Perjalanan UU BPJS

Indonesia masih belum bisa mencapai kesejahteraan seutuhnya. Oleh karena itu dilatar belakangi permasalahan sosial yang tidak kunjung selesai-selesai, pemerintah Indonesia memutuskan untuk membuat sebuah undang-undang (UU) yang mengatur tentang kesejahteraan sosial. Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) rencananya akan dibentuk untuk melindungi rakyat miskin dan kurang mampu dengan landasan induk UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pada mulanya rancangan yang dibuat membongkar susunan badan penyelenggara yang ada dan menimbulkan pro-kontra di kalangan DPR. Permasalahan yang timbul dan sangat menganggu malahan berasal dari empat BUMN yang akan dirombak dalam rancangan UU BPJS. Menejemen yang dimaksud adalah PT Jamsostek, PT Askes, PT Taspen, dan PT Asabri yang akan dilebur ke BPJS. Dengan berjalannya waktu, perdebatan ini semakin banyak mengangkat macam-macam pendapat mulai dari resiko yang diambil hingga permasalahan yang akan muncul setelah diberlakukannya UU tersebut. Ditambah dengan amanat UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang tidak kunjung diberlakukan sehingga membuat Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) mengirimkan surat ke Presiden. Dalam acuannya, SJSN menjelaskan bahwa RUU BPJS setidaknya harus telah disahkan paling lambat tanggal 19 Oktober 2009 yang pada faktanya harus mengalami kemunduran.

Dalam pasal 3 UU SJSN No.40 Tahun 2004 disebutkan BPJS harus dibentuk berdasarkan UU dan badan penyelenggara jaminan yang ada juga dise but dengan BPJS. Badan penyelenggara yang dimaksud adalah Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN), Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Pasukan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI), dan Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES). Keempat komponen tersebut sulit digabungkan ketika terjadi perdebatan rancangan UU.

Menurut berbagai pihak, yang pertama-tama harus diperbaiki adalah UU SJSN yang menjadi pemenuhan kewajiban negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Mengapa UU SJSN dianggap bermasalh karena pengaplikasiannya yang dirasa kurang maksimal oleh pengurusnya. Sehingga anggapan yang beredar adalah RUU sulit disahkan karena induk dari RUU tersebut, yaitu UU SJSN, telah cacat. Memang hal itu tidak bisa seutuhnya dipungkiri mengingat sampai saat itu UU SJSN juga belum dijalankan secara optimal. Ada juga yang mengatakan jika peleburan empat menejemen menjadi satu BPJS akan mengkhawatirkan dana tunjangan hati tua sekitar 100 triliun rupiah.

Rapat yang dilakukan untuk membuat UU BPJS mencapai lebih dari 50 kali rapat. Seolah menjadi pergolakan yang sengit antara DPR dan pemerintahan membuat masyarakat banyak berpikir dan menebak-nebak apakah UU ini jadi untuk disahkan. Empat komponen BUMN yang berkepentingan sendiri-sendiri juga menambah keadaan menjadi panas karena mereka enggan untuk dirombak. Tidak lupa tambahan isu politik yan ada dalam RUU membuat beberapa pihak tidak setuju untuk mengesahkannya. Harusnya RUU BPJS ini telah disetujui untuk mejadi UU pada 2 tahun yang lalu yang akhirnya pada tanggal 28 Oktober 2011 disetujui oleh pemerintah dan DPR.

Pihak yang terlalu banyak mengulur waktu dalam pengesahan UU ini adalah DPR. Hal tersebut dikarenakan tidak terlihatnya keseriusan anggota DPR dalam mensejahterakan rakyat, mereka cenderung masih mementingkan urusan pribadinya. Padahal pada pemilu ketika itu anggota DPR telah berjanji untuk melayani masyarakat sebagaimana mestinya. Sedangkan dari masyarakat sendiri banyak yang meminta percepatan dalam pengesahan UU ini. Pelayanan yang diharapkan oleh masyarakat ditunggu-tunggu akhir keputusannya yang saat itu perdebatan di pemerintahan tidak kunjung selesai. Harapannya jika benar-benar disahkan, masyarakat tidak lagi merasa khawatir akan masalah sosial yang mereka hadapi meskipun pemerintah tidak membantu secara keseluruhan, tetapi bantuan yang akan mereka dapatkan tentunya hampir mencakup semuanya.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Abdul Latif Algaff mengkritik ketika ada salah satu DPR yang menjelaskan bahwa penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional tidak terikat dengan fiskal dan jika diterapkan dalam waktu 10 tahun akan mengakumulasi dana ribuan triliun rupiah. Dalam penjelasan DPR tersebut masih terkandung aspek-aspek politik. Hal yang dikatakan itu juga menjadi tidak pantas karena pada hakikatnya DPR harus membantu penegakan hukum dan pelayanan masyarakat, bukannya membuat kebijakan tersebut terdengar mengerikan. Menurutnya jika DPR masih mencampurkan sistem politik pada perdebatan maka akan memperburuk sitemnya.

Dalam UU BPJS ini ada beberapa kontradiksi yang terbuat. Yang pertama adalah guna mendapatkan jaminan dari pemerintah, maka masyarakat harus mendaftar dan mambayar iuran. Hal ini kebalikannya dengan kewajiban negara yang harusnya menjamin dan melayani rakyatnya. Dengan adanya UU ini tidak membela kaum fakir miskin dan dapat memberatkan para buruh pengusaha. Kedua, ditakutkan investor enggan untuk menanamkan modal di negara karena harus membayar upah buruh dan lebih baik untuk mengimpor produksinya daripada menambah beban. Ketiga, para pengusaha tidak setuju jika uang yang ada di Jamsostek digunakan untuk menutupi penyelenggaraan BPJS I pada tahun 2014. Pelaksanaannya juga diragukan karena pembentukan single identity number belum selesai dan belum tertib dan apabila Jamsostek belum dijalankan dengan benar, ditakutkan BPJS belum dapat dijalankan secara baik dan benar pula.

