PROGRAM JAMBANISASI PNPM MANDIRI PERKOTAAN DI KELURAHAN PALBAPANG, KABUPATEN BANTUL

Ringkasan
Program Jambanisasi yang merupakan salah satu program PNPM Mandiri Perkotaan untuk membangun sarana pembuangan khususnya jamban bagi rumah tangga yang belum memiliki jamban dan memiliki jamban yang kurang layak. Program bertujuan agar masyarakat memiliki tingkat kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya membuang hajat di jamban serta mendidik masyarakat desa agar mementingkan kesehatan. Dalam pelaksanaannya ada pengajuan daftar masyarakat yang belum mempunyai jamban maupun mempunyai jamban yang tidak layak, kemudian akan diseleksi. Masyarakat yang masuk dalam daftar penerima jambanisasi akan menerima bantuan dalam bentuk material, seperti kloset jongkok, dan pengerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Program ini dapat dikatakan berhasil karena mampu menaikkan taraf kesehatan dan kebersihan masyarakat namun disamping itu ternyata masih ada masyarakat yang belum sadar akan pentingnya jamban sehingga walaupun mereka telah mendapatkan jambanisasi tetapi masih tetap suka buang air di sungai.

Program ini pada dasarnya dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera yang harapannya membangun mereka dari fasilitas rumah tangga dapat menyokong masyarakat dari dasar. Dengan pemenuhan kebutuhan jamban ini bukan hanya menjaga masyarakat tetapi juga menjaga lingkungan sekitar sehingga kebaikan bersama dapat terwujud. Kaitan yang lebih mendalam dalam indikator kemiskinan yang dirilis BPS menyebutkan bahwa salah satu indikator kemiskinan adalah tidak adanya sarana pembuangan air besar yang dimiliki rumah tangga seperti rumah tangga lainnya, program ini dimaksudkan dengan pemberian jamban dapat mengurangi indikator kemiskian tersebut. Pemberian jamban ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, dengan masyarakat yang sehat mereka dapat mengakses pekerjaan dan memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga menjadi sejahtera.
Indonesia memiliki persoalan kemiskinan dan pengangguran. Kemiskinan di Indonesia dapat dilihat dari tiga pendekatan yaitu kemiskinan alamiah, kemiskinan struktural dan kesenjangan antar wilayah. Persoalan pengangguran lebih dipicu oleh rendahnya kesempatan dan peluang kerja bagi angkatan kerja di perdesaan. Upaya untuk menanggulanginya harus menggunakan pendekatan multi disiplin yang berdimensi pemberdayaan. Pemberdayaan yang tepat harus memadukan aspek-aspek penyadaran, peningkatan kapasitas, dan pendayagunaan.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah melalui program PNPM mandiri yang dimulai sejak tahun 2007. Beberapa keberhasilan PNPM Mandiri adalah berupa penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi kelopmpok rakyat miskin, efisiensi dan efektivitas kegiatan, serta berhasil menumbuhkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat. Selain itu, program PNPM Mandiri juga meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana bagi masyarakat miskin di perdesaan, seperti pembanguan jembatan penyeberangan antar desa, pembangunan jamban bagi rumah tangga miskin yang tidak memiliki jamban, peyediaan posyandu, dll.

Salah satu program yang menarik adalah Program Jambanisasi yang merupakan salah satu program PNPM Mandiri perkotaan, disebut PNPM mandiri perkotaan karena dana yang digunakan menggunakan dana BLM atau bantuan langsung masyarakat untuk kota, sehingga walaupun kegiatan dilaksanakan di desa tetap menjadi program PNPM perkotaan. Dalam program jambanisasi yang dilakukan adalah membangun sarana pembuangan khususnya jamban bagi rumah tangga yang belum memiliki jamban dan memiliki jamban yang kurang layak. Program jambanisasi ini dilakukan karena masih banyak warga desa yang memiliki tingkat kesadaran dan pemahaman yang rendah tentang pentingnya membuang hajat seperti buang air besar dan buang air kecil di jamban. Selama ini banyak masyarakat perdesaan yang masih melakukan kegiatan tersebut di sungai, sehingga mencemari air sungai dan menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya.

APA ITU PROGRAM JAMBANISASI ?
Program jambanisasi adalah salah satu program pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan bidang kesehatan yang masuk dalam lingkup PNPM mandiri perkotaan yang diberikan dalam bentuk penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pembangunan jamban bagi masyarakat kurang mampu.

TUJUAN PROGRAM JAMBANISASI
Kebiasaan membuang hajat sembarangan jelas tidak baik untuk kebersihan lingkungan hidup. Sebab bisa menyebabkan timbulnya penyakit yang disebabkan pencemaran lingkungan, seperti diare, kulit, dan disenri. Karena itu, program jambanisasi perlu dilakukan. Selain itu, dalam program ini, Dinas Kesehatan dan pihak-pihak terkait akan memberikan sosialisasi ke masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran menerapkan hidup bersih dan sehat dengan tidak buang hajat sembarangan. Dengan kesadaran dan penyediaan fasilitas jamban yang memadai akan mengurangi jumlah pencemaran limbah disungai akibat kotoran manusia. Karena selama ini banyak masyarakat yang membuang hajat di sungai disebabkan oleh, tidak memiliki jamban ataupun karena jamban yang digunakan kurang layak sehingga mereka memilih untuk membuang hajat di sungai.

