Perpustakaan, Pilar Kebudayaan yang Terabaikan

Pernahkah anda berpikir tentang pentingnya makna sebuah ruangan yang dipenuhi buku dan arsip-arsip serta dokumentasi sejarah dalam pengembangan sebuah daerah? Tentu saja jawabannya adalah sangat penting. Terlebih jika dihadapkan pada urusan akademik, administrasi dan birokrasi maka ruangan tersebut bisa sangat ditunggu jam bukanya dan dihalang-halangi ketika akan tutup. Itulah perspektif masyarakat tentang perpustakaan yang cenderung diingat hanya saat dibutuhkan. Perpustakaan kini sudah beralih fungsi dari tempat menuntut ilmu menjadi tempat melengkapi tuntutan tugas, menjadi jarang dikunjungi bahkan terabaikan. Terkadang hal tersebut menyalahkan keadaan dimana perpustakaan ditampilkan tidak menarik dan membosankan, namun disisi lain justru ditoleransi karena adanya perkembangan teknologi yang memudahkan akses informasi tanpa harus ke perpustakaan.

Jika berbicara tentang perubahan jaman dan pergeseran pola perilaku masyarakat di dalamnya, kita akan berbicara tentang perubahan sosial. Kemajuan jaman menjadi faktor utama perubahan sosial, dimana struktur masyarakat hingga kebudayaannya menjadi terpengaruh dan semakin lama meninggalkan sejarahnya. Pergeseran ini secara langsung membuat fungsi masyarakat juga berubah begitu pula dengan dampaknya yang secara tidak langsung menggantungkan eksistensi perpustakaan di kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari pendidikan yang diterapkan pada anak-anak jaman sekarang yang mana sudah terdidik untuk malas membaca buku. Dibandingkan dengan jaman dulu dimana orangtua mereka mendorong anak-anaknya untuk ke perpustakaan dan membaca buku, sekarang fungsi orangtua bukan lagi sebagai pendorong mereka namun sebagai penyedia fasilitas semata. Tidak ada lagi semangat untuk membaca buku, yang ada adalah semangat untuk mencari cara tercepat dalam mencari informasi yaitu dengan akses internet. Dampaknya, perpustakaan menjadi tempat yang terakhir kali didatangi saat orang kepepet mencari informasi yang detail. Sehingga dapat dikatakan efek kemajuan teknologi ini terasa langsung pada fungsi dan keberadaan perpustakaan yang lama-kelamaan akan menjadi sebuah museum tempat keberadaan buku-buku dalam rak yang berdebu dan hanya dipandang dari jauh. Dan di masa mendatang orang-orang akan mengatakan itulah perpustakaan, yang pernah berjaya sebelum internet menguasai segalanya.

Budaya atau kebudayaan merupakan suatu unsur masyarakat di setiap daerah yang meliputi tata cara mereka dalam menjalani hidup, kesenian yang mereka miliki, hingga masuk pada aspek anake kuliner di daerah tersebut. Melihat secara global, Indonesia memiliki kebudayaan yang luar biasa dibandingkan negara-negara lainnya. Hal ini yang menyebabkan Indonesia sering dikunjungi untuk perihal studi budayanya. Salah satu pulau yang kaya dengan budaya adalah Pulau Jawa. Pulau ini melintang dengan pantai panjangnya, menyajikan kekayaan yang dipuji oleh kalangan internasional. Kekayaan Pulau Jawa ini dianggap berpusat di sebuah provindi yang terletak di selatan pulau, yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan menyandang gelar ‘istimewa’ maka memang benar daerahnya memiliki potensi yang memikat dibidang kebudayaan. Selain itu didukung oleh masyarakatnya yang juga berhati nyaman, Yogyakarta menjadi tempat kunjungan yang tak bisa dilewatkan ketika singgah ke Pulau Jawa. Keadaan yang seperti ini memang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik dalam mengembangkan kapasitas mereka. Namun yang terjadi belakangan ini justru perubahan kebudayaan yang salah, meninggalkan ciri khas dan moral yaing baik. Tak bisa dipungkiri lagi perubahan tersebut terjadi karena asimilasi kebudayaan asing yang datang ditambah dengan rasa tidak percaya diri terhadap kebudayaan sendiri yang tumbuh di diri kaum muda sehingga yang ditakutkan lama kelamaan kebudayaan Jawa akan menghilang dan masyarakat tak mampu mengidentifikasi identitas mereka.