Sebagai hasil dari pengesahan UU BPJS berisi target-target utama yang nantinya harus dipenuhi. BPJS I akan mengatur tentang jaminan kesehatan. PT Askes direncanakan akan dijadikan badan hukum yang baru dan bertujuan sosial. Sedangkan BPJS II mengatur tentang kecelakaan kerja, kematian, pensiun, dan tunjangan hari tua yang pelaksanaannya kan mengkombinasikan dari Jamsostek, Taspen, dan ASABRI.

Referensi:
Diunduh dari http://gagasanhukum.wordpress.com/tag/cacat-dan-debat-ruu-bpjs/ pada 5 Desember 2011 pukul 20.00
-Read More
• • •

Contoh Pidato Ujian Akhir SMA

Tema  : Melestarikan budaya sebagai sarana mewujudkan jati diri

BUDAYA DAN ZAMAN
Assalamu`alaikum wr.wb.
Yang terhormat ibu guru Bahasa Indonesia dan hadirin yang berbahagia.
Pertama-tama marilah puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul pada kesempatan kali ini dengan keadaan sehat wal`afiat. Pada kesempatan kali ini saya akan membawakan pidato berjudul “Budaya dan Zaman” sebagai materi ujian praktek Bahasa Indonesia.
Hadirin yang berbahagia, telah lama kita tahu bahwa di jaman sekarang ini jumlah remaja yang memedulikan kebudayaan sendiri lebih sedikit daripada yang melupakannya. Hal tersebut dikarenakan menurut remaja sekarang, kebudayaan negeri adalah suatu hal yang ketinggalan jaman dan tidak sesuai dengan budaya globalisasi. Padahal hal itu menyebabkan lunturnya rasa cinta negeri sendiri serta hilangnya jati diri sebagai remaja Indonesia.
Hadirin sekalian, bukan sebuah kesulitan bagi remaja Indonesia yang ingin tetap melestarikan budaya sendiri, tapi lebih pada peran lingkungannya yang tidak mendukung. Kebiasaan mereka yang lebih mengelu-elukan budaya luar yang baru menduduki negeri ini ternyata berdampak mendalam. Budaya globalisasi yang ternyata lebih mudah membaur tersebut telah mendominasi kebudayaan negeri sendiri. Karena itulah ternyata kebudaan kita sendiri tidak dapat dilestarikan dan terancam punah.
Hadirin yang berbahagia, sebagai bangsa yang baik hendaknya mengajak setiap lapisan masyarakat di negeri kita untuk jangan lalai, jangan sampai melupakan budaya sendiri. Karena perlu kita tahu jika sebenarnya budaya negeri kita ini adalah budaya yang dihormati bangsa lain, tetapi mengapa kita sebagai bangsa sendiri malah tidak bisa menghormatinya. Hanya karena budaya kita tidak sesuai di jaman sekarang, tidak lantas kita malah membuangnya begitu saja. Alangkah begitu baik jikalau kita dapat membawa budaya sendiri ke era globalisasi. Karena mau tidak mau, budaya kita adalah cerminan bangsa. Budaya kita adalah jati diri yang seharusnya tidak mudah dirampas oleh budaya budaya yang  lain sehingga kita tidak mempunyai apa yang dinamakan sebagai jati diri.
Para hadirin yang saya hormati, oleh karena itu, marilah kita tanamkan jati diri kepada bangsa sendiri dengan menumbuhkan cinta budaya bangsa, sebagai wujud cinta kita terhadap Indonesia. Cukup sekian dari saya, ada kurang lebihnya saya mohon maaf.
Wassalamu`alaikum wr.wb
-Read More
• • •

Pembangunan di Singapura


SEJARAH SINGAPURA
Keberhasilan Singapura tidak trlepas dari perdana menteri Lee Kuan Yaw, ia menjadi menteri sejak 1959 sebelum bergabung dengan Malaysia. Ia merupakan pemimpin yang otoriter yang mampu mempertahankan kekuasaan 7 kali berturut-turut.Pada tahun 1961 Teuku Abdul Rahman yang merupakan Menteri Malaysia membentuk beberapa negara federasi yaitu Singapura, Brunei, dan Serawak. Namun karena banyak perbedaan dengan Malaysia maka pada tanggal 9 Agustus Singapura keluar melalui referendum. Pada awalnya kadaan Singapura seperti negara Chili dan Mexico. Namun Lee memimpin negara seperti perusahaan yang mmbutuhkan tekad, kerja keras, dan kedisiplinan tinggi. Strategi yang dilakukan adalah bina bangsa (nasional building) dan orientsi pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi.
Bina bangsa karena Singapura adalah negara kecil yang multi etnis yang rawan konflik, dengan semangat ini ia menanamkan rasa nasionalisme sehingga rakyat dapat terintegrasi. Kemudian orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi maka pemerintah akan mnerapkan kebijakan public yang efektif dan efisien. Menteri Lee adalah seorang yang otoriter, beliau menutup saluran demokrasi karena demokrasi dianggap sebagai penghambat pembangunan terutama bagi negara yang multi etnis seperti singapura karena akan rentan konflik. Bentuk otoriterisme yang lainnya adalah masyarakat akan mendapat hukuman apabila tidak menuruti aturan pemerintah. Namun semua rakyat mematuhinya karena mereka sadar itu demi kemajuan Singapura sendiri.
Perdana Menteri Lee juga sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan di Singapura karena beliau sadar masa depan Singapura terletak di dalam pendidikan generasi penerusnya. Pendidikan di Singapura berorientasi pada minat dan bakat siswanya sehingga mampu dikembangkan semaksimal mungkin karena kemampuan setiap anak berbeda-beda. Selain itu kurikulum pendidikan singapura juga kental dengan semangat wirausaha yang mementingkan inovasi dan kreasi siswanya.Biaya pendidikan di singapura juga tergolong murah dan banyak beasiswa bagi siswa yang kurang mampu. Selain itu pemerintah juga sangat memperhatikan kesejahteraan guru sehingga kualitas pengajarnya juga baik. Dengan semua usaha ini terbukti bahwa pendidikan di Singapuradalah pendidikan yang baik dan bermutu.
Singkat kata perdana menteri Lee Kuan Yew telah berhasil membangun Singapura menjadi negara maju. Beliau adalah founding fathernya Singapura. Beliau telah berhail membawa pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Singapura. Namun dalam paper ini yang akan kami bahas bukan kesuksesan perdana lee tetapi kelanjutan dari pembangunan di Singapura setelah mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.  Ternyata Singapura adalah negara yang telah mempersiapkan pembangunananya secara keseluruhan setelah pertumbuhan ekonominya tercapai, Singapura mulai melakukan pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan yang memperhatikan lingkungan pula karena tanpa didukung oleh lingkungan yang baik dan sustainable maka pembangunan yang dilakukan sebelumnya akan sia-sia. Berikut akan dibahas secara lengkap tentang pembangunan berkelanjutan di Singapura.