Adapun tujuan utama dari program jambanisasi ini adalah :
1. Untuk mendidik masyarakat desa agar mementingkan kesehatan.
Banyak warga masyarakat yang hidup dalam keluarga yang tidak memiiki sarana sanitasi yang baik sehingga banyak warga membuang hajat di sungai, sawah, maupun ladang. Menurut data kesehatan, kotoran manusia mengandung bakteri e-coli yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti diare, disentri, dan penyakit kulit. Sehingga sebelum diadakan program jambanisasi ini, ada kader yang memberikan sosialisasi kepada masyarakat desa tentang budaya hidup sehat.

2. Terciptanya masyarakat yang sadar akan bahaya penyakit yang ditimbulkan akibat buang air sembarangan.
Diharapkan program jambanisasi ini akan memicu kesadaran masyarakat dengan pola hidup sehat yang bisa dimulai dari membuang hajat pada jamban. Dengan sosialisasi yang dibeikn berupa peringata hidup sehat dapat mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang hajat sembarangan.

3. Menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Pemberian bantuan pembangunan jamban ini untuk mengharuskan masyarakat membuang hajat dijamban, dan tidak sembarangan dilakukan. Sehingga dengan berubahnya pola perilaku masyarakat akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa khususnya masyarakat miskin atau kurang mampu.
Dalam indikator kemiskinan yang dirilis BPS menyebutkan bahwa salah satu indikator kemiskinan adalah tidak adanya sarana pembuangan air besar yang dimiliki rumah tangga seperti rumah tangga lainnya, program ini dimaksudkan dengan pemberian jamban dapat mengurangi indikator kemiskian tersebut. Pemberian jamban ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, dengan masyarakat yang sehat mereka dapat mengakses pekerjaan dan memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga menjadi sejahtera.

IMPLEMENTASI PROGRAM JAMBANISASI
Alur Penerimaan Program Jambanisasi 
Masyarakat kurang mampu yang belum memiliki jamban à dipilih dan diseleksi oleh kader tingkat RT/pedukuhan à diseleksi di tingkat kelurahan à diseleksi oleh pengurus à terpilih peserta jambanisasi. Masyarakat yang masuk dalam daftar penerima jambanisasi akan menerima bantuan dalam bentuk material, seperti kloset jongkok, dan semen untuk membangun jamban. Pengerjaannya akan dilakukan secara gotong royong. 

Program jambanisasi ini tentunya sangat bermanfaat dan berguna bagi masyarakat kelurahan Palbapang, terutama bagi masyarakat yang belum memiliki jamban. Alasan utama warga yang tidak memiliki jamban adalah karena mereka kurang memiliki biaya untuk membuat jamban. Selama ini mereka yang belum memiliki jamban, BAB di sungai/sawah/WC tradisional yang tidak memiliki saptitank (jemblung). Fakta ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa salah satu alasan pokok yang menyebabkan perilaku seseorang adalah adanya sumber daya (waktu, uang, tenaga kerja, ketrampilan dan pelayanan) (Universitas Sumatra Utara, 2008).

Selain itu, masalah utama yang terkadang luput dari perhatian pemerintah adalah kurangnya kesadaran warga untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, khususnya untuk BAB di jamban. Kesadaran yang tidak terbangun dengan baik tidak akan menimbulkan perubahan perilaku yang signifikan. Teori dari Roger menyebutkan bahwa perubahan perilaku seseorang melalui proses yang berurutan yaitu kesadaran, ketertarikan, penilaian, percobaan, dan pengadaptasian ( Notoadmodjo, 2007) . Jika kesadaran warga masih kurang, warga akan sulit untuk melewati proses-proses berikutnya dalam pengubahan perilaku untuk BAB di jamban.

Kurang nyatanya dampak perilaku BAB di sembarang tempat yang dilakukan oleh warga juga menjadi salah satu penyebab kurangnya pemahaman warga akan pentingnya BAB di jamban. Sebagian masyarakat menganggap bahwa berak di sungai tidak ada pengaruhnya dengan kesehatan. Karena sungai yang mereka gunakan untuk BAB berada jauh di tengah dari pemukiman. Selain itu kebiasaan juga menjadi faktor yang juga mempengaruhi niatan seseorang untuk melakukan sesuatu, termasuk BAB di jamban. Sebagian warga yang enggan BAB di jamban karena memang sejak dahulu mereka tidak terbiasa BAB di jamban, merka lebih terbiasa dan lebih nyaman untuk BAB di sungai. Pemikiran seperti diatas yang sulit untuk diubah.