Keberadaan dua hal yang berbeda namun saling berkaitan adalah perpustakaan dan kebudayaan. Keduanya merupakan bagian sejarah yang turut serta dalam perubahan masyarakat. Keduanya juga kini berada dalam ombang-ambing kemajuan jaman dan perubahan masyarakat yang tidak tau akan dibawa kemana. Sehingga dengan adanya keterikatan tersebut keduanya harus mampu saling mendukung demi eksistensinya. Serta ada sebuah makna dimana tanggung jawab sosial yang tergantung diantara kebudayaan dan perpustakaan adalah membawa masa depan masyarakat ke arah yang lebih baik tanpa menghilangkan apa yang disebut dengan kearifan lokal mereka.

Perpustakaan Sebagai Pilar Kebudayaan

Jika dituntut tentang apa itu perpustakaan dan hubungannya dengan kebudayaan maka jawabannya adalah perpustakaan sebagai pilar kebudayaan. Dikatakan sebagai pilar karena memang kebudayaan dapat terus bertahan salah satunya dengan adanya perpustakaan. Sama dengan Indonesia yang memiliki pilar-pilar untuk menyangganya agar tetap utuh dan tegak berdiri, maka kebudayaan membutuhkan perpustakaan sebagai sarana informasi dan penyedia kronologis sejarah kebudayaan. Sebagai sebuah pilar tentu saja perpustakaan juga harus dijaga keberadaannya dan dibuat sedemikian rupa agar terus dapat menyokong kebudayaan itu sendiri. Namun yang menjadi masalah adalah keberadaan perpustakaan yang kini hampir dilupakan masyarakat. Perpustakaan menjadi tempat membosankan dengan buku-buku bertumpuk yang kadang tidak tertata secara sistematis membuat pengunjung sulit mencari buku yang dibutuhkannya. Sehingga keadaan yang seperti ini harus dibenahi. Munculnya berbagai halangan yang menyebabkan tersingkirnya keberadaan perpustakaan memang harus dianggap sebagai tantangan sehingga nantinya akan dapat diselesaikan secara profesional.

Sebagai pilar yang berdiri tegak dibawah naungan kebudayaan, perpustakaan memiliki nilai tak terhingga dalam menyediakan pedoman pengembangan masyarakat. Dari sanalah akan muncul pendangan-pandangan baru akan keberadaan budaya yang semakin lama menghilang sehingga harus tetap dipertahankan. Selain itu yang terpenting adalah kekayaan sejarah yang diberikan oleh perpustakaan tidak bisa digantikan oleh hal-hal lain. Kertas-kertas usang kekuningan adalah bagian dari perpustakaan daerah yang tidak bisa diabaikan isinya. Foto-foto yang luntur juga merupakan bagian dari sejarah yang barangkali akan berubah maknanya secara mendalam jika diperbarui. Selain itu, perpustakaan hingga kini masih dilihat sebagi sosok orangtua yang hidup ratusan tahun lamanya beserta anak-anaknya yaitu masyarakat dan menjadi saksi mata atas semua perbuatan mereka. Sehingga disana adalah budaya, dimana tertulis di dalam kertas maupun yang tergambar di foto dan tersimpan rapi di dalam perpustakaan siap untuk dibaca dan dimaknai. Oleh karena itulah bagaimana kebudayaan dapat terus hidup dari perpustakaan diantara tuntutan untuk bertahan di permukaan masyarakat yang semakin kritis.


Di Yogyakarta sendiri yang memiliki catatan budaya yang luar biasa, setidaknya mampu menorehkan catatan sejarah yang tidak bisa dipandang sekedar sejarah. Hal tersebut tentunya berkaitan dengan perpustakaan daerahnya yang mengambil posisi sebagai lemari dokumen sejarah Yogyakarta dari jaman dulu hingga jaman modern ini. Terlebih sebagai kota yang menyandang gelar ‘Kota Pelajar’, keberadaan perpustakaan menjadi ikon yang sangat penting untuk mempertanggung jawabkannya. Tidak salah lagi ketika perpustakaan dijadikan pilar budaya di Yogyakarta karena di sanalah esensi budaya itu berasal. Jika dilihat lebih jauh, seseorang yang tertarik dengan kota ini akan mencari asal usulnya, menggali lebih dalam tentang apa saja kekayaan di dalamnya sehingga mereka membutuhkan apa itu perpustakaan. Dan yang menarik adalah, tidak semua perpustakaan memiliki buku yang lengkap tentang daerah lainnya sehingga mereka tentu saja akan mendatangi perpustakaan yang ada di daerah itu sendiri. Oleh karena itulah penyediaan perpustakaan dan pelayanannya harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga banyak menarik orang untuk datang ke sana baik sekedar ingin berkunjung ataupun belajar mendalam tentang Yogyakarta. Bukan hanya itu, di Kota Pelajar ini perpustakaan memang dipandang sebagai sumber utama kekayaan ilmu, tidak seperti toko buku yang sering terbatas isinya, tetapi perpustakaan dianggap yang serba tahu sehingga meskipun dengan perkembangan jaman yang semakin pesat, tempat ini masih tetap ada yang mengunjungi meskipun jumlahnya tidak sebanyak dulu.

