Padat Karya Sebagai Upaya Mengurangi Pengangguran dan Kemiskinan


A.    Latar Belakang
Bertahun-tahun masalah sosial di negara kita tidak kunjung habis. Mulai dari permasalahan tentang perebutan daerah kekuasaan, kemiskinan, korupsi, hingga busung lapar. Masalah-masalah tersebut menjadi beban negara yang tidak hanya berpihak kepada korban permasalahan tersebut, tetapi mempunyai dampak universal sehingga mau tak mau permasalahan tersebut harus dihilangkan. Diantara semua masalah sosial yang ada, masalah terbesar negara yang sudah turun temurun tidak bisa dihilangkan adalah kemiskinan. Menurut anggota Komisi II DPR, Rahadi Zakaria (2010), Tugas pemerintah sekarang adalah menekan kemiskinan dengan program-program pro rakyat. Tetapi hal tersebut belum dapat direalisasikan secara optimal dikarenakan keterbatasan pemerintah dalam mengontrol masyarakat dan sumber daya.
Banyak sekali faktor penyebab kemiskinan membuat masalah tersebut harus ditangani secara terus menerus. Keadaan yang dinilai miskin dari suatu daerah dengan daerah lain meskipun berbeda tetapi pemerintah memili kewajiban yang sama terhadap penanggulangannya. Sedangkan di Indonesia sendiri penyebab yang dominan dari kemiskinan adalah pegangguran. Banyaknya pengangguran di Indonesia telah menjadi salah satu masalah sosial yang sulit dihilangkan serta mempunyai andil besar terhadap pemecahan kasus kemiskinan di negara. Begitu pentingnya menumpas pengangguran sebagai upaya pertama yang diambil dalam mengurangi kemiskinan yang jumlahnya semakin lama semakin naik seiring dengan perkembangan jaman. Oleh karena itu pemerintah membuat berbagai kebijakan yang langsung maupun tidak langsung menuju pengurangan angka kemiskinan, salah satunya adalah Padat Karya.


B.     Rumusan Masalah
1.             Apakah peran Padat Karya dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinandapat terlaksana secara optimal?
2.             Bagaimana sikap masyarakat terhadap dibuatnya kebijakan Padat Karya sebagai upaya penekanan angka kemiskinan?

A.    Pengangguran dan Kemiskinan di Indonesia
Masalah sosial yang hingga kini masih menjadi momok mengerikan bagi pemerintah pusat adalah kemiskinan. Selain menjadi halangan bagi kesejahteraan rakyat, kemiskinan juga menggantungkan nama baik negara untuk menjadi negara maju. Angka kemiskinan yang masih tinggi membuat Indonesia berada di batas garis bawah negara berkembang, tidak jauh beda dari negara miskin. Tidak hanya itu, pandangan internasional juga dipengaruhi bagaimana sebuah negara dapat membebaskan diri dari kemiskinan sehingga masalah tersebut secara langsung juga dapat berpengaruh terhadap kerjasama antar negara. Oleh karena itulah kemiskinan harus segera dientaskan dari kehidupan masyarakat Indonesia untuk menjadi negara yang berkedudukan dimata negara lain.
Kemiskinan diakibatkan dari berbagai faktor yang kuat seperti pengangguran, harga rendah dari pekerjaan yang dilakukan, serta budaya miskin itu sendiri. Di sini faktor yang mendominasi adalah pengangguran. Pengangguran di Indonesia masih berada di taraf lebih dari 7%. Pengangguran tersebut diakibatkan oleh tingginya angkatan kerja tetapi tidak diimbangi oleh lapangan pekerjaan. Selain itu juga tuntutan akan tenaga-tenaga kerja terdidik membuat masyarakat yang berpendidikan rendah sulit mencari pekerjaan. Akibatnya masyarakat menjadi bekerja dengan gaji yang rendah, bahkan mereka sama sekali tidak bekerja. Hal itulah yang berdampak pada angka kemiskinan di negara. Pengangguran yang tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan akan diri mereka dan keluarga mereka sehingga menjadi tidak sejahtera.
Banyaknya kerugian yang diderita negara sebagai efek samping kemiskinan. Pendidikan menjadi modal yang tertinggal diakibatkan oleh kemiskinan yang merajalela menjadi kerugian terbesar yang dihadapi negara. Banyaknya masyarakat yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi biasanya terbatas pada biaya yang dimilikinya sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja. Hal inilah yang membuat angka pengangguran meningkat ketika masyarakat tersebut juga tidak bisa diserap oleh lapangan pekerjaan. Ketika orang-orang tersebut mempunyai keluarga, maka hal yang sama akan terjadi kembali ketika mereka terantuk pada batasan pendidikan anak-anak mereka. Selain itu dampak yang akan terjadi adalah lemahnya daya beli masyarakat yang akan membatasiruang gerak produksi dalam negeri. Sehingga jika digambarkan dengan rantai, permasalahan tersebut saling terkait dan lama-kelamaan jika tidak ditangani akan menjadi rantai yang berkarat.

