GENDER DAN FEMINISME GENDER; ADIL ATAU SETARA?

Gender, sebuah kata yang tidak asing di telinga masyarakat jaman sekarang. Gender terlahir ketika kaum perempuan mulai sadar dan bangkit dari subordinasi yang disebabkan struktur masyarakat. Dalam pengertiannya sendiri, gender berarti sifat laki-laki maupun perempuan yang telah tercetak oleh budaya dan sosial. Namun kebanyakan pengertian yang beredar di masyarakat adalah pengertian gender sebagai jenis kelamin, bukan sebagai sifat yang melekat dikaum laki-laki dan perempuan sehingga banyak kasus yang kemudian dianggap permasalahan gender tanpa melihat substansinya. Yang perlu ditekankan disini adalah bagaimana sebenarnya gender perlu dikultuskan pada pemikiran masyarakat bahwasanya gender tidak hanya berbicara pada jenis kelamin saja, tetapi juga pada struktur yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan beserta stigma yang ada.Keberadaan gender kemudian menjadi senjata yang kuat untuk membongkar realita yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Dari sinilah kemudian gender membangun perempuan untuk membebaskan diri dari kultur dan struktur sosial yang selalu menempatkan mereka pada tempat yang tidak nyaman, pihak yang sering disalahkan, bahkan kambing hitam. Meskipun banyak kaum perempuan menuntut kesetaraan gender, hal tersebut masih menjadi wacana semata. Struktur dan kultur masyarakat sebagai penentu utama bagaimana gender itu terbentuk merupakan hal yang sangat sulit diubah.Sedangkan masyarakat sendiri juga membuat perspektif yang kuat dalam kebudayaan mereka.

Di dunia ini hampir semua paham menyinggung kehadiran gender sebagai bagian dari kehidupan sosial. Mulai dari paham yang menganggap gender adalah substansi utama hingga paham yang membicarakan gender hanya sebagai substansi pendukung. Salah satu paham yang tidak bisa lepas dari gender adalah Paham Feminisme. Feminisme hadir pada abad ke-18 untuk menunjukkan kekuatan yang dimiliki oleh kaum perempuan. Paham ini kemudian tumbuh berkembang dan beradaptasi seiring dengan kemajuan jaman. Feminisme mencoba membawa peremuan ke tingkat yang sama dengan laki-laki. Dimana feminisme menitik beratkan pemikiran bahwa laki-laki dan perempuan berkedudukan sama, berkesempatan sama, dan mempunyai hak yang sama untuk hidup.Pada intinya, posisi perempuan dipandang tidak strategis dengan beban ganda yang dipikulnya juga sehingga Feminisme membuat perempuan mempunyai capability lebih untuk merubah posisi itu. Tetapi hingga sekarang, keberadaan perempuan sendiri masih dianggap subordinasi laki-laki walaupun telah banyak masyarakat yang menganut paham ini.

Paham Feminisme terdiri dari berbagai jenis, salah satunya adalah Paham Feminisme Gender. Dari namanya sudah bisa diketahui jika paham ini bersubstansi gender yang tentu saja membahas hal-hal yang berkaitan dengan relasi antara perempuan dan laki-laki. Feminis Gender sering juga diacu sebagai feminis kultural, dimana tertarik pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dengan ciri khasnya masing-masing. Disini membahas bagaimana perempuan dan laki-laki sebenarnya harus berada pada sekat yang terpisah.

