dipertahankan. Selain itu yang terpenting adalah kekayaan sejarah yang diberikan oleh perpustakaan tidak bisa digantikan oleh hal-hal lain. Kertas-kertas usang kekuningan adalah bagian dari perpustakaan daerah yang tidak bisa diabaikan isinya. Foto-foto yang luntur juga merupakan bagian dari sejarah yang barangkali akan berubah maknanya secara mendalam jika diperbarui. Selain itu, perpustakaan hingga kini masih dilihat sebagi sosok orangtua yang hidup ratusan tahun lamanya beserta anak-anaknya yaitu masyarakat dan menjadi saksi mata atas semua perbuatan mereka. Sehingga disana adalah budaya, dimana tertulis di dalam kertas maupun yang tergambar di foto dan tersimpan rapi di dalam perpustakaan siap untuk dibaca dan dimaknai. Oleh karena itulah bagaimana kebudayaan dapat terus hidup dari perpustakaan diantara tuntutan untuk bertahan di permukaan masyarakat yang semakin kritis.


Di Yogyakarta sendiri yang memiliki catatan budaya yang luar biasa, setidaknya mampu menorehkan catatan sejarah yang tidak bisa dipandang sekedar sejarah. Hal tersebut tentunya berkaitan dengan perpustakaan daerahnya yang mengambil posisi sebagai lemari dokumen sejarah Yogyakarta dari jaman dulu hingga jaman modern ini. Terlebih sebagai kota yang menyandang gelar ‘Kota Pelajar’, keberadaan perpustakaan menjadi ikon yang sangat penting untuk mempertanggung jawabkannya. Tidak salah lagi ketika perpustakaan dijadikan pilar budaya di Yogyakarta karena di sanalah esensi budaya itu berasal. Jika dilihat lebih jauh, seseorang yang tertarik dengan kota ini akan mencari asal usulnya, menggali lebih dalam tentang apa saja kekayaan di dalamnya sehingga mereka membutuhkan apa itu perpustakaan. Dan yang menarik adalah, tidak semua perpustakaan memiliki buku yang lengkap tentang daerah lainnya sehingga mereka tentu saja akan mendatangi perpustakaan yang ada di daerah itu sendiri. Oleh karena itulah penyediaan perpustakaan dan pelayanannya harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga banyak menarik orang untuk datang ke sana baik sekedar ingin berkunjung ataupun belajar mendalam tentang Yogyakarta. Bukan hanya itu, di Kota Pelajar ini perpustakaan memang dipandang sebagai sumber utama kekayaan ilmu, tidak seperti toko buku yang sering terbatas isinya, tetapi perpustakaan dianggap yang serba tahu sehingga meskipun dengan perkembangan jaman yang semakin pesat, tempat ini masih tetap ada yang mengunjungi meskipun jumlahnya tidak sebanyak dulu.

Perpustakaan dan Kemajuan Teknologi

Banyak orang yang tidak menyadari meskipun dunia ini telah terisi oleh teknologi yang semakin maju, namun perpustaakan memiliki banyak unsur yang tidak bisa tergantikan oleh akses instan yang disediakan teknologi modern. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak terlepas dari kebutuhan akan pengetahuan baru yang terus berkembang seiring kemajuan jaman yang biasanya tercukupi oleh adanya internet dan berbagai perangkat teknologi. Namun seringkali yang disajikan tak lebih dari informasi yang dangkal bahkan tidak valid. Adanya informasi yang salah dan menyesatkan di dunia internet sulit disaring karena setiap orang bebas mengutarakan opininya yang belum tentu benar. Hal ini tentu saja membahayakan jika tidak ada tindakan lanjut dari kaum akademis maupun pihak intelektual lainnya sehingga mereka cenderung kurang percaya dengan referensi internet daripada perpustakaan kecuali untuk jurnal dan e-book yang beredar di dunia maya. Banyak. ilmu yang dapat diperoleh dari perpustakaan yang tentu saja lebih bisa dijadikan referensi karena akan ada penyaringan yang lebih ketat sehingga pada keadaan ini perpustakaan menjadi tidak bisa digantikan oleh pemberi informasi lainnya.