B.     Padat Karya sebagai Upaya Pengurangan Kemiskinan
Pemerintah telah membuat berbagai kebijakan untuk mengatasi masalah kemiskinan yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan Padat Karya (Cash for Work). Padat Karya adalah pengolahan sumber daya manusia untuk bekerja di lapangan pekerjaan yang dibuat oleh pemerintah, hususnya pemerintah daerah. Sedangkan di bidang industri juga digunakan istilah yang sama untuk menyerap tenaga kerja dengan cara ini yaitu industri Padat Karya dan industri Padat Modal. Untuk industri Padat Modal lebih membesarkan biaya operasionalnya daripada industri Padat Karya yang lebih memperbanyak tenaga kerja. Di Indonesia sendiri pemerintah lebih menekankan kepada perusahaan untuk menggunakan tipe industri Padat Karya daripada Padat Modal agar sumber daya alam dapat terserap. Di lain pihak, perusahaan juga tidak mau menggaji terlalu banyak tenaga kerja karena hal itu bisa merugikan dan membuat bangkrut sehingga mereka lebih memilih menggunakan Padat Modal. Hal itu sebenarnya tidak merugikan orang-orang yang memiliki keahlian di suatu bidang dalam industri tersebut, tetapi hal itu sangat merugikan orang-orang dengan kapasitas kemampuan seadanya yang dalam tanda kutip merupakan sumber daya terbanyak yang diusahakan pemerintah untuk diterima perusahaan-perusahaan tersebut.
Tujuan utama pembuatan kebijakan ini adalah memberdayakan masyarakat yang menganggur sehingga mereka dapat menghidupi keluarganya. Kebijakan Padat Karya sebenarnya diperuntukkan kepada masyarakat yang tidak bisa bekerja di pedesaan maupun perkotaan dikarenakan ketidakmampuannya untuk berkompetisi mendapatkan pekerjaan, sehingga mereka mempunyai kemungkinan menganggur. Hal lain yang menyebabkan pengangguran karena sifat kebanyakan orang di Indonesia cenderung malas. Keadaan tersebut tidak diinginkan sehingga pemerintah menerapkan kebijakan ini meskipun sampai sekarang hanya diberlakukan oleh daerah-daerah tertentu dan dinilai belum dioptimalkan penerapannya oleh pemerintah itu sendiri.
Menurut Teguh Dartanto (2011), Padat Karya atau Cash for work diarahkan untuk pekerjaan publik, seperti pembangunan infrastruktur pedesaan, pembangunan sanitasi lingkungan, kegiatan penghijauan, sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. Penanggung jawab utama program ini adalah pemerintah daerah karena merekalah yang mengetahui kondisi dan kebutuhan di daerah masing-masing. Padat Karya mendapatkan bantuan finansial dari pemerintah pusat yang kemudian disalurkan ke pemerintah daerah yang membutuhkan. Pemerintah pusat hanya memberikan kebijakan-kebijakan dan peraturan umum sehingga untuk pengadaan Padat Karya itu sendiri diserahkan semuanya ke pemerintah daerah sesuai UU no. 13 tahun 2003 Bab II pasal 3 yaitu: Pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan  atas asas keterpaduan dengan malalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah (UU Ketenagakerjaan 2003). Di dalam UU tersebut disebutkan dimana negara mempunyai kewajiban untuk mensejahterakan rakyatnya dan membekali rakyatnya dengan kemampuan dalam bekerja. Di sana juga menjelaskan pasal-pasal yang berkaitan dengan pemberian upah serta berbagai hal yang menyangkut ketenagakerjaan dalam industri serta perusahaan. Pemerintah oleh karena itu mengadakan Padat Karya sebagai salah satu bagian penyejahteraan rakyat dan pemberdayaan sumber daya yang belum optimal, dimana masyarakat yang mengikutinya akan diberikan pelatihan dan kemampuan dasar untuk bekerja.