Feminisme gender di globalisasi yang berjalan sekarang menjadi semu. Paham yang banyak beredar adalah paham feminis liberalis. Alasannya, perempuan di jaman sekarang menganggap gender sebagai sesuatu yang harus disetarakan demi kebebasan. Feminis gender seolah tersembunyi dan muncul saat ada kasus yang memposisikan perempuan sebagai korban dari gender. Hal itulah yang menjadi wacana saat kesetaraan gender dipertanyakan. Mengingat perempuan memperjuangkan hak-haknya agar setara dengan laki-laki, kemudian hal yang harusnya terjadi adalah mereka mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki. Sedangkan bila kita melihat dari segi keberadaan perempuan, ada batasan batasan tertentu yang membuat perempuan tidak bisa disamakan dengan laki-laki. Apakah itu dari fisiknya atau dari psikisnya. Di era globalisasi ini hampir di semua negara telah menggunakan kesetaraan gender sebagai sarana untuk bersosialisasi maupun bekerja. Hal itu berarti apa yang bisa dilakukan kaum laki-laki dapat dilakukan oleh kaum perempuan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika para perempuan telah diperlakukan setara dengan laki-laki, maka mereka tidak bisa menuntut hak khusus yang harusnya didapatkan selaku perempuan. Hak-hak itu dapat berbentuk hak perlindungan, hak reproduksi, dan lain-lain. Kemudian kembali dipertanyakan, apakah kesetaraan itu tetap perlu dilakukan? Jawabannya tentu saja membingungkan unruk feminis liberal. Menjadi tidak adil pada pihak kaum laki-laki saat kesetaraan telah tercapai namun ada kekhususan terhadap kaum perempuan yang akhirnya tetap saja kesetaraan tersebut menjadi kesetaraan semu. Namun bila dihadapkan dengan feminis gender, maka hak-hak seperti itu akan terus diperjuangkan. Betapa tidak, perempuan berada pada bilik yang berbeda dengan laki-laki. Meskipun dibutuhkan sebuah kesetaraan, perempuan tetap harus memiliki apa yang disebut woman right.

Di dalam Feminisme Gender terdapat sebuah pola pengasuhan ganda dimana laki-laki dan perempuan dikonstruksikan dengan memberi mereka nilai yang berbeda. Laki-laki dapat memperoleh nilai-nilai tertentu yang dimiliki perempuan begitu pula sebaliknya. Namun dengan adanya pengasuhan ganda tersebut menjadi tidak efektif karena kemampuan dan batas diri yang berbeda. Untuk menghadapi kesetaraan gender, perempuan berusaha lebih keras bahkan terkadang melebihi apa yang dimilikinya. Namun untuk laki-laki, usaha yang dilakukan cenderung lebih sedikit karena secara emosional mereka tidak ingin menyamakan diri dengan perempuan. Beberapa negara seperti Indonesia menyatakan bahwa negara mereka berasaskan kesetaraan gender tetapi pada implementasinya adalah keadilan gender. Di beberapa daerah di Indonesia, perempuan masih dianggap sakral dan tidak disubordinasi oleh masyarakat (matriarkal) namun untuk pekerjaan yang menuntut kerja keras dan tanggung jawab besar. Jika dilihat dari feminis gender, keadaan ini benar adanya. Yang diperlukan disini adalah bagaimana perempuan bisa mendapatkan keadilan. Kesetaraan kemudian diasumsikan hak dan kewajiban yang adil berdasarkan kemampuan dari diri perempuan sendiri. Oleh karena itulah feminis gender yang sesungguhnya tidak mengangkat bagaimana posisi perempuan harus disamakan dengan kedudukan laki-laki, tetapi lebih pada bagaimana perempuan mendapatkan hak-haknya yang khusus serta posisi mereka yang tidak menjadi second sex di konstruksi yang dibuat masyarakat.

Kesimpulannya, Feminis Gender memposisikan perempuan sebagai individu yang memiliki dirinya sendiri secara utuh dan mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan tanpa harus dirugikan oleh kaum laki-laki sebagai jenis kelamin unggulan. Selain memberikan ruang untuk mengembangkan diri, perempuan juga harus tetap diletakkan dalam ruang berbeda dengan laki-laki karena kebutuhannya berbeda. Optimalisasi yang dilakukan oleh kaum feminis menjadi maksimal ketika kesataraan yang dimaksud sudah tercapai. Kesetaraan disini adalah dimana keadilan menjadi substansi utamanya. Selanjutnya adalah keberadaan perempuan di jaman sekarang, meskipun telah berada dalam posisi yang sama kesempatannya dengan kaum laki-laki tetapi jika sebuah halangan maka yang akan memposisikan sebagai pihak kang dirugikan pertama kali adalah laki-laki. Hal tersebut terjadi mengingat perempuan smendapatkan hak perlindungan khusus. Hak tersebut sebenarnya juga tidak terlepas dari konstruksi di masyarakat yang mempresentasikan perempuan sebagai mahluk yang lemah. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan memang terdiri dari berbagai nilai dan moral yang berbeda namun begitu hendaknya diantara perbedaan tersebut ada sebuah jalan tegah yang tentu saja memposisikan perempuan di pihak yang aman.
• • •

0 comment:

Posting Komentar

Kindly write your comment