Perpustakaan memiliki nuansa berbeda yang menawarkan kenyamanan dan ketenangan dibalik keberadaan tumpukan buku dan tempat membaca. Tidak bisa dihindarkan lagi jika keadaan seperti ini sulit di dapatkan di tempat lain. Banyak orang yang tertarik datang ke perpustakaan karena sense yang berbeda ketika masuk ke dalamnya , baik itu tentang aroma buku, pemandangan yang khas dari susunan buku di rak, hingga elemen-elemen lain yang berbeda dari satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya. Disinilah perbedaan mendasar yang diusung oleh sebuah perpustakaan, yang tidak bisa diabaikan oleh masyarakat ketika masuk ke dalamnya. Sangat berbeda ketika mereka hanya duduk dan berkelana di dunia internet tanpa membuka lembar demi lembar kertas. Mereka akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan namun tidak menyerap lebih banyak ilmu selain itu. Hal ini memang seringkali dibutuhkan oleh orang-orang yang sedang mengerjakan sebuah tugas, tetapi tidak untuk kalangan yang tertarik untuk membaca banyak pengetahuan.kemajuan teknologi memang berguna dalam mempercepat akses, namun belum mampu membawa sense dari akses itu sendiri.

Basis Kebudayaan untuk Perpustakaan

Karena antara kebudayaan dan perpustakaan memiliki keterikatan yang khas, maka jika ada proses pengembangan salah satunya maka hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menciptakan simbiosis mutualisme dimana kedua belah pihak akan diuntungkan dalam hasil proses tersebut. Lalu terbersit pertanyaan, akankah berhasil upaya simbiosis ini? Tentu saja jawabannya adalah ya, dengan syarat upaya yang dilakukan adalah benar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan pemanfaatan keterkaitan antara perpustakaan dengan kebudayaan diantaranya:

1. Kedudukan budaya dan perpustakaan tidak terlalu jauh jaraknya sehingga keduanya mampu berinteraksi secara sempurna

Yang dimaksud dengan kedudukan adalah dimana keduanya saling terkait dan menjadi sebuah sistem dan saling mendorong. Tentu saja dengan berbagai komponen serta elemen penyusun lain yang melengkapi sistem ini seperti pelayanan dan akses terhadap budaya dan perpustakaan dapat melancarkan proses perkembangan keduanya. Kedudukan yang seimbang dan tidak berjarak jauh dikeduanya merupakan syarat penting agar dapat dapat berkembang, khususnya bagi pengembangan perpustakaan. Jika kebudayaan diposisikan terlalu jauh dari perpustakaan maka dampaknya adalah suatu hari salah satunya dapat menghilang dan menyusul satu lainnya. Hal ini dapat terjadi karena jarak tersebut menyebabkan fungsi saling dorong antara perpustakaan dengan kebudayaan tidak efisien. Disini keduanya yang memang terkait ketika perpustakaan dikembangkan berdasarkan kebudayaan sekitar maka daya tarik yang diberikan semakin meningkat.

Mengapa kedudukan kebudayaan penting dalam mengembangkan suatu perpustakaan daerah? Dihadapkan dengan pertanyaan tersebut mungkin sulit untuk menjawabnya jika tidak mengerti tentang dampak timbal balik yang ditimbulkan keduanya. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwasanya hubungan budaya dengan perpustakaan dapat diibaratkan ibu dan anak, walaupun telah terpisah jauh tetap saja memiliki ikatan yang kuat. Secara garis besar, budaya suatu daerah memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap perpustakaan. Bukan hanya sebagai tempat membaca dan menyimpan dokumen daerah, perpustakaan lebih dekat kepada marketing budaya itu sendiri. Dapat dibayangkan jika tidak ada perpustakaan di sebuah daerah, bagaimana seseorang dapat mengerti lebih dekat tentang potensi dan budaya di daerah itu. Tentu saja akan sulit dan menjadi tidak menarik, terlebih dengan waktu yang singkat untuk mengerti budaya sebuah daerah akan berat sekali khususnya jika harus turun ke lapangan. Oleh karena itulah kedudukan di keduanya memang tidak bisa seutuhnya diseimbangkan, namun setidaknya harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan yang harus disediakan agar proses ikatan tersebut dapat berjalan lancar.

2. Perpustakaan untuk inventarisasi Budaya Jawa

Dilihat dari kacamata Budaya Jawa yang sejak dulu kala memang lebih mendorong sejarah lewat dokumentasi tulisan-tulisan aksara, perpustakaan adalah tempat budaya itu tinggal. Meskipun sebagian besar peninggalan terdahulu ditempatkan di museum, tetapi untuk catatan-catatan daerah masih bisa ditemukan di perpustakaan. Dengan kata lain perpustakaan memiliki fungsi inventarisasi budaya setempat. Bedanya dengan museum adalah, ketika di museum yang banyak ditemukan peninggalan berupa barang yang mencerminkan budaya, sedangkan perpustakaan untuk penjelasnya secara tertulis. Kebiasaan masyarakat Jawa yang senang menulis menciptakan karya-karya sejarah yang luar biasa, dan dikemas dalam kronologi perkembangan kebudayaan itu sendiri dan ditempatkan dalam perpustakaan.