C.    Peran Padat Karya Dalam Mengurangi Pengangguran
Dalam perannya mengurangi pengangguran, Padat Karya bukanlah sebuah kegiatan yang permanen yang dibuat pemerintah untuk waktu selamanya. Tetapi Padat Karya sendiri menciptakan rasa kemandirian sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada orang lain ketika mereka tidak mempunyai penghasilan untuk hidup. Padat Karya yang berhasil adalah ketika ketrampilan yang disampaikan pihak pemateri dapat diterapkan dikehidupan masyarakat dan mengurangi tingkat pengangguran di daerah tersebut. Pada dasarnya pemerintah hanyalah memberikan pendidikan dasar untuk membuat sebuah lapangan pekerjaan sendiri, tetapi hal tersebut disosialisasikan menjadi pembelajaran bersama dan mereka diberi upah untuk belajar dan bekerja. Padat Karya cukup optimal dalam mengurusi masalah pengangguran di suatu daerah yang banyak dikarenakan minimnya lapangan kerja dari luar sebagai penampung para pengangguran.
Menurut Menteri Perindustrian,MS Hidayat (2011), industri Padat Karya merupakan salah satu bentuk antisipasi mengatasi ledakan angka pengangguran akibat moratorium TKI ke Arab Saudi. Pengadaan kebijakan Padat Karya sendiri dinilai cukup baik untuk menyalurkan tenaga kerja pengangguran. Banyaknya pengangguran yang turun ke beberapa pekerjaan yang tidak jelas seperti mengamen dan mengemis membuat mereka yang lainnya memilih bekerja ke luar negeri, ke beberapa negara seperti Arab dan Malaysia, dimana menjadi TKI adalah salah satu pilihan orang-orang yang sudah terpaksa tidak mendapatkan pekerjaan di negara sendiri secara layak. Parahnya, kepulangan mereka sering disertai kasus penyiksaan oleh majikan mereka karena mereka bekerja dengan tidak benar dan tanpa keahlian sebagai pembantu rumah tangga. Jadi Padat Karya dapat juga mengurangi kasus tersebut karena dalam program Padat Karya pemerintah selain membuat sebuah lapangan pekerjaan, pemerintah juga memberikan pelatihan ketrampilan. Diharapkan selain itu, anggaran dari pemerintah untuk program Padat Karya dapat meningkatkan penghasilan dalam negara. Mereka dapat terserap di berbagai sektor untuk pembangunan daerah. Terlebih banyak ketrampilan yang dapat dilakukan menambah kemandirian masyarakat. Pekerja diharapkan lebih bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri dan bekerja di negara tanpa harus ke luar negeri untuk mencari penghasilan.
Di sisi lain, pembangunan negara sendiri belum banyak kemajuannya. Di Indonesia sendiri tenaga kerja yang membludak disebabkan tidak adanya lapangan pekerjaan, berbeda dengan negara-negara lain seperti Afrika dan Amerika yang kekurangan tenaga kerja. Padat Karya  dulu lebih digencarkan pemerintah agar  sumber daya masyarakat yang menganggur dapat berkurang dan dapat menyalurkan kontribusi mereka dalam membangun negara di berbagai sektor, tetapi belakangan ini hilang. Sedangkan pada kenyataannya negara dapat memanfaatkan kelebihan tenaga kerja menjadi hal yang menguntungkan.
Pada realitasnya banyak kelompok dan individu-individu yang menyalah gunakan program Padat Karya. Pemerintah yang kurang dalam pengawasannya membuat banyak muncul kasus-kasus serong dalam upaya Padat Karya ini. Contohnya adalah ketika pekerja melakukan tradisi titip absen. Hal ini sering dilupakan oleh pihak yang mengadakan program tersebut karena banyak celah yang dihadapi untuk melakukan hal tercela tersebut. Individu-individu tidak menyadari rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan yang mereka kerjakan sehingga mereka pada dasaranya hanya menginginkan hasil yang instan saja. Banyak sekali kasus tersebut terjadi pada  program Padat Karya. Selain itu juga karena tidak adanya hukuman terhadap beberapa kasus penyelewengan yang dilakukan dalam skala kecil.

D.    Sikap Masyarakat Terhadap Kebijakan Padat Karya
Program Padat Karya belum disadari manfaatnya oleh masyarakat dikarenakan banyak program dari Padat Karya hanya dijalankan setengahnya saja. Selain tidak populernya program ini, juga dikarenakan pemerintah belakangan ini tidak mengsosialisasikan program Padat Karya ke masyarakat lagi. Selain itu anggapan masyarakat yang masih mengecilkan program dari pemerintah membuat program ini tidak berjalan secara mulus. Masyarakat hanya tahu dan dengar tentang Padat Karya pada dasaranya saja. Pandangan-pandangan yang buruk masih menempel pada setiap upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat yang dianggap hanya mengambil keuntungan dari setiap program yang dibuatnya. Hal tersebut juga tidak dapat seluruhnya disalahkan oleh pemerintah maupun masyarakat karena memang kurang adanya komunikasi antar pemerintah-masyarakat secara baik. Selain itu masyarakat memandang sebelah mata program ini karena menurut mereka program ini tidak permanen dan akan sulit dilakukan oleh mereka. Keadaan sulit itu dianggap mereka jawaban yang tepat ketika Padat karya ditawarkan sebagai solusi pengentasan diri dari kemiskinan. Hal itulah yang harus diperbaiki dalam membuat program Padat Karya ini. Banyak hal yang harus disadarkan kepada masyakarat akan pentingnya program Padat Karya ini sebagai sebuah kebijakan yang dapat mengentaskan masyarakat dari banyaknya pengangguran. Penyadaran tentang tanggung jawab juga harus dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi dampak buruk ketika mereka telah bisa mendapatkan pekerjaan secara layak. Jangan sampai di program Padat Karya ini berhasil, tetapi dalam penerapannya ada masalah yang muncul akibat kurang rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan.
Pentingnya melihat tentang kebijakan Padat Karya dikarenakan jaman yang sudah semakin maju dan angka perkembangan harus dinaikkan. Semakin banyak kasus pengangguran dikarenakan minimnya pendidikan dan kemampuan dalam ketrampilan juga sebuah masalah baru. Di sisi lain seiring dengan kemajuan zaman, semakin banyak orang yang mempunyai kepintaran tanpa keahlian sehingga menambahi daftar penduduk yang kurang pemberdayaan. Sebuah jalan yang baik ditempuh untuk memperbaiki masalah-masalah yang ada emudian dibuat sedemikian rupa seperti padat karya. Program ini dibuat bukan hanya untuk mengatsi pengangguran saja, tetapi juga bisa memupuk rasa kemandirian dan tanggung jawab pada hidup mereka sendiri. Diharap dengan adanya kebijakan ini kita dapat memposisikan diri kita sendiri untuk membantu negara dalam mengatasi permasalahan sosial baik dibidang pengangguran, kemiskinan maupun yang lainnya.