Program jambanisasi yang ada di beberapa wilayah bisa dibilang berhasil. Berhasil untuk menurunkan angka masyarakat yang tidak memiliki jamban, namun kurang berhasil dalam hal meningkatkan kesadaran masyarakat untuk BAB di jamban. Sebagian masyarakat yang memperoleh bantuan jamban ini justru tidak mengunakan bantuan itu sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah. Jamban tersebut hanya digunakan untuk para tamu yang bertamu dirumah warga tersebut. Walaupun sudah dubuatkan jamban oleh pemerintah, namu masih banyak warga yang tidak mempergunakannya dengan baik dan tetap BAB di sungai.

KELEBIHAN PROGRAM JAMBANISASI
1. Meningkatkan Pola Hidup Sehat
Dengan adanya program jambanisasi, pola hidup masyarakat menjadi lebih sehat. Sebelumnya mereka tidak memiliki jamban sendiri dan kalaupun ada sudah tidak layak pakai. Hal inilah yang kemudian membuat masyaraka memilih untuk membuang hajat di sungai ataupun ladang pertanian. Perilaku seperti ini membuat pola hidup masyarakat jauh dari kata sehat karena hajat yang mereka buang di sembarang tempat dapat berakibat pada pencemaran kuman penyakit seperti penyakit kulit, dll.

2. Meminimalisir Pencemaran Air Sungai
Dengan adanya jamban di setiap rumah, warga tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan hajat. Sungai yang dijadikan sebagai tempat pembuangan hajat tentu dapat dengan mudah menyebarkan kuman penyakit, terlebih lagi selain membuang hajat, warga juga melakukan aktivitas mandi dan mencuci baik pakaian maupun peralatan makan di sungai.

3. Meningkatkan Kebersihan Lingkungan Hidup
Program ini tentu berpengaruh besar pada tingkat kebersihan lingkungan hidup. Jika sebelumnya warga mempergunakan sungai ataupun ladang pertanian untuk membuang hajat dimana hal tersebut berpengaruh pada pencemaran lingkungan, kini setelah adanya jamban pribadi di setiap rumah, kebersihan lingkungan hidup meningkat. Dan tingkat penyebaran penyakit lewat hajat yang mereka buang dapat diminimalisir, seperti disentri, dll.

INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM
Menurut Agus Dwiyanto, terdapat dua perspektif yang bisa digunakan sebagai indikator dari keberhasilan suatu program, yaitu :

1. Tinjauan proses, yang menekankan pada konsistensi antara pelaksanaan program dengan policy guide lines (petunjuk lapangan dan petunjuk teknis). Maksudnya adalah suatu program dikatakan berhasil apabila program tersebut berjalan sesuai dengan petunjuk yang ada. Dalam program jambanisasi di kelurahan Palbapang, program ini sudah dilaksanakan sesuai teknis yang ada dan dibagikan kepada masyarakat yang masuk dalam indikator penerima program jambanisasi, seperti warga yang tidak memiliki jamban dan memiliki jamban namun kurang layak, walaupun belum bisa mencover seluruh masyarakat yang membutuhkan karena jumah penerima yang dibatasi.

2. Tinjauan hasil, yang mengatakan bahwa suatu program sudah bisa dikatakan berhasil walaupun program tersebut tidak sejalan/sesuai dengan prosedur dan petunjuk yang ada. Maksudnya adalah hasil dari suatu program yang ada belum tentu berhasil (sesuai dengan tujuan yang diharapkan), namun apabila dalam proses dan operasionalisasinya sudah sesuai dengan prosedur yang ada, maka program tersebut dapat dikatakan berhasil. Dalam proram jambanisasi ini sudah berhasil karena pelaksanaan penerimaan sudah sesuai dengan prosedur yang ada meskipun dalam operasionalisasinya masih banyak masyarakat khususnya para lansia yang masih mempertahankan kebiasaan untuk membuang hajat disungai daripada di jamban. Tinjauan hasil juga dapat mengindikasikan bahwa sudah banyak rumah yang memiliki jamban dan menggunakannya untuk meningkatkan kesehatan keluarga.

Dalam hal ini, menurut kelompok kami program jambanisasi sudah bisa dikatakan berhasil karena dalam prosesnya sudah sesuai dengan prosedur yang ada meskipun pada beberapa daerah hasil dari program ini belum maksimal, dikarenakan operasionalisasinya, masih ada masyarakat yang mau menerima untuk membiasakan hidup sehat, namun ada masyarakat yang belum bisa menerima kebiasaan membuang hajat di jamban yag sudah disediakan karena faktor kebiasaan di masyarakat.

KEKURANGAN PROGRAM JAMBANISASI
1. Masih Adanya ‘Pemilihan’ Masyarakat Penerima Program
Jamban (kakus) sebenarnya merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari dapat tidak salah jika ada yang mengatakan setiap rumah tangga harus memiliki jamban (khususnya di daerah yang padat penduduknya). Namun PNPM sendiri masih memberikan batasan penerimaan program ini sehingga belum bisa mencakup seluruh masyarakat yang membutuhkan.

2. Lamanya Pelaksanaan Program
Hampir sama seperti program-program pemerintah yang kebanyakan masih lama dalam pelaksanaannya, Jambanisasi ini terkadang masih dihadapkan dengan proses yang cenderung lama untuk turunnya material.
• • •

0 comment:

Posting Komentar

Kindly write your comment