Sebagai inventarisasi budaya, akan banyak hal yang muncul di dalam perpustakaan sendiri. Masyarakat dapat membandingkan budaya di jaman dulu dengan jaman sekarang. menariknya, ketika hal ini terjadi maka tak jarang masyarakat melakukan adopsi kebudayaan lama sehingga walaupun muncul perubahan sosial, perubahan tersebut setidaknya memiliki nilai budaya lama. Dengan kata lain, perpustakaan sebagai alat inventaris yang berdaya guna tinggi harus mampu menggunakan basis budaya untuk perkembangan kedepannya. Hal ini mengingat budaya yang berkembang direkam oleh catatan di dalam perpustakaan, maka perpustakaan seharusnya senantiasa berada mendampingi budaya itu sendiri.

3. Adopsi fisik hingga akses pelayanan perpustakaan

Jika banyak daerah yang membuat perpustakaan dapat menyesuaikan diri dengan potensi lingkungannya seperti perpustakaan alam, perpustakaan keliling, hingga perpustakaan cyber, maka dalam mendorong minat baca masyarakatnya hal serupa dapat diimplementasikan pada pengembangan perpustakaan berbasis kebudayaan. Khususnya Budaya Jawa yang unik dan khas dapat dipadukan dengan unsur perpustakaan di dalamnya. Yogyakarta sebagai kota budaya dapat memanfaatkan nilai pariwisata di dalamnya sebagai unsur mengembangkan elemen perpustakaan. Misalkan dengan membawa perpustakaan menjadi destinasi wisata yang di masukkan dalam paket wisata. Tentu saja yang dibutuhkan adalah kerjasama pihak seperti dinas pariwisata dan pengelola pariwisata yang akan mengurus hal ini. Memasukkan perpustakaan dalam paket wisata memang harus dipertimbangkan dengan matang mengingat akan banyak sektor yang harus diperbaiki ketika akan mengimplementasikannya. Jika berbicara dampak negatifnya, kita akan melihat perpustakaan yang seolah-olah menjadi tempat tontonan, bukan sebagai perpustakaan yang disediakan untuk mengakses ilmu. Selain itu juga beresiko menjadi tempat komoditasi yang mana menimbulkan arus perdagangan di sekitarnya. Hal ini juga tidak baik jika terjadi karena akan mengganggu lingkungan perpustakaan itu sendiri. Namun dibalik sisi negatif ini akan banyak cara menanggulangi resiko yang muncul di dalamnya. Yang pertama adalah ketika perpustakaan dijadikan jalur wisata, maka wisatawan tertarik untuk mengerti lebih lanjut tentang Budaya Jawa yang dapat mereka dapatkan di perpustakaan. Kedua, program ini dapat memberikan insentif terhadap perpustakaan itu sendiri sehingga dapat menguntungkan secara ekonomi. Dan yang ketiga, dengan paket wisata ini maka hubungan antara kebudayaan dengan perpustakaan akan semakin terlihat. Dimana orang-orang dapat melengkapi tour mereka dengan informasi lengkap daerah wisata dari perpustakaan.

Untuk itu dibutuhkan adopsi fisik yang menunjang sebagai daya tarik perpustakaan. Banyak perpustakaan yang menawarkan daya tarik tersendiri lewat penampilannya. Seringkali perpustakaan dianggap membosankan karena dari luarnya seperti rumah biasa dan tidak memiliki ciri khas. Pengembangan secara fisik dapat dilakukan dengan merombak penampilan ini dengan esensi budaya Yogyakarta yang khas. Bukan berarti usaha yang dilakukan dengan mengubah bangunan, tetapi lebih pada penggunaan unsur budaya di dalamnya seperti menggunakan nuansa adat Jawa yang kental, penambahan asesoris tampilan sehingga terlihat lebih ‘Jawa’. Selain itu agar tidak melupakan nilai dasar perpustakaan, maka akan ada perbedaan dimana tempat baca perpustakaan dengan tempat kunjungan wisatawan agar tidak terjadi alih fungsi total perpustakaan menjadi tempat wisata.