E.     Harapan Kedepan Padat Karya
Selain pengentasan terhadap kemiskinan, Padat Karya juga diharapkan bisa mengubah pola pikir masyarakat yang masih senang bergantung pada orang lain. Kemandirian yang dipupuk dalam membuat sebuah usaha adalah tujuan dibuatnya kebijakan ini. Sebagai contoh untuk ini adalah Amerika Serikat yang lebih banyak mendorong warganya untuk membuat lapangan usaha daripada menggunakan lapangan pekerjaan. Semua itu dilakukan sehingga ketika ada tenaga kerja yang belum terserap dapat dibantu oleh usaha lokal. Keadaan tersebut pernah terjadi ketika ada PHK besar-besaran di negara tersebut, bisa dibuktikan tidak lama kemudian perekonomian Amerika menjadi baik kembali. Itulah yang diharapkan bisa terjadi juga di Indonesia mengingat penduduk Indonesia yang banyak dan rawan globalisasi. Pembekalan terhadap masyarakat secara cepat maupun lambat akan terasa manfaatnya ketika mereka telah dihadapkan dengan pilihan pekerjaan.
Padat Karya yang dirintis pemerintah juga diharapkan akan berjalan terus dan tidak terkendala masalah dari masyarakat sendiri. Penyadaran yang dilakukan akan pentingnya Padat Karya tentu saja nantinya akan membuat masyarakat dapat percaya kepada kebijakan pemerintah yang lain. Perbaikan yang dilakukan ini secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kemajuan pendidikan yang selama ini masih dirasa terhambat oleh masalah ekonomi negara. Kemajuan yang akan membangun semuanya ketika pendidikan sudah bisa diakses segala penjuru nusantara. Hal lain yang akan diselesaikan dengan padat karya adalah kualitas kerja tenaga-tenaga kerja Indonesia yang telah terlatih oleh program-program Padat Karya yang ada. Itulah tujuan utama yang dilakukan pemerintah dalam membuat kebijakan ini. Selain  Paday Karya, pemerintah juga melakukan kebijakan lain yang sekiranya dapat bersama-sama mewujudkan negara yang makmur dan sejahtera.

Kesimpulan
            Kemiskinan yang merajalela di Indonesia sebenarnya dapat diatasi dengan baik ketika ada kerjasama dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat di dalamnya. Kekuatan Indonesia sebagai negara yang mempunyai kepribadian dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam menyatukan pihak-pihak tersebut sehingga tidak bisa dipungkiri lagi jika sebenarnya Indonesia dapat menjadi negara maju dan sejahtera. Hal tersebut tentu saja diiringi dengan pembangunan sektor-sektor lain seperti sosial dan politik. Pembangunan yang seimbang harus dipertahankan agar keseimbangan negara dapat terwujud secara total.
Kemiskinan yang dibahas di sini adalah akibat dari meledaknya pengangguran di negara. Hal tersebut bukanlah hal yang kecil ketika lapangan pekerjaan yang terbatas dituntut untuk menerima sekian banyak tenaga kerja. Oleh karena itulah pemerintah membuat berbagai upaya dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Salah satu upaya yang dapat dilanjutkan dan dioptimalkan adalah Padat Karya yang bisa menyerap tenaga kerja agar bisa lebih produktif dan mandiri. Upaya pemerintah dalam menangani pengangguran tersebut tentu saja  harus didukung oleh masyarakat luas agar dapat berjalan optimal. Kesadaran juga harus dipupuk agar kesinambungan dari kesejahteraan rakyat dapat terwujud karena tanpa adanya kesadaran dari tiap individu maka sulit sekali merubah tatanan yang telah tersusun di masyarakat. Kemiskinan sendiri menjadi tidak terkendali ketika tanggungjawab akan masa depan tidak dimiliki oleh warga negara yang ada. Gambaran tentang masa depan yang muncul akan terus mendorong masyarakat untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Pengetahuan akan kebijakan Padat Karya ini sekiranya harus lebih dilakukan kepada masyarakat agar mereka dapat berpartisipasi dalam membuat sebuah produksi. Hasil yang diharapkan dari padat karya diharap juga bisa memberikan sebuah lapangan pekerjaan baru yang dikembangkan secara mandiri dan tersusun. Masyarakat dituntut untuk tidak hanya berpikir jika mencari pekerjaan hanya bergantung pada perusahaan maupun lapangan pekerjaan milik pemerintah saja, melainkan harus berpikir untuk membuat lapangan usaha sendiri. Seperti yang dikatakan Wakil Presiden Yusuf Kalla bahwa sarjana-sarjana yang lulus tidak diperkenankan hanya mencari pekerjaan, melainkan juga harus membuat sebuah lapangan pekerjaan demi memajukan diri mereka dan masa depan negara. Hal ituah yang harus didasarkan kepada setiap warga negara untuk terus berjuang menjadi sosok yang mandiri, tidak hanya bergantung pada orang lain saja.