PROGRAM  PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI SINGAPURA
Cetak biru didasarkan pada pemikiran The Singapore Way, digambarkan sebagai pertumbuhan perekonomian yang dinamis dengan tetap menyertakan kualitas lingkungan hidup yang baik bagi Singapura di masa kini dan mendatang. Melihat bahwa perkembangan negara Singapura melesat dengan begitu cepatnya, perlu memperhatikan dampak pada aspek-aspek kehidupan di luar aspek ekonomi yang tentu saja menuai keuntungan dari perkembangan ini. Misalnya saja aspek lingkungan, kelestarian lingkungan harus tetap dijaga seiring dengan pertumbuhan pada sisi ekonomi, begitu juga pada aspek sosial. Sehingga Singapura dapat menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, sosial, dan keberlanjutan lingkungan hidup, bagaimana kemudian pembangunan diterapkan tidak semata-mata berdiri di atas pijakan keuntungan ekonomi namun juga harus berada pada lingkungan yang sehat.
          Pembangunan berwawasan lingkungan yang dilaksanakan di Singapura memiliki fokus kerja antara lain mengembangkan efisiensi sistem air bersih dan energi, sistem daur ulang, hingga aturan penghijauan. Singapura menerapkan adanya keseimbangan antara ekonomi, sosial dan lingkungan daam penerapan kebijakan pembangunan. Hal ini mengingat bahwa perkembangan wilayah Singapura yang semakin cepat lambat laun akan berdampak pada lingkungan yang semakin kritis. Untuk mengatasi hal-hal yang berdampak pada lingkungan dalam proses pembangunannya maka Negara Singapura menerapkan strategi pembangunan yang idealnya kan dicapai di tahun 2030, yaitu :


a)       Pengurangan intensitas energi (per dolar PDB) sebesar 35% pada tahun 2030.
Menghemat energi tentu dapat dijadikan sebagai salah satu kiat dalam pembangunan berkelanjutan. Mengapa? Menghemat energi juga berarti menghemat biaya karena dengan menggunakan energi sesuai dengan kebutuhan dan pada saat yang diperlukan akan mengurangi pembengkakan biaya akibat dari konsumsi energi yang berlebihan. Hidup tentu tidak hanya di masa sekarang namun juga perlu untuk memperhatikan kehidupan di masa yang akan datang, dengan menghemat energi di masa sekarang maka konsumsi energi di masa depan tentu akan tercukupi. Dengan adanya hal ini maka dapat dikatakan bahwa pembangunan telah berjalan secara berkelanjutan karena tidak hanya memperhatikan masa sekarang namun juga kondisi di masa depan.
b)       Peningkatan tingkat daur ulang dari 56% pada tahun 2008 menjadi 70% di tahun 2030.
Bagaimana kemudian dengan melakukan daur ulang, sampah yang tadinya sudah tidak dapat digunakan lagi menjadi lebih bermanfaat. Dengan melaksanakan daur ulang juga mengurangi jumlah sampah yang ada, hal ini juga memberi pengaruh yang besar pada pengurangan pelepasan CO2 ke udara. Seperti yang kita ketahui bahwa sampah biasanya dimusnahkan dengan cara dibakar padahal pembakaran sampah adalah salah satu sumber dari terjadinya penipisan ozon sehingga dengan mengurangi jumlah sampah yang ada dengan cara mendaur ulangnya akan dapat meminimalisir polusi udara di bumi.
c)       Pengurangan jumlah konsumsi air domestik dari 156 liter per kapita per hari di 2008 menjadi 140 liter per kapita per hari pada tahun 2030.
Pemakaian air yang tidak sewajarnya atau secara berlebihan akan membawa dampak negatif pada generasi mendatang sehingga air yang merupakan sumber daya tak terbatas sekalipun harus digunakan secara bijak agar di masa yang akan datang, manusia tidak akan kesulitan dalam memperoleh air bersih.
d)       Minimal 80% dari bangunan yang ada sudah memiliki rating Green Mark Certified (tingkat efisiensi energi minimum) pada tahun 2030.
Dengan memiliki label green pada bangunan yang didirikan maka hal itu memperlihatkan bahwa bangunan yang ada adalah bangunan yang ramah pada lingkungan. Dalam artian bahwa bangunan tersebut mengonsumsi energi secara efisien dan seperlunya atau seminimum mungkin. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa penggunaan energi secara bijak akan membawa dampak positif di masa kini dan masa mendatang, yang hal tersebut mencerminkan pembangunan yang dilakukan dengan asas berkelanjutan. Hal ini dilakukan agar sumber daya yang ada tetap lestari dan dapat dimanfaatkan sepanjang hayat sepanjang manusia hidup di muka bumi.
e)       Mengurangi konsumsi energi di bidang umum dan perkebunan masing-masing sebesar 20% dan 30%
f)        Penyediaan 0,8 ha taman tanah per 1000 orang pada tahun 2030.
Adanya taman di antara gedung-gedung pencakar langit tentu sangat baik bagi kehidupan ekosistem dimana taman merupakan penghasil oksigen yang akan sangat bermanfaat bagi manusia. Melihat perkembangan negara Singapura yang begitu maju pesat diiringi dengan pertumbuhan ekonomi yang juga demikian maju, semakin banyak gedung-gedung pencakar langit yang mendominasi lahan kosong yang seharusnya dapat digunakan sebagai wilayah dimana udara segar bisa didapat. OKI, strategi ini diharapkan dapat menyeimbangkan ekosistem yang ada di alam.
g)       Menerapkan Keanekaragaman Hayati Nasional Strategi dan Rencana Aksi untuk penelitian, dokumen, dan melestarikan keanekaragaman hayati di Singapura.
h)       Mengembangkan indeks keanekaragaman Kota dengan mitra internasional untuk mempromosikan upaya konservasi keanekaragaman hayati di antara kota-kota di seluruh dunia.
          Pengurangan akan penggunaan energi menjadi poin yang paling utama untuk dilaksanakan. Hal ini dilakukan Singapura mengingat penggunaan akan cadangan minyak bumi dan biogas sangat tinggi. Sumber daya minyak dan gas yang digunakan Singapura selama ini menggunakan pasokan import yang menghabiskan dana yang tidak sedikit, sehingga diperlukan adanya skema untuk menghemat penggunaaan energi di Singapura yang dicanangkan melalui pengurangan penggunaan energi. Program daur ulang pun dicanangkan untuk penghematan bahan baku industri yang terbatas di Singapura.
          Wilayah Singapura yang hanya memiliki luasan yang kecil serta daratan yang banyak dikelilingi laut memaksa pemerinah untuk pengurangan konsumsi air domestik. Untuk ketersediaan air bersih Singapura masih bergantung pada Malaysia sehingga pencanangan penghematan energi air diperlukan untuk menghemat pengeluaran beban negara. Hal ini juga berkaitan langsung dengan iklim investasi di Singapura yang mengalami kenaikan yang signifikan dalam bentuk pembangunan mall, hotel serta apartemen yang sangat pesat, sehingga kebutuhan akan air tanah untuk konsumsi di Singapura menjadi terbatas.
          Program lain yang dilaksanakan Singapura, kini mulai mencanangkan pengembangan kawasan hijau untuk taman, hal ini dilakukan untuk pengembangan kawasan pariwisata sehat yang kini mulai dilaksanakan di Singapura. Kebutuhan akan taman sebagai penghijauan dinilai memberikan kontribusi untuk pembangunan berkelanjutan serta konservasi hayati yang memperhatikan alam. Konsep penghijauan juga diterapkan dalam pembuatan bangunan yang berwawasan lingkungan dengan menerapkan  penghijauan pada areal bangunan dengan kualifikasi tertentu.
          Meskipun tidak ada penyebutan target pengurangan karbon, namun Pemerintah Singapura menekankan bahwa program-program tersebut terutama ditujukan untuk mendukung ekonomi Singapura tumbuh lebih tinggi. Hal ini akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan standar hidup kita, dan menghasilkan sumber daya yang butuhkan untuk menjaga lingkungan. Tetapi disisi lain harus tumbuh secara berkelanjutan, melindungi lingkungan dengan standar kesehatan yang tinggi bagi masyarakat. karena pada kelestarian alam yang dijaga mkn ada dukungan pengembangan ekonomi yang dapat diperoleh dari alam untuk kesejahteraan masyarakat.

