Budaya Jelek : MENCACAT (MENYACAT)


Yuk bahas sebentar mengenai budaya jelek yang pasti ada di sekitar kita!
Mencacat (menyacat)/ mencela: adalah tindakan mencari kejelekan orang lain; men’cacat’ bukan men’catat’; memperjelas sebuah buruk dari orang/benda lain; menyalahkan suatu hal; dan lain lain yang mendefinisikan apa itu MENCACAT
Budaya ini sangat disepelekan dan hampir tidak disadari dapat merusak moral bangsa.

Dampak tercacat: sakit hati kronis, tekanan darah tinggi, hipertensi, stress

Dampak pencacat: tinggi hati, perfeksionis, dijauhi orang Bedakan MENCACAT dengan:

Gosip: membicarakan orang lain, bisa baik atau buruk. Atau disebut ghibah

Kritik: memperbaiki suatu hal dengan memperlihatkan kekurangan yang harus diperbaiki

Mencocot: nama lain kasarnya dari ngomong pake mulut, senjata adu mulut :D

Mencacat (nyacat) terkadang sudah menjadi hobi seseorang dan bisa dilakukan dalam alam bawah sadar. Karena sudah menjadi hobi dan habit, maka orang yang suka mencacat tidak menyadari apa yang telah dia lakukan. Kalau perlu kita sadarkan mereka dengan ciuman di pipi pakai tangan (baca: tabok)

Pasti ada orang-orang disekeliling kita yang kerjaannya nyacat, dan parahnya kalau nyacat itu udah KELEWATAN plus nggak ada yang mau negur itu orang. Keadaan ini seringkali disebabkan oleh rasa perfeksionis yang terlalu tinggi, atau merasa diri sendiri yang paling baik (istilahnya: ujub) sehingga orang lain dianggap tidak mampu menyaingi mereka. Nyacat juga dilakukan para pejabat untuk menjatuhkan pejabat lainnya, dan berlaku untuk semua kasus cacat mencacat lain. Pokoknya orang lain pasti tidak ada yang boleh tampil bagus.

Parahnya, mencacat biasanya diiringi tindakan menyombongkan diri tanpa ngaca dirinya sendiri seperti apa.

Budaya mencacat sendiri bisa tumbuh dari lingkungan hidup, dimana keluarga ataupun orang-orang terdekat mereka terbiasa mencacat sehingga secara tidak langsung ikut menciptakan habit. Budaya ini amat sangat super banget nggak baik. Pertama, karena pada dasarnya manusia punya kebebasan menunjukkan dirinya (jati diri). Kedua, karena orang nggak ada yang sempurna jadi biarkan Tuhan yang menilai. Ketiga, nyakitin hati.

Secara pribadi, aku mencoba menjadi pribadi yang baik dengan menekan budaya-budaya sosial yang buruk, salah satunya nyacat. Kejadian yang mengubahku jadi mawas diri ketika waktu terus berlalu dan membagikan pelajarannya, pengamatan sebab-akibat kenapa ada orang yang disukai dan dibenci. Termasuk pada akhirnya menyesal karena masa lalu yang pernah dilakukan itu mempermalukan diri sendiri, dan tobat. Ingin merubah diri menjadi lebih baik.. (sambil nyetel lagu nasyid buat sountrack). Kemudian dari sana aku melihat sekeliling yang terdiri dari berbagai jenis dan mahluk bertabiat berbeda dengan kekurangan dan kelebihan mereka. Mencontoh yang tauladan dan mengkritik diri apakah kekurangan orang lain juga kita miliki.

Aku mulai berpikir saat ingin nyacat orang lain (walaupun pada dasarnya jarang nyacat). Mencoba lebih banyak menebarkan humor agar orang lain bisa tertawa, dan berdiam diri saat ada orang lain mulai serita nyacat-mencacat. Bahkan saat dirumah, jika ada keluarga yang sedang nyacat secara nggak sengaja aku mencoba mengingatkan. Pokoknya jadi orang yang lebih baik pada intinya :lol: . Pada intinya mencoba tidak mencela orang lain itu sulit, apalagi sebagai manusia kita banyak khilafnya jadi kadang mulut ini tidak bisa direm sehingga menyakiti orang lain.

But, overall bedakan mencacat dengan mengejek. Untuk mengejek dan berbicara ketus, aku masih melakukannya karena menurutku bukan bertujuan untuk mencari kesalahan orang. Berbicara sinis juga bukan mencacat, tapi mencacat biasanya sinis. 

Contohnya nyacat sebagai berikut :
“Eh tau nggak, dia beli baju baru mirip punyaku tapi warnanya norak gitu. Nggak cocok banget apalagi dia kan kulitnya item.

“Barang ini kenapa nggak rapi jahitannya padahal harganya mahal. Yang jual nggak niat jualan.

Aku sendiri merasa sulit untuk menyadarkan jika ada temanku yang mulai nyacat karena takut menyinggung perasaannya. Bahkan terkadang yang terjadi teman itu mencacat temannya yang suka mencacat, ironis sekali. So, aku biarkan hidup ini berputar dan biarkan orang lain yang bisa menyadarkan mereka.

Itulah sekilas tentang mencacat. Setidaknya kita tau apakah kita adalah seorang pencacat, yang menurutku adalah seorang penyandang cacat sosial. Jangan berlebihan menilai orang lain dengan menciptakan keburukan mereka dimata orang lain, semua itu dosa. Asek!

Hal-hal kecil yang tak sengaja kita ucapkan terhadap penampilan suatu hal terkadang tidak kita sadari itu adalah mencacat. Sebuah kata yang menurut kita kritik, terkadang juga mencacat. Jadi, memang benar pepatah mengatakan ‘mulutmu harimaumu’. Pujian memang sulit dilontarkan, dan aku salut terhadap teman-temanku yang mudah memuji orang karena aku masih sulit memuji. Semoga kita sebagai manusia memang diciptakan tidak ada yang sempurna, tapi setidaknya kita mencoba untuk sempurna tanpa mencacat usaha orang lain untuk menjadi sempurna ;)
• • •

0 comment:

Posting Komentar

Kindly write your comment