Untuk itu, sekiranya pemerintah telah berbuat banyak untuk negaranya dan dunia, maka baiknya warga negara berbuat baik pula terhadap pemerintah dan upayanya agar ada hubungan timbal balik yang menguntungkan semua pihak. Tidak lupa sektor swasta yang menanamkan modal di Indonesia lebih baik meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal dan tentu saja memberikan upah yang sesuai dengan pekerjaan para pekerja. Kerjasama antar ketiga sektor tersebut merupakan pintu gerbang Indonesia menjadi negara maju.
-Read More
• • •

Mengapa hidup itu memerlukan perubahan?


Mengapa hidup itu memerlukan perubahan? Karena mau tak mau kita harus berubah, menantang segala halangan, dan bertahan. Bukanlah sebuah ketidakmungkinan jika kehidupan ini akan berubah seperti kura-kura terbalik, mengerahkan seluruh tenaga agar dapat kembali ke posisi semula.
            Terkadang sebuah cita-cita yang tinggi terhadang oleh sebuah keputus asaan. Entah karena biaya, otak, bahkan karena tanggungan rasa. Dan kita tidak seharusnya berkorban untuk sesuatu yang tidak pantas dikorbankan. Dimana Tuhan telah menggariskan kehidupan umat manusia yang bergerak seperti roda berputar. Entah bagaimana manusia itu dapat bertahan agar dapat naik di posisi atas, dan yang telah bertahan di sana agar tidak melupakan bagian bawahnya.
            Dilema antara kasih sayang terhadap orang tua dan masa depan adalah perbandingan dua hal yang bersekat selaput tipis. Kadang kala seseorang harus mengorbankan salah satu diantaranya sebagai hal yang tidak dapat diambil kembali. Tetapi hal yang lain bahkan kadang menjadi sebuah kekecewaan  lain yang kadang menghantui. Suatu kebodohan jikalau seseorang itu melepaskan pendidikannya dikarenakan rasa sayang lain yang bukan datang untuk Tuhan dan keluarga, karena terkadang manusia itu buta karena sebuah rasa cinta.
            Sebagaimanapun hidup lampau dan yang akan datang, harus dihadapi secara berani. Percuma jika seseorang hanya hidup untuk sebuah rutinitas yang secara tidak sadar membuat mereka lumpuh. Masa lalu harus diubah sehingga lebih baik di masa depan, bukan untuk menjadi lebih buruk daripada masa lalu.
            Jangan melihat seberapa tinggi cita-citamu, tetapi seberapa mampu kau bisa meraihnya. Ketika seseorang harus berusaha mati-matian untuk bangun dari sebuah keterpurukan, semua itu ada gantinya. Balasannya pasti sebanding dengan usahanya. Setinggi apapun cita-cita yang digantungkan, bukan sebuah kata impossible yang harus digaris bawahi. Tetapi itulah hidup. Dimana yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Tapi bukan seperti itu adanya. Hanya karena dibutakan fakta, bukan berarti cita-cita menyentuh Eiffel kandas begitu saja. Yakinlah jika mimpimu pasti dapat kau ambil, dengan waktu. Bukan dengan uang belaka.
            Jangan biarkan dirimu menilai dirimu sendiri, tapi biarlah orang lain yang menilai dirimu. Bukan untuk kesombongan ataupun sesuatu hal yang dapat mengubah masa depan menjadi lebih baik. Untuk semua yang berkorban untuk masa depan, dan untuk semua yang yakin atas keajaiban. Berjalanlah, mencoba untuk berubah, tidak hanya rutinitas yang membosankan. Tidak hanya tumbuh di suatu tempat yang tidak tumbuh.