PERBANDINGAN PEMBANGUNAN SINGAPURA DAN INDONESIA
Kemajuan Singapura ini sangatlah kontras apabila dibandingkan dengan Indonesia. Luas wilayah Singapura memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia, apalagi melihat kekayaan alamnya. Kekayaan alam Indonesia jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan Singapura yang kecil dan jumlah penduduknya sangat sedikit.
Indonesia merupakan negara besar di kawasan Asia Tenggara yang letak geografisnya sangat strategis sehingga pada masa lampau Indonesia banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang dari Eropa, China, dan Arab, hingga akhirnya Indonesia terjajah selama berabad-abad. 
Indonesia memiliki luas wilayah yang luas, baik darat maupun laut. Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah, seperti hasil laut, hasil hutan, pertambangan, pertanian, dan lain sebagainya. Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia yang artinya memiliki banyak tenaga untuk membangun Indonesia menjadi negara yang unggul daripada negara-negara lainnya.
Namun Singapura ternyata lebih beruntung daripada Indonesia yang terlahir kaya namun tetap menjadi negara berkembang setelah sekian lama. Singapura ternyata lebih berhasil membangun negaranya menjadi sangat maju tanpa harus bergantung dengan kekayaan alam semata. Singapura juga memiliki sumber daya manusia yang sangat berkualitas sehingga jumlah penduduk yang sedikit itu mampu membangun negaranya menjadi lebih makmur mengalahkan Indonesia dengan jumlah penduduk besar namun masih lemah secara sumber daya manusia. Kemajuan yang dialami oleh Singapura ini dipengaruhi oleh :
Strategi pembangunan yang digunakan oleh Lee Kuan Yew adalah bina bangsa (nation building)  dan orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi. Ia memilih proses bina bangsa karena Singapura merupakan negara kecil yang multietnis yang selalu rawan konflik. Dengan melakukan bina bangsa, ia menanamkan semangat nasionalisme yang tinggi terhadap rakyatnya. Jika rasa nasionalisme benar-benar tertanam secara kuat dalam tiap individu, niscaya tidak akan ada konflik-konflik karena perbedaan etnis, agama, ataupun bahasa, sehingga diharapkan rakyat akan tetap terintegrasi dan memunculkan kestabilan untuk mendukung pemerintah. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.Setiap Negara memiliki kebudayaan masing-masing, tergantung dari suku, agama, adat-istiadat dan lain sebagainya yang mempengaruhi pola hidup masyarakat itu sendri. Begipula dengan Indonesia dan Singapura. Keduanya memiliki kebudayaan masing-masing yang menyebabkan adanya perbedaan antara kedua negara tersebut. Sama halnya dengan Indonesia, Negara Singapura juga terdiri dari berbagai macam suku yaitu didominasi oleh 77% penduduk etnis China., Melayu dan India.
Akan tetapi meskipun terdapat keragaman suku dan budaya, kerukunan dan saling menghargai terpelihara oleh masyarakat tersebut. Setiap kaum di Singapura masih berpegang teguh kepada adat dan budaya masing-masing dan ini dibuktikan dengan adanya berbagai perayaan yang terdapat di Singapura seperti Tahun Baru Cina, Hari Wesak, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Deepavali, Natal dan Tahun Baru.
 Kemudian yang kedua adalah orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi. Dengan orientasi pembangunan seperti ini maka pemerintahnya akan menerapkan kebijakan publik yang rasional dan selalu memikirkan efisiensi dan efektivitasnya.
Hal pertama yang dilakukan oleh pemerintah Singapura adalah menutup saluran demokrasi, karena demokrasi dianggap sebagai penghambat pembangunan. Apalagi dengan komposisi negara yang multietnis dan dikhawatirkan akan memunculkan konflik sosial. Karena itu pemerintah Singapura tersentralisasi demi mencapai efisiensi dan juga menetapkan aturan-aturan yang keras dan tegas. Misalnya aturan-aturan untuk menekan kelompok oposisi dan pembatasan hak berpendapat bagi rakyat. Hukuman akan selalu didapat apabila ada orang-orang yang menentang kebijakan pemerintah. Penerapan sistem otoritarian tersebut ternyata berhasil untuk mewujudkan ketertiban dalam negara Singapura, melaksanakan pasar ekonomi terbuka, dan pemerintahan yang bebas korupsi. Hal itu terjadi karena apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Singapura semata-mata demi memajukan dan menyejahterakan rakyat Singapura itu sendiri, walaupun harus dengan jalan antidemokrasi dan otoriter. Dengan pemerintahan yang otoriter tersebut pemerintah Singapura telah terbukti mampu membangun negaranya menjadi negara maju dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi rakyat Singapura untuk tidak mendukung pemerintahnya. Demokrasi dinilai layak dijalankan pada sebuah negara dengan kehidupan ekonomi dan politik yang stabil dan kondisi warga negaranya yang sudah berpendidikan.
Sadar akan pentingnya pengetahuan sebagai penentu kesuksesan masa depan, pendidikan kemudian menjadi salah satu fokus pembangunan pemerintah Singapura. Sistem pendidikan yang diterapkannya pun berorientasi pada minat dan bakat siswa sehingga mampu mengembangkan potensi para siswanya.