Perpustakaan daerah harus terus dijaga keberadaannya karena dari sana kita mengerti bagaimana sebuah proses sejarah itu terjadi. Jika suatu saat sebuah daerah terancam hilang identitasnya, maka perpustakaan seharusnya mampu sebagai saksi identitas yang harus dipertahankan. Dengan kata lain, perpustakaan daerah merupakan organ dan daerah itu sendiri sebagai tubuhnya. Jika organ tersebut kehilangan fungsinya, maka tubuh akan menjadi sakit bahkan mati. Sedangkan unsur masyarakat yang makin lama terkikis oleh waktu adalah kebudayaan. Masyarakat tumbuh dan berkembang dengan budaya yang melekat di kehidupannya, meskipun tidak mereka sadari budaya itu menjadi kebisasaan yang mendarah daging. Posisi budaya yang seperti ini mengharuskannya untuk tetap terjaga dan tidak terpengaruh oleh budaya lain yang berdampak negatif. Jika budaya itu telah rusak maka sejarah yang akan dituliskannya juga akan buruk. Dari sinilah semuanya terikat dalam sebuah sistem kebudayaan.

Oleh karena itulah untuk menjaga sistem itu berjalan dengan baik maka basis budaya akan sangat berguna jika diterapkan dalam mengembangkan sebuah perpustakaan daerah. Selain ikatan kuat diantara keduanya yang menyebabkan timbulnya ketergantungan, jika perpustakaan daerah khususnya di Jawa dapat dijaga bersamaan dengan budayanya maka potensi untuk mengembangan daerah tersebut juga akan semakin kuat. Terlebih dihadapkan dengan berbagai faktor yang muncul di masa-masa sekarang, dimana krisis jati diri masyarakat khususnya masyarakat Jawa semakin menipis. Globalisasi menjadi tokoh utama dalam perubahan budaya, namun masyarakat yang menjadikan globalisasi sebagai aktor. Jika masyarakat menggunakan diri mereka sebagai aktor utama sebuah perubahan sosial dan budaya, tentu saja makna sebuah kebudayaan itu akan lestari. Sedangkan dari segi perpustakaan sebagai salah satu pilar kebudayaan Jawa, membutuhkan masyarakat sebagai komponen pelengkapnya. Disini masyarakat adalah penulis sejarah kebudayaan yang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan perpustakaan salah satu pengabadiannya.

Menggunakan budaya untuk mengembangkan sektor perpustakaan dan arsip daerah adalah salah satu cara menjaga eksistensi keduanya. Masih banyak cara yang dapat dilakukan dalam menjaga kedua hal yang berbeda namun saling berkaitan ini. Terkadang masyarakat sering lupa keberadaan mereka karena telah sibuk dengan kemajuan jaman sehingga keadaan ini harus segera diperbaiki dengan membawa budaya serta perpustakaan menjadi salah satu faktor pencetus perubahan sosial dang tak lepas dari kearifan lokal masyarakat.

(Artikel ini meraih juara harapan I, Lomba Menulis Artikel Kebudayaan BPAD Yogyakarta 2014)
-Read More
• • •

Budaya Jelek : MENCACAT (MENYACAT)


Yuk bahas sebentar mengenai budaya jelek yang pasti ada di sekitar kita!
Mencacat (menyacat)/ mencela: adalah tindakan mencari kejelekan orang lain; men’cacat’ bukan men’catat’; memperjelas sebuah buruk dari orang/benda lain; menyalahkan suatu hal; dan lain lain yang mendefinisikan apa itu MENCACAT
Budaya ini sangat disepelekan dan hampir tidak disadari dapat merusak moral bangsa.

Dampak tercacat: sakit hati kronis, tekanan darah tinggi, hipertensi, stress

Dampak pencacat: tinggi hati, perfeksionis, dijauhi orang Bedakan MENCACAT dengan:

Gosip: membicarakan orang lain, bisa baik atau buruk. Atau disebut ghibah

Kritik: memperbaiki suatu hal dengan memperlihatkan kekurangan yang harus diperbaiki

Mencocot: nama lain kasarnya dari ngomong pake mulut, senjata adu mulut :D

Mencacat (nyacat) terkadang sudah menjadi hobi seseorang dan bisa dilakukan dalam alam bawah sadar. Karena sudah menjadi hobi dan habit, maka orang yang suka mencacat tidak menyadari apa yang telah dia lakukan. Kalau perlu kita sadarkan mereka dengan ciuman di pipi pakai tangan (baca: tabok)

Pasti ada orang-orang disekeliling kita yang kerjaannya nyacat, dan parahnya kalau nyacat itu udah KELEWATAN plus nggak ada yang mau negur itu orang. Keadaan ini seringkali disebabkan oleh rasa perfeksionis yang terlalu tinggi, atau merasa diri sendiri yang paling baik (istilahnya: ujub) sehingga orang lain dianggap tidak mampu menyaingi mereka. Nyacat juga dilakukan para pejabat untuk menjatuhkan pejabat lainnya, dan berlaku untuk semua kasus cacat mencacat lain. Pokoknya orang lain pasti tidak ada yang boleh tampil bagus.