            Satu kata yang akan membuat perubahan, bukan banyak kata yang terbuang dan mengumbar janji akan masa depan. Dari masa lalu sampai masa depan, roda itu berputar dan berjalan, akan menemani hidup setiap orang. Yang bertahan akan terus diam ditempat, dan yang berjalan akan maju menuju yang lebih baik. Maka jangan takut untuk bermimpi, karena jika kau kuat kau akan membawa mimpi itu ke dunia nyata, tetapi jika kau lengah, cukup buka mata dan lupakan mimpi itu. Bukan uang tujuan utama kita, tetapi uang adalah sahabat untuk menghagai tujuan utama kita. Dan cita-cita tidak akan berhenti begitu saja untuk sekali menjadi tujuan utama kita.
-Read More
• • •

FAKTOR DOMINAN KETIDAKMAJUAN DAN KEGAGALAN INDONESIA UNTUK MENJADI SEBUAH NEGARA




1.   SDM banyak tetapi keahlian rendah.
2.      Kurangnya rasa cinta tanah air sehingga membuat warga negaranya melakukan sesuatu bukan berlandaskan cinta tanah air, melainkan rutinitas belaka.
3.      Masih banyaknya warga negara yang malas berubah, meski sudah ada niatan.
4.      Warga negara cenderung hanya bisa mencaci dan mencari kesalahan-kesalahan apa yang dilakukan pemerintah, jika mereka ditanya tentang solusinya, mereka tidak tahu apa-apa.
5.      Banyak warga negara memiliki rasa kurang percaya diri yang tinggi, selera tinggi, egois tinggi, tetapi harga diri yang rendah.
6.      Terlalu banyak anggota pemerintah yang tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya.
7.      Tidak ada kesatuan kepemerintahan, sehingga banyak konflik di dalamnya.
8.      KKN adalah tujuan utama warga negaranya, bukan kemakmuran negara.

9.      Kesenjangan ekonomi.
-Read More
• • •

CATATAN PERUBAHAN ASPEK SOSIAL, POLITIK, EKONOMI, SERTA KULTURAL DAERAH KOTAGEDE


Kotagede merupakan sebuah tempat istimewa bagian dari Yogyakarta. Di kotagede sendiri banyak sekali pengusaha perak sehingga daerah ini disebut dengan Kota Perak. Selain itu, peninggalan kerajaan majapahit masih dapat ditemukan di daerah ini, salah satunya adalah peninggalan kerajaan Mataram. Kotagede terkenal dengan orang-orangnya yang cenderung ramah dan senang bergotong royong. Kotagede merupakan sebuah daerah yang dipandang khusus, meskipun tidak terlalu besar daerahnyadan sangat dikenal di Yogyakarta. Kebanyakan warga masyarakat kotagede bekerja sebagai pengusaha dan pedagang. Suasana khas yang terlihat di daerah ini adalah dari pasarnya.

  • Dampak masa kepresidenan Soeharto sebelum Krisis Moneter terhadap sosial, politik, ekonomi, dan kultural
            Sama dengan daerah-daerah lain, masa pemerintahan Soeharto pada tahun  1994’an tidak begitu menimbulkan kerusuhan di daerah Kotagede. Rakyat masih terfasilitasi dengan baik. Pada saat itu banyak mahasiswa yang dimanjakan oleh fasilitas finansial dari Presiden Soeharto. Harga-harga pasar cenderung murah. Pada saat itu pula masih bisa dirasakan harga es krim yang hanya Rp 450,- serta buku-buku yang sangat murah. Warga Kotagede tidak begitu mengambil pusing dengan keadaan yang ada selama mereka masih bisa mengakses fasilitas serta keadaan masih bisa dipegang.
            Sosial masyarakat kotagede terjalin berbasiskan dengan kekeluargaan. Meskipun banyak sekali masalah-masalah ekonomi yang mulai timbul karena kerusuhan daerah luar Yogyakarta. Di Kotagede cenderung tidak memperhatikan strata yang berbeda. Tidak ada yang memperhatikan perbedaan antara kusir andong (kereta kuda) dan pengusaha toko karena mereka sering berinteraksi bersama. Hampir semua masyarakat kotagede mempunyai pemikiran yang sama tentang kebersamaan dan kekeluargaan meskipun mereka cederung tidak sering keluar dari daerah mereka untuk berinteraksi lebih dengan masyarakat luar
            Ketika Soeharto memerintah, tidak ada yang berani untuk melawannya. Di daerah kotadege sendiri tidak ada pemberontakan-pemberontakan politik. Tidak ada juga pawai partai-partai. Semua tunduk dan tidak berani macam-macam pada pemerintah. Meskipun begitu, karena memang di daerah kotagede tidak ada busaya memberontak, maka peraturan-peraturan yang ada tidak dilanggar.
            Budaya kejawen sangat melekat di kotagede. Mulai dari upacara tiap Jumat dan sesembahan di masjid Mataram, hingga daerah-daerah yang dipenuhi sesaji pada hari-hari tertentu. Melekatnya kebudayaan ini dikarenakan eratnya hubungan masyarakat dengan Keraton Yogyakarta. Karena itulah banyak sekali tempat-tempat yang diyakini sakral di kotagede.  Hubungan darah yang masih dekat juga membuat berbagai ritual kejawen tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Seolah menutup diri, masyarakat sekitar terkadang juga tidak menerima kemajuan yang sesuai dengan perkembangan jaman. Mereka kalangan tua sangat menjaga kebudayaan ini sehingga terkadang mereka menghindar dari luar secara berlebihan. Meski begitu, bukanlah sebuah keberatan yang dirasakan ketika mereka melakukan ritual tersebut, tetapi lebih pada rasa aman yang mereka dapatkan.
Pemerintahan Soeharto bisa saja tidak berpengaruh secara langsung, tetapi banyak manfaat yang dirasakan masyarakat khususnya dibidang ekonomi meskipun pada faktanya hutang negara membengkak. Selain itu banyak kebijakan yang menguntungkan rakyat. Yang lebih membanggakan lagi, Indonesia saat pemerintahan Soeharto menjadi Macan Asia.

