Dinamika Anak Jalanan

Anak jalanan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, tetapi juga masih ada hubungan dengan keluarganya. Fenomena masalah anak jalanan bukan lagi menjadi sesuatu yang baru di Indonesia. Banyak sekali pengaruh yang menyebabkan munculnya anak jalanan seperti kemiskinan, kurangnya partisipasi sekolah, dan disfungsi keluarga. Anak jalanan sendiri disebut masalah sosial karena mereka seharusnya masih mendapat naungan dari orangtua, tetapi mereka telah hidup mandiri di jalanan.
Menjadi anak jalanan bukan hanya sebuah pilihan, tetapi juga ada yang berupa paksaan dari pihak tertentu. Sama dengan halnya anak-anak lain, anak jalanan ingin mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya dan menjalani  kehidupan yang biasa seperti sekolah dan bermain dengan banyak teman. Keterbatasanlah yang membuat mereka harus mencari sumber kehidupan di jalanan sehingga dibutuhkan layanan-layanan sosial yang mendorong mereka untuk bangkit dari keterpurukan.
Menjadi anak jalanan merupakan pilihan yang daimbil beberapa anak untuk sebuah kesenangan atau pelarian dari masalah yang mereka miliki. Keadaan ini juga dapat membuat disfungsi anak. Cara pandang yang mereka miliki harus segera diubah demi kebaikan mereka sendiri. Selain itu untuk masalah seperti ini selain harus diadakan pembimbingan juga harus ada pemberian ketrampilan dan penjelasan pada keluarganya untuk menjaga anak-anak tersebut serta memperhatikannya.Pemerintah telah membuat banyak kebijakan untuk menangani masalah anak jalanan ini, tetapi belum menemukan jalan keluar yang pas dikarenakan ketidak sesusaian kebijakan tersebut. Seperti yang telah diketahui jika pemerintah berkewajiban dalam melindungi hak-hak anak sehingga anak jalanan sendiri menjadi masalah sosial yang harus segera dituntaskan dengan berbagai upaya baik dari pemerintah sendiri maupun bantuan dari sektor swasta.



Orientasi Anak Jalanan
Anak jalanan hidup di jalanan dengan berbagai macam alasan. Banyak diantaranya yang merupakan orientasi pada ekonomi, dan sisanya adalah kesenangan. Orientasi anak jalanan yang mengacu pada masalah ekonomi yang mereka hadapi menjadi paksaan tersendiri sehingga mau tak mau mereka harus turun ke jalanan untuk mencari uang guna bertahan hidup. Hal ini perlu menjadi sorotan dan kewajiban masyarakat untuk peduli ketika anak-anak yang harusnya menerima pendidikan dan naungan dari orangtuanya malah ada di jalanan untuk menyambung hidupnya secara mandiri. Oleh karena itulah harus ada penyediaan layanan, perlindungan, dan pengembangan baru untuk membantu anak jalanan tersebut agar bisa memperbaiki kondisinya. Pelayanan tersebut juga sebaiknya dilakukan mengikuti daur hidup anak. Untuk masalah ekonomi sendiri dapat juga diberikan penyelesaian dengan memberikan bekal kemampuan dan ketrampilan agar mereka menjadi kreatif serta inovatif dalam membuat karya yang bisa dijadikan sebuah produksi.
Ketika pelayanan-pelayanan sosial yang tepat diberikan kepada anak jalanan, dengan cepat pula mereka akan mengubah orientasinya. Sama halnya dengan masalah mereka yang dapat terselesaikan, alasan mereka untuk turun ke jalanan juga akan berkurang. Dengan kesadaran yang tumbuh diantara anak-anak tersebut dapat meningkatkan minat dan mimpi akan masa depan sehingga mereka akan berusaha keras untuk mencapainya. Kebijakan pemerintah dalam memberikan perlindungan anak-anak juga menjadi satu jembatan yang kokoh disokong dengan sektor swasta yang bergerak dalam mengurusi anak-anak. Bantuan yang datang dapat menjadi semangat sendiri untuk anak jaanan dengan melanjutkan hidup di orientasi yang lebih baik. Ketika anak-anak jalanan telah mampu memenuhi kebutuhannya, maka mereka akan merubah tujuan mereka bukan hanya untuk mencari uang, tetapi juga mendapat pendidikan serta kemampuan lain sebagai anak-anak.