Selain itu dalam hal pendidikan, Singapura bisa dibilang maju, ini karena bahasa pengantarnya yang multibahasa (bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan Tamil) karena warga negaranya yang multietnis pula. Selain itu kurikulum pendidikan di Singapura juga sangat berorientasi pasa semangat wirausaha yang sangat mementingkan adanya inovasi, kreasi, juga kemampuan berkompetisi para siswanya. Silabus dan kurikulum yang ada selalu dievaluasi oleh Departemen Pendidikan. Mereka selalu menyisipkan hal-hal baru ke dalam silabusnya agar pendidikan dan pengetahuan siswanya di sana selalu up to date. Setelah lulus dan memasuki dunia kerja pemerintah memberikan banyak pelatihan kerja yang profesional hingga mampu mengembangkan keterampilan siswa-siswanya. Walaupun Singapura merupakan negara maju yang rata-rata penduduknya sudah mampu, pemerintah tidak lantas menyamaratakan semua dengan menetapkan biaya pendidikan yang mahal, tapi tetap memberikan keringanan bagi warganya yang tidak mampu dengan memberikan beasiswa. Biaya sekolah di sana pada dasarnya cukup murah, hanya saja diperlukan sedikit tambahan biaya untuk sarana penunjangnya seperti buku, atau transportasi.
Hal yang mendukung kemajuan pendidikan Singapura adalah kualitas tenaga pengajar dan perhatian pemerintahnya terhadap guru. Pemerintah memberikan gaji yang memadai bagi guru dan dosen sehingga minat warganya untuk menjadi guru sangat besar. Bahkan yang berminat menjadi guru di sana tidak hanya berasal dari dalam negeri sendiri tapi juga dari luar negeri.
Perbedaan-perbedaan kebudayaan antara Indonesia dengan Singapura antara lain kedisiplinan dan ketertiban yang ada di Singapura sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Masyarat Singapura sangat menaati peraturan yang berlaku, seperti hampir tidak ada orang yang melanggar lalu lintas contohnya ketika lampu lalu lintas berwarna merah para pengendara akan berhenti sampai lampu berwarna hijau. Sepanjang perjalanan Singapura tidak pernah tendengar bunyi klakson yang bertubi-tubi seperti di Indonesia. Meskipun dalam antrean panjang, mereka sangat sabar. Tidak ada umpatan kata-kata kotor atau bunyi klakson ketika ada pejalan kaki/kendaraan lain yang nylonong masuk.
Di Singapura, kedisiplinan dan budaya bersih ditanamkam sejak usia dini, perilaku disiplin dan hidup bersih ditanamkan sewaktu mereka masih duduk di bangku sekolah. Kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana disiplin perilaku warganegara dalam menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan. Contohnya Ketika berada di salah satu kawasan perdagangan, terlihat ada seorang anak kecil yang sengaja turun dari mobilnya hanya “sekedar” membuang bungkus permen ke tempat bak sampah. Kita semua sangat memahami bahwa perilaku warga negara yang sedemikan hebat ini tentu tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan saja. Pemerintah sebagai institusi yang diberi mandat oleh rakyat untuk “Mengatur” juga memiliki peran dan tanggung jawab yang besar terhadap ketertiban perilaku warganya.
Pemerintah Singapura berupaya protektif terhadap warganya ditunjukan dengan memberlakukan peraturan yang sangat ketat dalam makan minum sembarangan, perdagangan rokok, dan kendaraan bermotor. Maka di Singapura tidak akan dijumpai orang yang makan minum dan merokok di sembarang tempat. Menurut informasi pemerintah bersikap  tegas dengan memberlakukan tarif yang sangat mahal terhadap rokok dan motor tersebut. Maka kalau ada orang bertanya, benda apa yang paling mahal di Singapura? Jawabannya yaitu rokok dan sepeda motor. Harga rokok kretek di Singapura amat mahal. Pajak cukainya saja jika masuk ke negara singa tersebut adalah SGD $12 (setara dengan Rp80.000).
Kebijakan itu diambil pemerintah untuk menekan penggunaan rokok di Singapura, karena pemerintah menginginkan orang dan lingkungan Singapura lebih sehat. Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi para perokok sendiri tetapi malah lebih berbahaya bagi orang lain sebagai perokok pasif. Pemerintah Singapura menerapkan denda bagi orang yang makan minum di sembarang tempat dengan denda $500 dan bagi perokok di sembarang tempat didenda $1000. Untuk itu pemerintah sudah menyediakan tempat khusus untuk makan minum dan merokok.
Selain Itu sepeda motor di Singapura harganya sangat mahal. Tapi itu juga merupakan kebijakan pemerintah untuk menekan populasi kendaraan roda dua tersebut. Pemerintah Singapura mendisain agar warganegaranya menggunakan angkutan “massal” jika hendak bepergian jauh. Angkutan massal mereka dinamakan MRT (Mass Rapid Transit), semacam kereta api bawah tanah yang nyaman dan tentu saja sangat bersih. Mungkin juga Singapura belajar dari Indonesia dimana sepeda motor tumbuh bagaikan tawon. Alhasil lalu lintas semrawut dan polusi udara pun luar biasa. Tidak hanya itu, berapa angka kecelakaan setiap harinya yang disebabkan oleh kendaraan roda dua tersebut.

