Teori Strukturalis II: Teori Gunnar Myrdal: Keterbelakangan Negara Berkembang

Gunnar Myrdal lahir di Gustafs, Daerah Dalarna, Swedia, 6 Desember 1898. Beliau adalah seorang ekonom dan politikus Swedia dan juga merupakan anggota parlemen dari Sosial Demokrat yang menjabat sebagai Menteri Perdagangan Swedia antara 1945—1947. Selain itu beliau juga merupakan profesor ekonomi kerakyatan di Fakultas Ekonomi Stockholm antara tahun 1933—1947 dan pada tahun 1960-1967beliau menjabat sebagai profesor ekonomi internasional di Universitas Stockholm. Pada tahun 1974 Myrdal menerima penghargaan Nobel Ekonomi yang ditermanya bersamaan dengan Friedrich August Hayek.

Pada pertengahan tahun 1950-an, Gunnar Myrdal melontarkan thesis tentang keterbelakangan yang terjadi di negara berkembang.Menurut Myrdal adanya hubungan ekonomi antara negara maju dengan negara berkembangjustru menimbulkan ketimpangan internasional dalam pendapatan per kapita dan kemiskinan di negara berkembang.

Myrdal membangun teori keterbelakangan dan pembangunan ekonominya disekitar ide ketimpangan regional pada taraf nasional dan internasional. Untuk menjelaskan hal itu dia memakai ide ”dampak balik dan dampak sebar”. Dia mendefinisikan dampak balik sebagai semua perubahan yang bersifat merugikan. Sedangkan dampak sebar menunjuk pada dampak memontum pembangunan yang menyebar secara sentrifugal dari pusat pengembangan ekonomi ke wilayah-wilayah lainnya.

PRAKONDISI STRUKTURAL NEGARA BERKEMBANG
Myrdal mengemukakan pemikirannya mengenai prakondisi struktural yang harus dimiliki oleh negara sedang berkembang dalam melaksanakan proses pembangunan, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Sebagian besar rakyat di negara sedang berkembang berada dalam situasi kekurangan gizi yang parah dan berada dalam kondisi yang menyedihkan baik dalam tingkat kesehatan, fasilitas pendidikan, perumahan dan sanitasi.

2. Adanya struktur sosial yang sangat timpang sehingga alokasi sumber-sumber ekonomi yang produktif sangat banyak untuk keperluan memproduksi barang-barang mewah (conspicuos consumption).

KETIMPANGAN DI NEGARA BERKEMBANG
Gunnar Myrdal menyoroti ketimpangan spasial (spatial inequalities) yang melekat pada model pembangunan ekonomi yang menekankan pasar bebas.Hal ini dapat dilacak dalam karyanya yang berjudul Economic Theory and Underdeveloped Regions. Namun tidak seperti Hirschman, Myrdal tidak percaya bahwa polarisasi spasial secara otomatis akan reversed ketika pembangunan ekonomi mencapai suatu level tertentu.Menurutnya, manakala suatu wilayah mulai tumbuh secara ekonomi maka akan ada penarikan sumber daya manusia, risorsis, dan dana ke daerah tersebut sehingga memberikan kontribusi bagi pertumbuhan selanjutnya. Dengan demikian terjadi penipisan kontribusi orang dan risorsis pada pembangunan di wilayah atau daerah lainnya.Hal ini yang kemudian disebut sebagai “backwash effects”. Ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya backwash effect yaitu :

1. Pola perpindahan penduduk atau migrasi dari Negara miskin ke Negara yang lebih maju.
2. Pola aliran modal yang terjadi.
3. Jaringan transportasi yang lebih baik dinegara-negara yang lebih maju.

Gunnar Myrdal juga berpendapat bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab-menyebab sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan semakin banyak, dan mereka yang tertinggal dibelakang menjadi semakin terhambat. Dampak balik (backwash effect) cenderung membesar dan dampak sebar (spread effect) cenderung mengecil.Secara komulatif kecendrungan ini semakin memperburuk ketimpangan internasional dan menyebabkan ketimpangan regional di Negara-negara terbelakang.Adapun faktor utama yang menyebabkan ketimpangan ini adalah adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, adanya pasar yang luas dan konsentrasi modal keuangan di negara maju dan hal hal tersebut sangat berbeda jauh dengan kondisi di negara berkembang.Kemakmuran kumulatif timbul di negara maju dan kemiskinan kumulatif dialami rakyat di negara miskin. Dengan perkataan lain, hubungan ekonomi antara negara maju dengan negara miskin menimbulkan efek balik (backwash effect) yang cenderung membesar terhadap negara miskin.

KESIMPULAN TEORI GUNNAR MYRDAL
Menurut Myrdal, upaya untuk memberantas kemiskinan di negara berkembang harus dilakukan dengan campur tangan pemerintah terutama dalam mempengaruhi kekuatan pasar bebas. Kemudian tentang teori keunggulan komparatif yang digunakan oleh ahli ekonomi neoklasik tidak dapat dijadikan petunjuk untuk proses alokasi sumber-sumber ekonomi. Harus ada perlindungan atas industri-industri rakyat yang belum berkembang dari persaingan dengan luar negeri. Pembangunan dinegara-negara maju akan menyebabkan keadaan yang dapat menimbulkan hambatan yang lebih besar bagi Negara-negara yang terbelakang untuk dapat maju dan berkembang. Keadaan yang dapat menghambat pembangunan ini disebut sebagai Backwash effect. Kemudian, keadaan yang dapat mendorong pembangunan dinegara yang lebih miskin disebut Spread Effect.

Bagi Myrdal, satu-satunya cara untuk mengurangi efek dari spatial inequalities adalah melalui intervensi pemerintah. Menurutnya, apabila perencanaan pemerintah lebih efisien maka tidak perlu ada variasi wilayah dalam angka pertumbuhan ekonominya. Akan tetapi, ia menyadari sepenuhnya bahwa dalam banyak situasi pemerintah dalam banyak negara tidak mampu mencapai hal tersebut (Myrdal 1970). Menurutnya perlu adanya strong states untuk menjamin agar mekanisme perencanaan dapat diimplementasikan yang menjadi keyakinan Myrdal mengenai perencanaan sebagai suatu solusi bagi “masalah-masalah pembangunan”.
• • •

0 comment:

Posting Komentar

Kindly write your comment