Perpustakaan dan Kemajuan Teknologi

Banyak orang yang tidak menyadari meskipun dunia ini telah terisi oleh teknologi yang semakin maju, namun perpustaakan memiliki banyak unsur yang tidak bisa tergantikan oleh akses instan yang disediakan teknologi modern. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak terlepas dari kebutuhan akan pengetahuan baru yang terus berkembang seiring kemajuan jaman yang biasanya tercukupi oleh adanya internet dan berbagai perangkat teknologi. Namun seringkali yang disajikan tak lebih dari informasi yang dangkal bahkan tidak valid. Adanya informasi yang salah dan menyesatkan di dunia internet sulit disaring karena setiap orang bebas mengutarakan opininya yang belum tentu benar. Hal ini tentu saja membahayakan jika tidak ada tindakan lanjut dari kaum akademis maupun pihak intelektual lainnya sehingga mereka cenderung kurang percaya dengan referensi internet daripada perpustakaan kecuali untuk jurnal dan e-book yang beredar di dunia maya. Banyak. ilmu yang dapat diperoleh dari perpustakaan yang tentu saja lebih bisa dijadikan referensi karena akan ada penyaringan yang lebih ketat sehingga pada keadaan ini perpustakaan menjadi tidak bisa digantikan oleh pemberi informasi lainnya.

Perpustakaan memiliki nuansa berbeda yang menawarkan kenyamanan dan ketenangan dibalik keberadaan tumpukan buku dan tempat membaca. Tidak bisa dihindarkan lagi jika keadaan seperti ini sulit di dapatkan di tempat lain. Banyak orang yang tertarik datang ke perpustakaan karena sense yang berbeda ketika masuk ke dalamnya , baik itu tentang aroma buku, pemandangan yang khas dari susunan buku di rak, hingga elemen-elemen lain yang berbeda dari satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya. Disinilah perbedaan mendasar yang diusung oleh sebuah perpustakaan, yang tidak bisa diabaikan oleh masyarakat ketika masuk ke dalamnya. Sangat berbeda ketika mereka hanya duduk dan berkelana di dunia internet tanpa membuka lembar demi lembar kertas. Mereka akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan namun tidak menyerap lebih banyak ilmu selain itu. Hal ini memang seringkali dibutuhkan oleh orang-orang yang sedang mengerjakan sebuah tugas, tetapi tidak untuk kalangan yang tertarik untuk membaca banyak pengetahuan.kemajuan teknologi memang berguna dalam mempercepat akses, namun belum mampu membawa sense dari akses itu sendiri.

Basis Kebudayaan untuk Perpustakaan

Karena antara kebudayaan dan perpustakaan memiliki keterikatan yang khas, maka jika ada proses pengembangan salah satunya maka hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menciptakan simbiosis mutualisme dimana kedua belah pihak akan diuntungkan dalam hasil proses tersebut. Lalu terbersit pertanyaan, akankah berhasil upaya simbiosis ini? Tentu saja jawabannya adalah ya, dengan syarat upaya yang dilakukan adalah benar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan pemanfaatan keterkaitan antara perpustakaan dengan kebudayaan diantaranya:

1. Kedudukan budaya dan perpustakaan tidak terlalu jauh jaraknya sehingga keduanya mampu berinteraksi secara sempurna

Yang dimaksud dengan kedudukan adalah dimana keduanya saling terkait dan menjadi sebuah sistem dan saling mendorong. Tentu saja dengan berbagai komponen serta elemen penyusun lain yang melengkapi sistem ini seperti pelayanan dan akses terhadap budaya dan perpustakaan dapat melancarkan proses perkembangan keduanya. Kedudukan yang seimbang dan tidak berjarak jauh dikeduanya merupakan syarat penting agar dapat dapat berkembang, khususnya bagi pengembangan perpustakaan. Jika kebudayaan diposisikan terlalu jauh dari perpustakaan maka dampaknya adalah suatu hari salah satunya dapat menghilang dan menyusul satu lainnya. Hal ini dapat terjadi karena jarak tersebut menyebabkan fungsi saling dorong antara perpustakaan dengan kebudayaan tidak efisien. Disini keduanya yang memang terkait ketika perpustakaan dikembangkan berdasarkan kebudayaan sekitar maka daya tarik yang diberikan semakin meningkat.