Dari penjelasan diatas,  dapat dilihat bahwa terdapat dua pandangan yang telah berhasil dipatahkan oleh pemerintah Singapura, Lee Kuan Yew, yaitu semakin lama berkuasa, akan semakin korup, dan seorang diktator tidak akan mampu menyejahterakan rakyat. Selama ini image seorang diktator adalah berkuasa demi kepentingan pribadi dan kelompok semata, yang cenderung korup dan rakyat menderita karenanya. Namun Lee Kuan Yew berhasil membuktikan bahwa suatu negara juga bisa maju dan sejahtera walaupun tanpa demokrasi dan pemerintahan yang otoriter.

Setelah negaranya menjadi maju, Lee Kuan Yew sebagai pemimpin tidak lantas lupa diri. Ia tetap menjadi sosok yang sederhana, bersih, jujur dan bebas korupsi. Ia rela memotong gajinya sendiri dan menaikkan gaji para pejabat yang lain.

Sebenarnya gaya kepemimpinan Lee Kuan Yew tidak jauh berbeda dengan Soeharto, yaitu pemimpin yang otoriter. Mereka berdua pun mampu membawa negaranya ke arah kemajuan pada masa itu, namun ada satu kekurangan yang luput dari perhatian Soeharto, yaitu melakukan regenerasi kepemimpinan. 



DAFTAR PUSTAKA

  • http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=1289&type=6#.UrimvSf0_SY
  • http://app.mewr.gov.sg/web/contents/ContentsSSS2.aspx?ContId=1297
  • http://app.mewr.gov.sg/web/contents/ContentsSSS2.aspx?ContId=1293
  • http://www.edb.gov.sg/content/dam/edb/en/resources/pdfs/publications/SingaporeBusinessNews/aug-2013/Singapore-Business-News-Aug-2013.pdf
  • http://www.ura.gov.sg/skyline/skyline12/skyline12-03/special/URA_Designing%20our%20City%20Supplement_July12.pdf
-Read More
• • •

Kondisi Sosial dan Politik Masa Kelahiran Orde Baru

Kondisi Sosial dan Politik Masa Kelahiran Orde Baru

Setelah meletusnya G30S PKI yang mengakibatkan kondisi sosial politik memburuk, rakyat meminta banyak perubahan dan tuntutan agar ada perbaikan terhadap pemerintahan Soekarno. Pada era pemerintahan Orde Lama yang mulai keadaannya tidak aman, Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk melaksanakan kegiatan keamanan. Pada 11 Maret 1966 muncullah super Semar yang mengawali masa Orde Baru. Masa tersebut mempunyai seorang tokoh sangat terkenal dengan cara pemerintahannya yang keras, yaitu Soeharto. Soeharto terkenal dengan kekuasaannya yang banyak terjadi diiringi kekerasan dan atiran-aturan yang memberatkan. Pemerintahannya bersifat otoriter dan sentralisasi. Namun dibalik itu, Orde Baru masih memberikan kebaikan untuk negara.
            Pada awal pemerintahannya, Orde Baru mampu menata tatanan polik pemerintahan secara baik, Soeharto mengubah sistem kebijakan dalam dan luar negeri secara dramatis meskipun dalam perkembangan berikutnya banyak terjadi penyimpangan. Pemerintahan pada masa itu sangat erat dengan kekerasan dan pemaksaan dimana sanksi kriminal diberikan pada pemberontak, tetapi di sisi lain kemakmuran rakyat terjamin, barang-barang pemenuhan hidup dapat diakses dengan mudah akibat dari pinjaman-pinjaman besar ke luar negeri untuk menyejahterakan ekonomi rakyat.
Mulai 1997 setelah kondisi politik-sosial-ekonomi mulai tidak stabil, maka terjadilah penindasan oleh pemerintahan. Hal tersebut merupakan pengrusakan aspek sosial di masyarakat. Pemaksaan institusi untuk kepentingan politik dilakukan karena tuntutan akan kestabilan di pemerintahan. Namun pada masa itu pula kesenjangan sosial semakin meningkat akibat kebijakan yang berorientasi pertumbuhan dan melupakan pemerataan serta distribusi yang adil. Beratnya hukuman yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang sekiranya dapat menjadikan ancaman bagi pemerintah membuat masyarakat umum memilih diam. Pemikiran-pemikiran yang terpendam membuat konflik tersendiri di beberapa kalangan baik perseorangan maupun golongan.