  • Keadaan saat Krisis Moneter dan setelahnya
Adanya krisis moneter pada tahun 1997-1998 membuat keadaan memburuk saat harga naik melambung melewati batas kemampuan pembeli.perubahan harga Dollar membuat inflasi pemerintah.  Pekenonomian daerah Kotagede menjadi ktitis. Di daerah luar Yogyakarta banyak terjadi kerusuhan dan meminta Presiden Soeharto turun dari jabatan. Tetapi lain halnya dengan masyarakat Kotagede yang tetap tidak membuat kerusuhan.
Pengrajin perak banyak yang tidak bekerja karena tidak bisa menggaji pegawai-pegawainya. Akibatnya pengangguran melonjak tinggi. Banyak pengrajin perak yang beralih profesi menjadi tukang parkir. Hal tersebut juga mempengaruhi keadaan masyarakat yang menjadi terganggu dan kekurangan bahan makanan akibat harga naik lima kali lipat. Orang yang kehilangan pekerjaannya tidak bisa membiayai hidup keluarganya. Tidak lama kemudian terjadilah antisipasi masyarakat agar tidak banyak keluar rumah karena ditakutkan akan adanya keributan.
Beberapa tahun kemudian masyarakat Kotagede mulai membasakan diri dengan keadaannya. Kenaikan harga yang tinggi mulai dibiasakan di pasar, dan masyarakat bisa mengerjakan sesuatunya seperti sedaia kala. Banyak pengangguran yang mulai membuka usaha kecil-kevilan untuk mencari penghasilan. Meskipun begitu, yang paling menderita adalah pengrajin perak karena tidak banyak perak yang bisa dijual. Di lain pihak, mahsiswa telah berhasil menurunkan jabatan Presiden Soeharto untuk mencegah terjadinya kehancuran bangsa. Pengunduran diri Soeharto terjadi pada 21 Mei 1998 saat itulah kedudukannya digantikan oleh B. J. Habibie. Saat pergantian itu juga kotagede tidak menyoroti kerusuhan dan kolaps. Semua dilakukan dengan tenang dan teratur.
Pada tahun 2000, telah banyak perubahan yang terjadi di Kotagede. Perubahan jaman telah diterima masyarakat luas. Tidak ada penutupan tradisi yang dilakukan. Selain itu tradisi-tradisi yang sekiranya tidak begitu terikat kuat, mulai ditinggalkan. Mulai dari saat itulah kemajuan telah banyak terjadi di Kotagede. Masyarakat teah mulai membuka diri dan membaur dengan dunia luar. Meski begitu, Kotagede masih berupa daerah yang istimewa karena kebudayaannya dan ciri khasnya masih tetap dijaga dan merupakan kekayaan nusantara.

  • Analisis dan interpretasi tentang realitas yang terjadi di Kotagede
Realitas yang terjadi di kotagede sebagai dampak dari perubahan jaman seiring dengan berjalannya waktu. Dimana saat adanya pemerintahan yang berbeda dan kekacauan yang terbentuk di luar Yogyakarta terjadi. Dari masyarakat yang baik inilah terbentuk pula ketenangan daerah. Peraturan yang disusun untuk ditaati. Kotagede juga merupakan daerah berbudaya yang kuat, masih melekat kebudayaan jawa yang sama dengan Keraton Yogyakarta. Tetapi bisa diambil kesimpulan dari perubahan yang ada adalah bagian dari pergerakan sejarah yang maju seiring dengan waktu. Dari sanalah bisa diajarkan untuk lebih bersopan santun karena masyarakat kotagede memiliki rasa dan adab yang kuat.

Proses perubahan yang terjadi di kotagede sejatinya adalah salah satu dari banyaknya bagian sejarah yang tidak tercatat di buku sejarah negara. Tetapi dari sanalah bisa diambil kesimpulan jika sejarah itu bersifat terus menerus dan berkelanjutan. Perubahan yang terjadi serta kemajuan-kemajuan membuat sejarah menjadi pelajaran yang berharga untuk mengambil keputusan di masa depan.
-Read More
• • •

Idealisme Mahasiswa Fisip Membangun Indonesia?