Mengapa kedudukan kebudayaan penting dalam mengembangkan suatu perpustakaan daerah? Dihadapkan dengan pertanyaan tersebut mungkin sulit untuk menjawabnya jika tidak mengerti tentang dampak timbal balik yang ditimbulkan keduanya. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwasanya hubungan budaya dengan perpustakaan dapat diibaratkan ibu dan anak, walaupun telah terpisah jauh tetap saja memiliki ikatan yang kuat. Secara garis besar, budaya suatu daerah memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap perpustakaan. Bukan hanya sebagai tempat membaca dan menyimpan dokumen daerah, perpustakaan lebih dekat kepada marketing budaya itu sendiri. Dapat dibayangkan jika tidak ada perpustakaan di sebuah daerah, bagaimana seseorang dapat mengerti lebih dekat tentang potensi dan budaya di daerah itu. Tentu saja akan sulit dan menjadi tidak menarik, terlebih dengan waktu yang singkat untuk mengerti budaya sebuah daerah akan berat sekali khususnya jika harus turun ke lapangan. Oleh karena itulah kedudukan di keduanya memang tidak bisa seutuhnya diseimbangkan, namun setidaknya harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan yang harus disediakan agar proses ikatan tersebut dapat berjalan lancar.

2. Perpustakaan untuk inventarisasi Budaya Jawa

Dilihat dari kacamata Budaya Jawa yang sejak dulu kala memang lebih mendorong sejarah lewat dokumentasi tulisan-tulisan aksara, perpustakaan adalah tempat budaya itu tinggal. Meskipun sebagian besar peninggalan terdahulu ditempatkan di museum, tetapi untuk catatan-catatan daerah masih bisa ditemukan di perpustakaan. Dengan kata lain perpustakaan memiliki fungsi inventarisasi budaya setempat. Bedanya dengan museum adalah, ketika di museum yang banyak ditemukan peninggalan berupa barang yang mencerminkan budaya, sedangkan perpustakaan untuk penjelasnya secara tertulis. Kebiasaan masyarakat Jawa yang senang menulis menciptakan karya-karya sejarah yang luar biasa, dan dikemas dalam kronologi perkembangan kebudayaan itu sendiri dan ditempatkan dalam perpustakaan.

Sebagai inventarisasi budaya, akan banyak hal yang muncul di dalam perpustakaan sendiri. Masyarakat dapat membandingkan budaya di jaman dulu dengan jaman sekarang. menariknya, ketika hal ini terjadi maka tak jarang masyarakat melakukan adopsi kebudayaan lama sehingga walaupun muncul perubahan sosial, perubahan tersebut setidaknya memiliki nilai budaya lama. Dengan kata lain, perpustakaan sebagai alat inventaris yang berdaya guna tinggi harus mampu menggunakan basis budaya untuk perkembangan kedepannya. Hal ini mengingat budaya yang berkembang direkam oleh catatan di dalam perpustakaan, maka perpustakaan seharusnya senantiasa berada mendampingi budaya itu sendiri.

3. Adopsi fisik hingga akses pelayanan perpustakaan

Jika banyak daerah yang membuat perpustakaan dapat menyesuaikan diri dengan potensi lingkungannya seperti perpustakaan alam, perpustakaan keliling, hingga perpustakaan cyber, maka dalam mendorong minat baca masyarakatnya hal serupa dapat diimplementasikan pada pengembangan perpustakaan berbasis kebudayaan. Khususnya Budaya Jawa yang unik dan khas dapat dipadukan dengan unsur perpustakaan di dalamnya. Yogyakarta sebagai kota budaya dapat memanfaatkan nilai pariwisata di dalamnya sebagai unsur mengembangkan elemen perpustakaan. Misalkan dengan membawa perpustakaan menjadi destinasi wisata yang di masukkan dalam paket wisata. Tentu saja yang dibutuhkan adalah kerjasama pihak seperti dinas pariwisata dan pengelola pariwisata yang akan mengurus hal ini. Memasukkan perpustakaan dalam paket wisata memang harus dipertimbangkan dengan matang mengingat akan banyak sektor yang harus diperbaiki ketika akan mengimplementasikannya. Jika berbicara dampak negatifnya, kita akan melihat perpustakaan yang seolah-olah menjadi tempat tontonan, bukan sebagai perpustakaan yang disediakan untuk mengakses ilmu. Selain itu juga beresiko menjadi tempat komoditasi yang mana menimbulkan arus perdagangan di sekitarnya. Hal ini juga tidak baik jika terjadi karena akan mengganggu lingkungan perpustakaan itu sendiri. Namun dibalik sisi negatif ini akan banyak cara menanggulangi resiko yang muncul di dalamnya. Yang pertama adalah ketika perpustakaan dijadikan jalur wisata, maka wisatawan tertarik untuk mengerti lebih lanjut tentang Budaya Jawa yang dapat mereka dapatkan di perpustakaan. Kedua, program ini dapat memberikan insentif terhadap perpustakaan itu sendiri sehingga dapat menguntungkan secara ekonomi. Dan yang ketiga, dengan paket wisata ini maka hubungan antara kebudayaan dengan perpustakaan akan semakin terlihat. Dimana orang-orang dapat melengkapi tour mereka dengan informasi lengkap daerah wisata dari perpustakaan.

