Ciri-ciri Beragama

Dalam beragama, banyak sekali  cara setiap manusia dalam menunaikannya. Hal tersebut tidak dapat terlepas dari kemampuan manusia tersebut dalam menguasai agama. Agama di dunia ini dianggap sebagai pegangan dalam hidup dan di dalamnya terdapat aturan-aturan serta ajaran yang tentu saja harus ditaati oleh pemeluknya. Menurut Carl Gustav Jung, agama juga berperan menghubungkan manusia dengan pengalaman kolektif umat manusia dan dengan demikian agama merupakan perangkat sejati yang dapat dipergunakan manusia untuk mencapai nilai-nilai yang mengatasi dirinya (Robert W Crapps, Gaya Hidup Beragama, 1993). Dari pemikiran Carl Gustav Jung dapat disimpulkan jika agama dibutuhkan juga oleh manusia dalam hablum-minannas dengan penerapannya menurut tiap individu yang juga berbeda.
Di sini akan dibahas tiga perbedaan cara beragama yang dibedakan menjadi cara beragama orang awam, intelektual, serta para wali. Klasifikasi ini didasari oleh pengetahuan dan cara mereka melaksanakan isi dari ibadah sendiri.

 
· Identifikasi ciri-ciri beragama orang awam:
       Orang awam dalam kontekas agama Islam adalah orang yang masih mengerjakan ibadah agama secara pemula, atau belum sepenuhnya mengerti islam. Seperti halnya anak-anak yang belum banyak tahu, orang awam dalam beragama kebanyakan menerima apa saja yang dikatakan oleh pihak pemuka agama dan mematuhi apa yang diajarkan oleh mereka. Padahal belum tentu semua yang diajarkan oleh para pemuka agama tersebut telah sesuai dengan syariat agama Islam.
       Orang awam dikarenakan ketidaktahuan tentang ilmu-ilmu yang ada. Mereka ketika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan tentang agama, mereka tidak tahu dengan Al Quran serta hadist yang esensinya dapat memecahkan pertanyaan tersebut sehingga mereka membutuhkan orang lain yang seperti pemuka agama yang dapat mengerti lebih tentang Al Quran dan hadist dalam usaha membantu mereka dalam beragama. Kesadaran orang awam terhadap diri mereka sendiri yang belum bisa beragama secara baik dan benar secara tidak langsung memunculkan sikap pasrah, taat, dan patuh terhadap aturan-aturan dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam keagamaan. Hal inilah yang apabila salah digunakan dapat menjorokkan orang awam ke jalan yang salah dalam beragama.
  
· Identifikasi ciri-ciri beragama intelektual
Kaum intelektual dalam beragama masih menggunakan pemikiran-pemikiran yang bersifat rasional. Pada dasarnya hal tersebut dapat meningkatkan kepercayaan akan adanya Tuhan dan segala penciptaan yang telah dijelaskan dalam Al Quran. Para intelektual menangapi dinamika-dinamika yang ada dalam kehidupan merupakan kehendak Tuhan dan ada aturan-aturan dalam pembuatannya. Pengetahuan yang mereka miliki digunakan untuk mencari informasi dan ilmu agama sehingga dapat diperoleh keabsahan. Berbeda dengan kaum awam, para intelektual akan memproses dulu apa yang disampaikan para pemuka agama dan menggunakan pemikiran mereka untuk menelaah Al Quran dan hadist sehingga tidak ada kepasrahan seperti halnya orang awam dalam menerima ssbuah ajaran Islam.
Banyak intelektual yang salah dalam menggunakan kepintarannya untuk menerapkan pembelajaran tentang agama jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat. Ketika ilmu pengetahuan membius para intelektual, maka tidak sedikit mereka menganggap jika Tuhan itu tidak ada karena semuanya mempunyai asal-muasal seolah-olah Tuhan tidak turun tangan dalam penciptaan semua yang ada di bumi ini. Oleh karena itulah kaumintelektual harus dilandasi dengan iman juga. Dinamika yang ada dalam kehidupan harusnya menjadi sesuatu yang memang ada diciptakan oleh Tuhan dan ada hubungan-hubungan tertentu yang tidak bisa begitu saja terpecahkan oleh ilmu pengetahuan umum semata tanpa pengetahuan agama.
 
· Identifikasi ciri-ciri beragama para wali
Cara beragama para wali cenderung pasrah total, mengingat tugas para wali adalah menyebarkan agama Islam. Dengan keteguhan hati yang sangat kuat, para wali sangat mementingkan agamanya daripada semuanya yang mereka punya. Mereka merasa mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dan harus diemban dalam kemajuan agama dan menyadarkan orang-orang akan kebenaran. Ciri beragama para wali adalah kuatnya tekad mereka dalam dakwah dan kerinduan yang besar dari mereka terhadap Tuhannya. Dalam ibadahnya, para wali sangat khusyu dan sangat menjaga setiap perbuatan. Cara beragama inilah yang patut dicontoh tetapi kurang sesuai dengan jaman globalisasi sekarang. Di jaman sekarang bukan hanya dibutuhkan agama saja yang kuat, tetapi juga pengetahuan yang menyokong. Hidup para wali selalu digunakan untuk kepentingan agama.

· Identifikassi beragama diri sendiri
Identifikasi cara beragama saya cenderung pada cara beragama intelektual. Bukan hanya menerima jadi dan menurut saja pada pemuka-pemuka agama, tetapi juga mencoba mencari jalan terbaik melalui Al Quran dan hadist sehingga ajaran-ajaran yang diajarkan pemuka agama memang sah dan beraturan. Hal tersebut dilandasi dengan banyaknya pemuka agama yang mengaku-ngaku telah pandai dalam agama tetapi mereka malah menggunakan jabatan mereka seenaknya sendiri, mereka bisa membuat aturan-aturan yang sekiranya tidak ada dalam hukum islam sendiri sehingga kita harus sangat berhati-hati. Karena pengetahuan adalah jembatan massa depan, alangkah baiknya jika manusia juga menggunakan ilmu pengetahuan dalam beragama. Oleh karena itulah saya mengindentifikasi cara beragama saya dengan cara beragama intelektual.

• • •

0 comment:

Posting Komentar

Kindly write your comment