Setiap kata itu mempunya arti yang kadang tak sesuai dengan maknanya.
Indonesia, sebuah negara yang seharusnya memilih untuk mengabadikan diri menjadi negara maritim, tetapi malah memilih menjadi negara agraris. Sebuah negara yang dimana aku harus membangunnya dengan baik, meski aku bukan presiden.

Fisipku berbeda dengan yang lain. Dimana mementingkan masyarakat dan negara. Bukan hanya sebuah cara untuk membuat robot, bukan hanya sebuah cara untuk membuat obat. Melainkan tanggung jawab yang diemban harus meliputi orang yang membuat semua itu.

Terlalu banyak cerita buruk akan negara ini. Entah bagaimana jika aku membuatnya berubah dalam kurun waktu singkat. Karena kata Pak Karno, Indonesia hanya butuh satu orang, bukan seribu. Dan jika aku menjadi yang satu itu, aku bukanlah presiden mungkin menterinya saja. Banyak orang tidak menyadari apa yang harusnya dilakukan kepada pemerintah selain mencaci maki dan mencari setiap jengkal kesalahan yang dilakukannya. Dimata warga negara, pemerintah hanya sebuah sampah yang tak layak memerintah. Tapi ingat saja, mereka hanya mencaci. Mengapa begitu bencinya warga negara terhadap pemerintah? Mungkin karena nama anggotanya yang sudah kotor? Ataukah memang warga Indonesia ini memang dilahirkan untuk mencaci? Disinilah awal permasalahan benang ruwet.

Fisip adalah sebuah tempat belajar, belajar untuk hidup, bertahan, dan maju. Tapi juga untuk gengsi, cari muka, cari nama, dan bergaya. Intinya Fisip itu portable. Tapi dibalik semua itu, adakah sebuah rasa yang merupakan tanggung jawab kita sebagai anggota dari Fisip? Ataukah hanya karena alasan di atas, kemudian kita melakoni pembelajaran ini sebagai rutinitas belaka? Hanya Tuhan yang tau.

Tetapi aku sebagai anggota Fisip tidak bisa hanya menggelar nama, seperti menggelar tikar. Tidak bisa melakukan untuk rutinitas tanpa makna. Tidak bisa tanggung jawab dan kabur begitu saja. Di sinilah semua itu akan dimulai, untuk membangun Indonesia. Mungkin hanya beberapa yang dapat dilakukan saat ini, mungkin sesuatu yang besar akan terjadi olehku di masa depan. Mungkin juga aku hanya menjadi seorang yang hanya menggunakan titel untuk memperpanjang nama. Mencari cumlaude, mencari uang, mencari sesuatu yang bisa dicari di sini. Satu diantara semua mahasiswa Fisip mungkin akan menjadi presiden, dan banyak diantaranya akan menjadi penghancur bangsa dan negara. Tapi satu itu lebih dari cukup, mengingat negara yang seperti ini adanya. Perubahan itu sulit dicapai. Tetapi di sini, itu semua dapat dilakukan, untuk mengubah negara dan memakmurkan rakyatnya. Bukan hanya membuat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin dimakan tanah, tapi untuk membuat semua strata yang bisa merasakan hidup, bisa merasakan mati yang tidak membuat kecewa.

Aku dan Fisipku akan membuat sebuah gempa bumi yang hebat untuk negara ini. Mungkin bukan sekarang, tapi beberapa tahun kedepan. Itu saja sebelum reformasi kedua terjadi. Karena hidup itu susah pada awalnya, hidup itu adalah pilihan. Dimana pilihan itu terkadang sebuah jalan yang akan menyesatkan. Ketika kau harapkan sebuah sesuatu baik, tetapi yang ada adalah sesuatu yang buruk, maka kau menyebutnya nasib buruk. Begitu sebaliknya kau akan menyebutnya nasib baik. Dan ketika kau menerima apa adanya, maka kau sebut itu takdir. Ingatlah kita dulu lahir sebagai pemenang, dan kita harus mati sebagai juara yang dikenang.

Tapi pada akhirnya kembali pada idealisme kita masing-masing sebagai warga Fisip. Apakah ingin mensejahterakan negara ataukah diri sendiri, jika bisa keduanya. Dan kembali sadar dengan nama Fisip yang berada di tangan dihadapkan dengan peluang yang dimiliki setiap orang tidak sama. Aku akan menempuh jalanku sendiri, kamu akan menempuh jalanmu sendiri, dan kita akan sampai ke tujuan yang tidak melulu merupakan tujuan awal kita. Sadar ataupun tidak sadar idealisme pasti tak selalu utuh, ada kalanya menipis perlahan, bahkan menghilang. Hanya saja, bagaimana kita berusaha menjadi orang terbaik diantara orang-orang baik lainnya.


Sekedar curhatan anak Fisip 2011.
-Read More
• • •