Pada pemerintahan Soeharto, Indonesia dapat menjadi negara yang terpandang di dunia baik dari politik pemerintahan hingga budayanya. Hal tersebut salah satu hasil dari adanya Orde baru. Kesuksesan lain adalah ketika kebijakan-kebijakan dapat terealisasikan. Contohnya adalah sukses transmigrasi. Adanya transmigrasi yang dilakukan agar seimbangnya pertumbuhan penduduk sendiri. Soeharto yang merupakan Bapak dari perubahan tersebut tidak melupakan hal tersebut dalam upayanya merubah sistem pemerintahan. Namun banyaknya konflik yang terjadi di masyarakat membuat ketakutan tersendiri di masyarakat sehingga mereka enggan untuk keluar rumah dan tertekan. Pemerintah sendiri sangat ketat dalam urusan keamanan dan tidak transparan dalam pengunaan dana. Apabila ada pihak yang ikut campur dalam urusan pemerintahan maka bisa dipastikan pihak tersebut merupakan pemberontak dan akan dijatuhi hukuman.
Kondisi sosial serta politik pada masa Orde baru terasa mencekam mengingat otoritas pemerintah yang tidak bisa diganggu gugat serta aturan-aturan main yang tentunya bersanksi berat jika dilanggar. Ancaman yang berkelanjutan membuat banyak pihak mencoba berontak secara sembunyi-sembunyi. Anggota pemerintahan sendiri juga takut dengan para pemimpin pusat, sehingga sistem yang ada tidak bisa diubah begitu saja. Keterikatan akan HAM yang disalah artikan oleh bangsa membuat kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah semakin sulit dipahami. Namun berbeda dengan masa pemerintahan Soekarno atau Orde Lama, pada pemerintahan Soeharto, Indonesia menjalin hubungan baik dengan luar negeri serta tidak lagi dibenci oleh negara-negara lain. Sebutan Macan Asia juga didapatkan Indonesia pada pemerintahan Soeharto. Selain itu, bahasa Indonesia juga merupakan bahasa yang banyak dipilih negara-negara lain sebagai bahasa yang diajarkan di tempat pembelajaran.
Pada dasarnya pemerintahan Soeharto pada Orde Baru dipandang lebih baik daripada Reformasi karena masyarakatnya lebih makmur dan negara dapat maju di pendidikan secara signifikan. Kehidupan sosial yang ada juga berbeda dengan masa Reformasi. Sosial saat itu masih banyak sisi baiknya dilihat dari pertumbuhan yang baik serta seimbang dengan aspek lain. Untuk aspek politik pada Orde Baru bahkan dapat dibilang stabil mengingat penjagaan sistem yang baik meskipun pada akhirnya banyak terjadi korupsi dan penggelapan dana. Namun yang paling ditekankan pada masa itu adalah masyarakat berada pada tekanan dan aturan yang kuat dari pemerintah meskipun mereka telah dicukupi kebutuhannya secara baik.
           

Referensi:
PRIMAGAMA, Team, 2011, Paket Sukses Snmptn, Sejarah: Orde baru, hal 37

Sistem politik Orde Baru diunduh dari http://www.scribd.com/doc/40581316/Sistem-Politik-Orde-Baru pada 27 November 2011 pukul 21.00
-Read More
• • •

Contoh Sesorah Ujian Akhir SMA

Wong Jawa lan Kabudayan Jawa
Assalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Sugeng siang dhumateng para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten, bapak-bapak, ibu-ibu saha para rawuh ingkang dahat kinurmatan, raos syukur sumangga kula panjenengan aturaken ing ngarsanipun Gusti Allah SWT, awit saking rahmatipunpun, kula lan panjenengan sedaya saged makempal ing Rumah Budaya dinten punika.
Bapak-bapak, ibu-ibu saha para rawuh ingkang kinurmatan, kula dhateng mriki badhe ngaturaken sesorah cekak ingkang isinipun babagan Kabudayan Jawa.
Bapak-bapak, ibu-ibu saha para rawuh ingkang kinurmatan, Kabudayan inggih punika ciri khas ingkang asalipun saking pamikiran ingkang diciptakakenn lan diterapkaken ing urip saengga dados kebiasaan uga ngatur becik utawa botenipun satunggal manungsa ing daerah punika. Kabudayan Jawa inggih punika ciri khas kasil saking sesepuh Jawa kagem ancas tartamtu ing tlatah Jawa. Kathah tiyang ingkang nggadahi pamanggih Budaya Jawa punika tuladhanipun tradhisi, adat istiadat lan kesenian ing tlatah Jawa.
                Bapak-bapak, ibu-ibu saha para rawuh ingkang minulya, Kabudayan Jawa punika supados dipunlestarikaken marang putra lan putri kula panjenengan sedaya amarga kabudayan ing tlatah Jawa kedah diuri-uri, dipundhi lan dilestarikaken.
                Kabudayan Jawa kathah sanget, ingkang tuldhanipun inggih punika wayang kulit, batik, kethoprak, jathilan, campursari, lsp. Mula luwih becik yen masarakat jawa punika saged   njaga kabudayan ingkang kathah kangge patrap manungsa saking olah bawa becik. Kabudayan ingkang becik saged   gawe urip ingkang damai santosa amargi urip manungsa kang tatananipin sampun rapi lan kajaga ing tlatah Jawa saka kabudayan.
                Wasana cekap sementen atur kula, menawi wonten kelepatan utawa solah bawa kula ingkang kirang mranani kula nyuwun agenging pangapunten.

 Wassalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
-Read More
• • •

Contoh Dilema, Paradox, dan Skizofrenia


Dilema:
..terkait dengan Pasal 103 yang berbunyi petani yang mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.
..UU yang akan berlaku di seluruh Indonesia bisa mengancam petani karena mengalihfungsikan lahan yakni tidak bercocok tanam akan ikut di penjara.

Analisis: Dilematis pemerintah dalam menetapkan UU yang di satu sisi mencegah meningkatnya alihfungsi lahan pertanian secara bebas, namun disisi yang lain dengan penetapan UU tersebut petani yang tidak bercocok tanam juga akan terkena pidana.