Untuk itu dibutuhkan adopsi fisik yang menunjang sebagai daya tarik perpustakaan. Banyak perpustakaan yang menawarkan daya tarik tersendiri lewat penampilannya. Seringkali perpustakaan dianggap membosankan karena dari luarnya seperti rumah biasa dan tidak memiliki ciri khas. Pengembangan secara fisik dapat dilakukan dengan merombak penampilan ini dengan esensi budaya Yogyakarta yang khas. Bukan berarti usaha yang dilakukan dengan mengubah bangunan, tetapi lebih pada penggunaan unsur budaya di dalamnya seperti menggunakan nuansa adat Jawa yang kental, penambahan asesoris tampilan sehingga terlihat lebih ‘Jawa’. Selain itu agar tidak melupakan nilai dasar perpustakaan, maka akan ada perbedaan dimana tempat baca perpustakaan dengan tempat kunjungan wisatawan agar tidak terjadi alih fungsi total perpustakaan menjadi tempat wisata.

Perpustakaan daerah harus terus dijaga keberadaannya karena dari sana kita mengerti bagaimana sebuah proses sejarah itu terjadi. Jika suatu saat sebuah daerah terancam hilang identitasnya, maka perpustakaan seharusnya mampu sebagai saksi identitas yang harus dipertahankan. Dengan kata lain, perpustakaan daerah merupakan organ dan daerah itu sendiri sebagai tubuhnya. Jika organ tersebut kehilangan fungsinya, maka tubuh akan menjadi sakit bahkan mati. Sedangkan unsur masyarakat yang makin lama terkikis oleh waktu adalah kebudayaan. Masyarakat tumbuh dan berkembang dengan budaya yang melekat di kehidupannya, meskipun tidak mereka sadari budaya itu menjadi kebisasaan yang mendarah daging. Posisi budaya yang seperti ini mengharuskannya untuk tetap terjaga dan tidak terpengaruh oleh budaya lain yang berdampak negatif. Jika budaya itu telah rusak maka sejarah yang akan dituliskannya juga akan buruk. Dari sinilah semuanya terikat dalam sebuah sistem kebudayaan.

Oleh karena itulah untuk menjaga sistem itu berjalan dengan baik maka basis budaya akan sangat berguna jika diterapkan dalam mengembangkan sebuah perpustakaan daerah. Selain ikatan kuat diantara keduanya yang menyebabkan timbulnya ketergantungan, jika perpustakaan daerah khususnya di Jawa dapat dijaga bersamaan dengan budayanya maka potensi untuk mengembangan daerah tersebut juga akan semakin kuat. Terlebih dihadapkan dengan berbagai faktor yang muncul di masa-masa sekarang, dimana krisis jati diri masyarakat khususnya masyarakat Jawa semakin menipis. Globalisasi menjadi tokoh utama dalam perubahan budaya, namun masyarakat yang menjadikan globalisasi sebagai aktor. Jika masyarakat menggunakan diri mereka sebagai aktor utama sebuah perubahan sosial dan budaya, tentu saja makna sebuah kebudayaan itu akan lestari. Sedangkan dari segi perpustakaan sebagai salah satu pilar kebudayaan Jawa, membutuhkan masyarakat sebagai komponen pelengkapnya. Disini masyarakat adalah penulis sejarah kebudayaan yang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan perpustakaan salah satu pengabadiannya.

Menggunakan budaya untuk mengembangkan sektor perpustakaan dan arsip daerah adalah salah satu cara menjaga eksistensi keduanya. Masih banyak cara yang dapat dilakukan dalam menjaga kedua hal yang berbeda namun saling berkaitan ini. Terkadang masyarakat sering lupa keberadaan mereka karena telah sibuk dengan kemajuan jaman sehingga keadaan ini harus segera diperbaiki dengan membawa budaya serta perpustakaan menjadi salah satu faktor pencetus perubahan sosial dang tak lepas dari kearifan lokal masyarakat.

(Artikel ini meraih juara harapan I, Lomba Menulis Artikel Kebudayaan BPAD Yogyakarta 2014)
-Read More
• • •

Budaya Jelek : MENCACAT (MENYACAT)


Yuk bahas sebentar mengenai budaya jelek yang pasti ada di sekitar kita!
Mencacat (menyacat)/ mencela: adalah tindakan mencari kejelekan orang lain; men’cacat’ bukan men’catat’; memperjelas sebuah buruk dari orang/benda lain; menyalahkan suatu hal; dan lain lain yang mendefinisikan apa itu MENCACAT
Budaya ini sangat disepelekan dan hampir tidak disadari dapat merusak moral bangsa.