Parahnya, mencacat biasanya diiringi tindakan menyombongkan diri tanpa ngaca dirinya sendiri seperti apa.

Budaya mencacat sendiri bisa tumbuh dari lingkungan hidup, dimana keluarga ataupun orang-orang terdekat mereka terbiasa mencacat sehingga secara tidak langsung ikut menciptakan habit. Budaya ini amat sangat super banget nggak baik. Pertama, karena pada dasarnya manusia punya kebebasan menunjukkan dirinya (jati diri). Kedua, karena orang nggak ada yang sempurna jadi biarkan Tuhan yang menilai. Ketiga, nyakitin hati.

Secara pribadi, aku mencoba menjadi pribadi yang baik dengan menekan budaya-budaya sosial yang buruk, salah satunya nyacat. Kejadian yang mengubahku jadi mawas diri ketika waktu terus berlalu dan membagikan pelajarannya, pengamatan sebab-akibat kenapa ada orang yang disukai dan dibenci. Termasuk pada akhirnya menyesal karena masa lalu yang pernah dilakukan itu mempermalukan diri sendiri, dan tobat. Ingin merubah diri menjadi lebih baik.. (sambil nyetel lagu nasyid buat sountrack). Kemudian dari sana aku melihat sekeliling yang terdiri dari berbagai jenis dan mahluk bertabiat berbeda dengan kekurangan dan kelebihan mereka. Mencontoh yang tauladan dan mengkritik diri apakah kekurangan orang lain juga kita miliki.

Aku mulai berpikir saat ingin nyacat orang lain (walaupun pada dasarnya jarang nyacat). Mencoba lebih banyak menebarkan humor agar orang lain bisa tertawa, dan berdiam diri saat ada orang lain mulai serita nyacat-mencacat. Bahkan saat dirumah, jika ada keluarga yang sedang nyacat secara nggak sengaja aku mencoba mengingatkan. Pokoknya jadi orang yang lebih baik pada intinya :lol: . Pada intinya mencoba tidak mencela orang lain itu sulit, apalagi sebagai manusia kita banyak khilafnya jadi kadang mulut ini tidak bisa direm sehingga menyakiti orang lain.

But, overall bedakan mencacat dengan mengejek. Untuk mengejek dan berbicara ketus, aku masih melakukannya karena menurutku bukan bertujuan untuk mencari kesalahan orang. Berbicara sinis juga bukan mencacat, tapi mencacat biasanya sinis. 

Contohnya nyacat sebagai berikut :
“Eh tau nggak, dia beli baju baru mirip punyaku tapi warnanya norak gitu. Nggak cocok banget apalagi dia kan kulitnya item.

“Barang ini kenapa nggak rapi jahitannya padahal harganya mahal. Yang jual nggak niat jualan.

Aku sendiri merasa sulit untuk menyadarkan jika ada temanku yang mulai nyacat karena takut menyinggung perasaannya. Bahkan terkadang yang terjadi teman itu mencacat temannya yang suka mencacat, ironis sekali. So, aku biarkan hidup ini berputar dan biarkan orang lain yang bisa menyadarkan mereka.

Itulah sekilas tentang mencacat. Setidaknya kita tau apakah kita adalah seorang pencacat, yang menurutku adalah seorang penyandang cacat sosial. Jangan berlebihan menilai orang lain dengan menciptakan keburukan mereka dimata orang lain, semua itu dosa. Asek!

Hal-hal kecil yang tak sengaja kita ucapkan terhadap penampilan suatu hal terkadang tidak kita sadari itu adalah mencacat. Sebuah kata yang menurut kita kritik, terkadang juga mencacat. Jadi, memang benar pepatah mengatakan ‘mulutmu harimaumu’. Pujian memang sulit dilontarkan, dan aku salut terhadap teman-temanku yang mudah memuji orang karena aku masih sulit memuji. Semoga kita sebagai manusia memang diciptakan tidak ada yang sempurna, tapi setidaknya kita mencoba untuk sempurna tanpa mencacat usaha orang lain untuk menjadi sempurna ;)
-Read More
• • •