Paradox:
Hadirnya UU PKDRT, ternyata masih banyak perempuan tidak berani melaporkan kekerasan yang dialami. Ironisnya seperti disebut Ratna Batara, yang dilaporkan pun tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan.

Analisis: Dimana paradox yang terjadi pada kasus perempuan korban KDRT, posisinya bagi mereka yang takut melaporkan dan bagi mereka yang melaporkan KDRT ternyata sama-sama terugikan. Dengan tidak melaporkannya maka kemungkinan besar mereka tidak terlindungi, namun dengan melaporkan pun ternyata kasus mereka tidak terselesaikan.

Skizofrenia:
Febri menceritakan mimpinya menjadi pemain bola. "Saya mau jadi kayak Bambang Pamungkas, saya mau jadi pesepak bola dulu," ucapnya mantap.
Tetapi dia tidak menduga, akibat salah pergaulan, dia jadi gelap mata. Dengan sebilah parang merah, banyak korban yang terluka karenanya.


Analisis: Kasus diatas menceritakan seseorang yang bercita-cita menjadi salah satu atlet sepak bola namun tidak tercapai karena salah pergaulan. Karena tumbuh di pergaulan yang menyimpang, ketidakberhasilan menyebabkan sifat orang tersebut menyimpang dari kaidah moral. Dampaknya orang itu menjadi patologis di masyarakat, dimana dia terlibat kriminalitas yang melanggar aturan serta merugikan orang lain.
-Read More
• • •

Berapa banyak wawancara kualitatif cukup?

Berapa banyak wawancara kualitatif cukup? Jawabannya adalah bahwa tidak ada aturan praktis. Dalam pekerjaan saya sendiri jumlah kasus Saya telah mempelajari berkisar 20-2 pasangan yang sudah menikah (Brannen dan Collard 1982), 1204 generasi keluarga (71 orang yang diwawancarai) (Brannen et al. 2004) untuk studi longitudinal di mana sekitar 260 ibu dan anak-anak mereka telah ditindaklanjuti selama beberapa tahun (Brannen dan Moss 1994). Ketika Saya pertama kali dimulai pada penelitian kualitatif tampaknya bagi saya umum di antara mereka melakukan wawancara kualitatif untuk penelitian doktor mereka untuk ukuran sampel berada di sekitar 40 orang. Sejak itu jumlah tersebut tampaknya memiliki menyusut, untuk berbagai alasan saya menduga. Dalam menilai keberhasilan dalam perekrutan sampel saya selalu menemukan menghibur mengingat nasihat bahwa itu bukan ukuran sampel per se yang penting atau bahkan bahwa distribusi dari jumlah orang dalam suatu kelompok yang begitu penting melainkan dimasukkannya kasus tertentu. Di peristiwa seperti itu terjadi mungkin suatu yang sulit untuk mencari atau seseorang atau organisasi dari siapa itu sulit untuk mengamankan kesepakatan. Kasus seperti itu bisa berubah, sering untuk alasan teoritis, untuk menjadi pusat analisis.
Bagi saya, masalah yang paling penting dalam menentukan berapa banyak wawancara kualitatif yang cukup menyangkut Tujuan dari penelitian ini - jenis pertanyaan penelitian yang akan ditangani dan metodologi diusulkan untuk mengadopsi. Jika keputusan dibuat untuk fokus pada satu kasus, maka jadilah itu. Mungkin ini sudah cukup sebagai kasus adalah unik dan tidak sebanding dengan kasus lain. Sebuah kasus yang kompleks mungkin memang mengambil semua sumber daya tersedia.
Namun jika kita ingin belajar banyak kasus dan memilih purposive sehingga kita dapat membandingkan kelompok-kelompok tertentu, kita mungkin harus menyebarkan bersih lebih luas. Dalam Edwardians, Paul Thompson (1977) berangkat untuk mendirikan dimensi kunci perubahan sosial di awal abad kedua puluh dan kontribusi yang orang biasa dibuat untuk mengubah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ia merancang sampel kuota diambil dari sensus 1911 sebesar 444 orang, yang mewakili enam kelompok kerja utama, meskipun dalam prakteknya sampel melebihi angka ini.

Dia mampu dalam penelitian ini untuk memanfaatkan sumber daya dari sebuah tim besar pewawancara untuk membantunya. Tapi dalam sumber daya utama dalam penelitian kualitatif mendalam jauh lebih terbatas, bahkan untuk tim penelitian yang didanai. Jika desain studi kasus yang dipilih untuk studi kasus dapat mencakup banyak orang. Berikut kasus harus sistematis dipilih berdasarkan logika sosiologis (lihat Brannen dan Nilsen 2011). Kasus tidak hanya dipilih untuk keperluan wawancara, tetapi juga, yang paling penting, untuk tujuan perbandingan dalam analisis. Kita harus menemukan 'orang yang tepat' untuk belajar dalam hal 'teori' kami. Kita harus memilih kasus yang tidak hanya relevan dengan pertanyaan penelitian yang spesifik tetapi harus mencari kasus-kasus yang mungkin untuk membuktikan kami asumsi yang salah dalam analisis. Selain itu, karena banyak buku mengenai penelitian kualitatif mengingatkan kita, mengumpulkan lebih banyak data menjadi tidak perlu ketika 'jenuh' tercapai dalam hal identifikasi baru tema. Selain itu, perlu diingat bahwa tidak semua kasus dapat disajikan dalam presentasi akhir pekerjaan. Berikut transparansi dan kekakuan sama-sama penting, seperti dalam rekrutmen sampel dan melakukan analisis. Sementara di satu sisi, lebih banyak kasus untuk menganalisa dan memilih dari mungkin lebih baik, ini diimbangi oleh ukuran tugas. Selain itu, proses meningkatkan ukuran sampel tidak dapat meningkatkan kesempatan untuk mengatasi bias dalam sampel, misalnya metode mungkin tidakberhasil menargetkan sulit dijangkau.
-Read More
• • •