Dampak tercacat: sakit hati kronis, tekanan darah tinggi, hipertensi, stress

Dampak pencacat: tinggi hati, perfeksionis, dijauhi orang Bedakan MENCACAT dengan:

Gosip: membicarakan orang lain, bisa baik atau buruk. Atau disebut ghibah

Kritik: memperbaiki suatu hal dengan memperlihatkan kekurangan yang harus diperbaiki

Mencocot: nama lain kasarnya dari ngomong pake mulut, senjata adu mulut :D

Mencacat (nyacat) terkadang sudah menjadi hobi seseorang dan bisa dilakukan dalam alam bawah sadar. Karena sudah menjadi hobi dan habit, maka orang yang suka mencacat tidak menyadari apa yang telah dia lakukan. Kalau perlu kita sadarkan mereka dengan ciuman di pipi pakai tangan (baca: tabok)

Pasti ada orang-orang disekeliling kita yang kerjaannya nyacat, dan parahnya kalau nyacat itu udah KELEWATAN plus nggak ada yang mau negur itu orang. Keadaan ini seringkali disebabkan oleh rasa perfeksionis yang terlalu tinggi, atau merasa diri sendiri yang paling baik (istilahnya: ujub) sehingga orang lain dianggap tidak mampu menyaingi mereka. Nyacat juga dilakukan para pejabat untuk menjatuhkan pejabat lainnya, dan berlaku untuk semua kasus cacat mencacat lain. Pokoknya orang lain pasti tidak ada yang boleh tampil bagus.

Parahnya, mencacat biasanya diiringi tindakan menyombongkan diri tanpa ngaca dirinya sendiri seperti apa.

Budaya mencacat sendiri bisa tumbuh dari lingkungan hidup, dimana keluarga ataupun orang-orang terdekat mereka terbiasa mencacat sehingga secara tidak langsung ikut menciptakan habit. Budaya ini amat sangat super banget nggak baik. Pertama, karena pada dasarnya manusia punya kebebasan menunjukkan dirinya (jati diri). Kedua, karena orang nggak ada yang sempurna jadi biarkan Tuhan yang menilai. Ketiga, nyakitin hati.

Secara pribadi, aku mencoba menjadi pribadi yang baik dengan menekan budaya-budaya sosial yang buruk, salah satunya nyacat. Kejadian yang mengubahku jadi mawas diri ketika waktu terus berlalu dan membagikan pelajarannya, pengamatan sebab-akibat kenapa ada orang yang disukai dan dibenci. Termasuk pada akhirnya menyesal karena masa lalu yang pernah dilakukan itu mempermalukan diri sendiri, dan tobat. Ingin merubah diri menjadi lebih baik.. (sambil nyetel lagu nasyid buat sountrack). Kemudian dari sana aku melihat sekeliling yang terdiri dari berbagai jenis dan mahluk bertabiat berbeda dengan kekurangan dan kelebihan mereka. Mencontoh yang tauladan dan mengkritik diri apakah kekurangan orang lain juga kita miliki.

Aku mulai berpikir saat ingin nyacat orang lain (walaupun pada dasarnya jarang nyacat). Mencoba lebih banyak menebarkan humor agar orang lain bisa tertawa, dan berdiam diri saat ada orang lain mulai serita nyacat-mencacat. Bahkan saat dirumah, jika ada keluarga yang sedang nyacat secara nggak sengaja aku mencoba mengingatkan. Pokoknya jadi orang yang lebih baik pada intinya :lol: . Pada intinya mencoba tidak mencela orang lain itu sulit, apalagi sebagai manusia kita banyak khilafnya jadi kadang mulut ini tidak bisa direm sehingga menyakiti orang lain.

But, overall bedakan mencacat dengan mengejek. Untuk mengejek dan berbicara ketus, aku masih melakukannya karena menurutku bukan bertujuan untuk mencari kesalahan orang. Berbicara sinis juga bukan mencacat, tapi mencacat biasanya sinis. 

Contohnya nyacat sebagai berikut :
“Eh tau nggak, dia beli baju baru mirip punyaku tapi warnanya norak gitu. Nggak cocok banget apalagi dia kan kulitnya item.

“Barang ini kenapa nggak rapi jahitannya padahal harganya mahal. Yang jual nggak niat jualan.

Aku sendiri merasa sulit untuk menyadarkan jika ada temanku yang mulai nyacat karena takut menyinggung perasaannya. Bahkan terkadang yang terjadi teman itu mencacat temannya yang suka mencacat, ironis sekali. So, aku biarkan hidup ini berputar dan biarkan orang lain yang bisa menyadarkan mereka.