A.    Kesempatan Untuk Anak-anak Jalanan
Dalam garis besar, alternatif model penanganan anak jalanan mengarah kepada 4 jenis model yang dapat menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan pelayanan masalah anak-anak:
1.      Street-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di “jalan” dimana anak-anak jalanan biasa beroperasi. Tujuannya agar dapat menjangkau dan melayani anak di lingkungan terdekatnya, yaitu di jalan.
2.       Family-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang difokuskan pada pemberian bantuan sosial atau pemberdayaan keluarga sehingga dapat mencegah anak-anak agar tidak menjadi anak jalanan atau menarik anak jalanan kembali ke keluarganya.
3.      Institutional-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di lembaga (panti), baik secara sementara (menyiapkan reunifikasi dengan keluarganya) maupun permanen (terutama jika anak sudah tidak memiliki orang tua atau kerabat). Pendekatan ini juga mencakup tempat berlindung sementara (drop in), “Rumah Singgah” atau “open house” yang menyediakan fasilitas “panti dan asrama adaptasi” bagi anak jalanan.
4.      Community-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di sebuah komunitas. Melibatkan program-program community development untuk memberdayakan masyarakat atau penguatan kapasitas lembaga-lembaga sosial di masyarakat dengan menjalin networking melalui berbagai institusi baik lembaga pemerintahan maupun lembaga sosial masyarakat. Pendekatan ini juga mencakup Corporate Social Responsibility (tanggungjawab social perusahaan).
Ketelantaran tersebut yang banyak terjadi sebagian besar berasal dari kemiskinan dan pengangguran. Minimnya kesempatan kerja yang ada juga menjadi halangan terbesar khususnya di Indonesia yang penduduknya banyak. Tetapi bukan hanya kesempatan kerja yang dibutuhkan untuk menanggulangi ketelantaran ini. Untuk menanggulangi masalah anak jalanan sendiri bukan menjadi jawaban ketika pemerintah hanya menyediakan lapangan kerja. Penyelesaian yang utama mengingat kasus yang sedang ditangani adalah anak-anak, maka hal terpenting adalah kesempatan dalam mencapai pendidikan. Minimnya fasilitas bagi anak-anak yang kurang mampu tidak bisa sebaik anak-anak yang lainnya meskipun telah dibuat wajib belajar 9 tahun di Indonesia. Kesempatan inilah yang perlu diadakan sehingga hak-hak yang didapatkan anak-anak tersebut tidak terbatas lagi.
Kemampuan anak-anak jalanan harus ditingkatkan untuk usaha dalam menuntaskan kebutuhan ekonomi mereka. Ketika anak-anak tersebut turun ke jalan dan mencari uang, maka harus diadakan sebuah kesempatan untuk mereka dalam mencari uang. Panyelesaian yang dapat diambil adalah pemberian ketrampilan dan penyediaan tempat untuk mendistribusikannya. Tetapi tetap saja  yang utama adalah penyediaan kesempatan dibidang pendidikan.

B.     Adaptasi anak jalanan terhadap kesempatan-kesempatan baru
Dorongan yang harus dilakukan kepada anak-anak jalanan agar mereka bisa beradaptasi dengan kesempatan-kesempatan yang baru adalah penjelasan individual kepada anak-anak tersebut akan pentingnya pendidikan dan hak-hak mereka sebagai anak. Dorongan terkuat adalah untuk menggapai mimpi-mimpi mereka. Selain dorongan psikis, juga harus diiringi dengan dorongan fisik seperti pemberian fasilitas-fasilitas yang membuat mereka percaya diri dan semakin semangat dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.
Dengan adanya pandangan terhadap massa depan, maka anak-anak jalanan dapat berubah orientasinya untuk melakukan kegiatan seprti halnya anak-anak lain dan merubah pandangan mereka jika hidup di jalanan adalah satu-satunya penyelesaian masalah. Bimbingan pertama kali harus dilakukan agar pendekatan ke setiap anak berjalan optimal. Masih banyak kasus dimana anak-anak jalanan yang diberikan bimbingan tetapi di tengah jalan mereka tidak melanjutkannya karena metode pelayanan yang salah. Mereka kembali ke jalanan karena penyadarannya hanya bersifat sementara. Hal itulah yang harus diperbaiki dalam menyelesaikan masalah sosial ini. Dorongan yang mereka butuhkan sesungguhnya bimbingan mental dan fisik untuk tumbuh menjadi kuat dan bertanggungjawab.
• • •

0 comment:

Posting Komentar

Kindly write your comment