Itulah sekilas tentang mencacat. Setidaknya kita tau apakah kita adalah seorang pencacat, yang menurutku adalah seorang penyandang cacat sosial. Jangan berlebihan menilai orang lain dengan menciptakan keburukan mereka dimata orang lain, semua itu dosa. Asek!

Hal-hal kecil yang tak sengaja kita ucapkan terhadap penampilan suatu hal terkadang tidak kita sadari itu adalah mencacat. Sebuah kata yang menurut kita kritik, terkadang juga mencacat. Jadi, memang benar pepatah mengatakan ‘mulutmu harimaumu’. Pujian memang sulit dilontarkan, dan aku salut terhadap teman-temanku yang mudah memuji orang karena aku masih sulit memuji. Semoga kita sebagai manusia memang diciptakan tidak ada yang sempurna, tapi setidaknya kita mencoba untuk sempurna tanpa mencacat usaha orang lain untuk menjadi sempurna ;)
-Read More
• • •

Example Case: ETIKA BISNIS PT LAPINDO BRANTAS (TEORI ETIKA DEONTOLOGI)


Overview: 
Bisnis adalah kegiatan ekonomi yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar menukar, jual beli, memproduksi, memasarkan, bekerja memperkerjakan dan interaksi manusiawi lainnya dengan maksud memperoleh untung.bisnis dapat dianalogikan sebagai kegiatan ekonomis yang kurang lebih terstruktur atau terorganisasi untuk menghasilkan keuntungan. Namun dalam berbisnis banyak pengusaha mengejar keuntungan ekonomi yang tinggi tanpa memperhatikan etika.

Etika adalah prinsip tingkah laku yang mengatur individu atau kelompok. Dengan tetap mengakui peranan sentral dari sudut pandang ekonomi dalam bisnis, perlu segera ditambahkan adanya sudut pandang lain yang tidak boleh diabaikan yaitu mengenai moral. Bisnis yang baik ( good business ) bukan saja bisnis yang menguntungkan. Bisnis yang baik adalah bisnis yang baik secara moral.

Contoh perusahaan yang melanggar etika dalam berbisnis adalah PT Lapindo Brantas. PT Lapindo Brantas INC adalah salah satu perusahaan kontraktor kontrak kerjasama ( KKS) yang ditunjuk BP migas untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi. Saham Lapindo Brantas 100 % dimiliki oleh PT Energi megapersada padahal itu merupakan anak perusahaan Grup Bakrie. CEO PT Lapindo Brantas adalah Mirwan Bakrie yang merupakan adik kandung Aburizal Bakrie pemilik Grup Bakrie. 

Adapun dasar anggapan PT Lapindo Brantas kurang menerapkan etika dalam berbisnis, pertama PT Lapindo Brantas diduga dengan sengaja “menghemat” biaya operasional dengan tidak memasang casing sampai melebihi batas titik pengeboran untuk menghemat biaya operasional sehingga memunculkan adanya semburan lumpur panas. Kedua, PT Lapindo Brantas hanya memberikan ganti rugi pada sebagian korban dan belum seluruhnya. Ketiga, PT Lapindo Brantas melanggar etika secara hukum karena mereka memanfaatkan jabatan yang dimiliki Aburizal Bakrie sebagai Mekokesra untuk membuat kebijakan yang menguntungkan PT Lapindo brantas yaitu dengan dikeluarkannya pasal 18 UU APBN-P2012. Keempat, PT Lapindo Brantas tidak mengakui kesalahannya tetapi justru menyalahkan gempa jogja yang menyebabkan semburan lumpur Lapindo. 

Background topic: 
Banjir lumpur panas Sidoarjo/ lumpur Lapindo/ lumpur Sidoarjo adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur sejak tanggal 29 Mei 2006. Adapun penyebab terjadinya adalah karena kegiatan PT Lapindo Brantas di dekat lokasi itu. Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal Maret 2006 dengan menggunakan perusahaan kontraktor pengeboran PT Medici Citra Nusantara. Kontrak tersebut diperoleh Medici atas nama Alton International Indonesia, Januari 2006 setelah menang tender pengeboran dari Lapindo senilai US$ 24 Juta. 

Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut akan dipasang selubung bor (casing) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan kedalaman untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam formasi) dan kick (masuknya fluida formasi ke dalam sumur). Sebelum pengeboran menembus formasi Kujung. Pada awalnya Lapindo memang sudah memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki. 

Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka belum memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki). Diperkirakan sejak awal Lapindo membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka berasumsi bahwa zona pengeboran mereka di zona Rembang dengan target formasi Kujung padahal sebenarnya mereka mengebor di zona Kendeng yang tidak memiliki formasi Kujung. Oleh karena itu mereka merencanakan pemasangan casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak memasang casing karena proses pengeboran masing berlangsung. Dan selama pengeboran ini pula lumpur bertekanan tinggi dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpurnya Lapindo.

DAMPAK SEMBURAN
1. Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan 1873 orang tenaga kerja
2. Empat kantor pemerintahan juga tidak berfugsi, dan para pegawai juga terancam tak bekerja
3. Rusaknya sarana pendidikan (SD,SMP), markas koramil porong, serta rusaknya infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)
4. Lahan dan ternak juga rusak, yaitu laan tebu seluas 25,61Ha, lahan padi selas 172,39Ha, .605 ekor unggas, dll.
5. Rumah rusak 1.683 unit.
6. Menurut data dari BAPENAS, total kerugian mencapai Rp. 274 Triliun.

AKHIR KASUS LAPINDO BRANTAS 
Pada November 2007, 
1. Pengadilan Jakarta Selatan menolak gugatan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) terhadap pihak-pihak yang dinilai bertanggungjawab atas menyemburnya lumpur panas. Hakim menyatakan munculnya lumpur akibat fenomena alam. 
2. Pengadilan Jakarta Pusat menolak gugatan korban yang diajukan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum indoneia). Hakim beralasan, Lapindo sudah mengeluarkan banyak dana untuk mengatasi semburan lumur dan membangun tanggul. 
3. Akhirnya dikeluarkan Pasal 18 UU APBN-P 2012, yang mengakibatkan negara justru membiayai sebagian dari kewajiban TPT Lapindo Brantas. Sehingga negara membayar ganti rugi kasus Lapindo Brantas dari dana APBN/Pajak. Adapun hal tersebut tidak adil, karena lumpur lapido berantas merupakan kesalahan dan kelalaian dari perusahaan, tapi justru negara yang menalangi kesalahan korporasi. Padahal uang negara seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan bukan untuk membayar kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh suatu perusahaan tertentu.

ANALISIS MENGGUNAKAN TEORI ETIKA DEONTOLOGI 
Teori deontologi mengatakan bahwa suatu perbuatan yang dianggap baik dari segi hukum belum tentu baik dari segi etika. Suatu perbuatan dianggap baik dimata hukum ketika perbuatan tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku. Jadi, menurut teori ini, perusahaan melakukan suatu kebaikan bukan karena kesadaran, tapi karena kewajiban. 

Analisis teori deontologi terhadap kasus PT Lapindo Brantas, menurut Peraturan presiden nomor 14 tahun 2007 pihak PT Lapindo Brantas bertanggung jawab membeli tanah dan bantuan masyarakat yang terkena dampak luapan lumpur Lapindo. Sesuai ketentuan ganti rugi PT Lapindo Brantas bertanggung jawab memberikan ganti rugi terhadap warga dalam peta terdampak dan pemerintah bertanggungjawab memberikan ganti rugi diluar peta terdampak. Namun faktanya warga dalam peta terdampak belum seluruhnya menerima ganti rugi, Lapindo masih menanggung kewajiban sebesar 1,1 Triliun. Sehingga pemerintah harus bisa mendesak perusahaan tersebut untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. 

Menurut pasal 18 UU APBN tahun 2012 yang mengakibatkan negara justru membiayai sebagian dari kewajiban TPT Lapindo Brantas. Sehingga negara membayar ganti rugi kasus Lapindo Brantas dari dana APBN/Pajak. Dalam undang-undang ini juga dijelaskan bahwa bantuan pemerintah etap dikelola oleh badan penanggulangan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Anggaran tersebut digunakan untuk pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan diluar peta area bencana yaitu 3 lokasi, antara lain Desa Besuki, Desa Kedungcangkring dan Desa Pejarakan. Anggaran darinegara juga diperbolehkan untuk mengontrakrumah bagi korban, bantuan tunjangan hidup, biaya evakuasi dan pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan diluar area bencana. Belanja ini hanya diperbolehkan pada 9 RT di kelurahan Siring, Jatirejo, dan Mindi. Intinya ganti rugi yang ditanggung pemerintah melalui APBN sudah jelas tetapi yang menjadi tanggung jawab Lapindo sendiri belum tuntas pelunasannya. 

Kritik lain terhadap proses penanganan lumpur Lapindo, masyarakat adalah korban yang dirugikan, kerana mereka harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian tanpa ada kompensasi yang layak. Pemerintah juga menawarkan solusi yang justru menimbulkan masalah baru, salah satunya bahwa wacana lumpur akan dibuang kelaut karena tindakan tersebut justru berpotensi merusak lingkungan disekitar muara. PT Lapindo Brantas lebih sering mengingkari perjanjian yang telah disepakati bersama dengan korban. Korban menerangkan kepada komnas HAM bahwa korban diminta menandatangani kuitansi lunas oleh PT Lapindo padahal pembayarannya diangsur belum lunas hingga sekarang.

Sumber: berbagai sumber
-Read More
• • •